Konten dari Pengguna

Kejar Jabatan Nonakademik, Wajarkah Jika Tugas Kuliah Terbengkalai?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deandra Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sekelompok orang sedang berdiskusi. Kejar Jabatan Nonakademik, Wajarkah Jika Tugas Kuliah Terbengkalai? (Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekelompok orang sedang berdiskusi. Kejar Jabatan Nonakademik, Wajarkah Jika Tugas Kuliah Terbengkalai? (Unsplash)

Pernahkah Anda terpukau melihat seorang mahasiswa yang aktif dalam bidang nonakademik dengan jabatan yang tinggi? Jika iya, Anda tidak sendirian. Zaman sekarang, mahasiswa yang aktif di bidang nonakademik memang terlihat keren bagi banyak orang. Tak jarang, mereka dianggap sebagai mahasiswa yang menginspirasi karena dapat memangku jabatan tinggi di tengah sibuknya perkuliahan.

Padahal, kenyataan tidak seindah itu. Tak semua pemangku jabatan di bidang nonakademik berhasil menyeimbangkan kewajibannya dalam bidang akademik. Masih ada yang terlalu sibuk dengan jabatannya, sehingga tugasnya terbengkalai. Mereka rela membayar jasa joki tugas atau hilang bak ditelan bumi ketika ada tugas kelompok.

Memang, tiap orang memiliki tujuan masing-masing. Ada yang memilih fokus di bidang akademik, ada juga yang memilih fokus di bidang nonakademik. Namun, apakah menjadi suatu hal yang wajar ketika kita meninggalkan kewajiban utama untuk menjadi seorang mahasiswa dalam bidang akademik?

Pentingnya Manajemen Waktu

Setiap mahasiswa yang aktif dalam organisasi dituntut untuk mampu mengatur dan mengendalikan waktu yang dimiliki untuk menghadapi tugas-tugas kuliah atau kegiatan-kegiatan dalam organisasi yang diikuti. Namun, kedisiplinan dalam manajemen waktu tersebut terkadang diabaikan. (Caesari & Listiara, 2013)

Manajemen waktu merupakan hal yang dapat berhubungan dengan prestasi akademik. Manajemen waktu yang baik akan memiliki perencanaan dan skala prioritas sehingga keterampilan manajemen waktu dalam melaksanakan kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik. Selain itu, tidak efisiennya penggunaan waktu, kurangnya kontrol atas tuntutan waktu dan jumlah waktu yang tidak memadai ternyata memiliki dampak negatif pada psikologis individu (Dzil & Harta, 2012)

Maka, perilaku manajemen waktu akan berperan dalam meningkatkan produktivitas. Faktanya, realisasi kebutuhan untuk mengelola waktu memungkinkan sebuah perbaikan dalam perilaku manajemen waktu. Keterampilan dalam manajemen waktu juga berhubungan dengan prestasi akademik.

Kita memang tidak perlu mendapatkan hasil yang sempurna dalam bidang akademik dan nonakademik. Namun, setidaknya kita dapat menjalankan kewajiban dalam kedua bidang tersebut. Manajemen waktu adalah suatu hal yang dapat membantu kita untuk menjalankan kewajiban ketika menjalankan kedua hal tersebut.

Tak Ada Alasan yang Mendukung

Menjadi pengurus di suatu bidang nonakademik memang memiliki dampak yang baik bagi perkembangan diri. Apalagi, jika kita berhasil mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Kemampuan kepemimpinan kita juga turut diuji dalam hal tersebut. Namun, tak ada alasan yang mendukung agar kita menjadi lalai dalam tugas perkuliahan.

Apalagi, jika terlalu sibuk dalam bidang nonakademik dan merugikan orang lain yang berhubungan dengan kita di bidang akademik. Contohnya adalah ketika terdapat tugas kelompok. Tak jarang, oknum yang sibuk di luar sana membuat teman kelompoknya perlu mengeluarkan tenaga yang lebih untuk mengerjakan bagian oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Terlalu sibuk di bidang nonkademik juga membuat minimnya kontribusi dalam bidang akademik, seperti diskusi tugas, diskusi kelompok, dan lainnya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka semakin banyak mahasiswa yang gagal dalam hal manajemen waktu.

Selain itu, rasa tanggung jawab dari dalam diri pun semakin berkurang. Menjadi seorang penerus bangsa yang cerdas tidak hanya memerlukan jabatan atau banyak pengalaman di bidang nonakademik. Rasa tanggung jawab, keseimbangan dalam manajemen waktu, dan empati juga diperlukan untuk menjadi seorang penerus bangsa yang cerdas dan berkualitas.

Kesibukan ketika menjadi pengurus atau pemimpin di sebuah organisasi atau kegiatan lain di luar perkuliahan bukan menjadi alasan agar kita lalai dalam tugas kuliah. Hal tersebut karena pada dasarnya, semua orang memiliki kesibukannya masing-masing. Semua ini memang tergantung pengelolaan manajemen diri dan manajemen waktu yang kita miliki.

Maka, apakah kamu ingin menjadi sosok penerus bangsa yang cerdas dan berkualitas? Jika iya, mari kerjakan semua tanggung jawabmu dengan baik. Lari dari suatu tanggung jawab bukan hal yang pantas untuk dilakukan.

Aktif dalam bidang nonakademik? Yes. Aktif dalam bidang nonakademik, tetapi lalai dalam tanggung jawab kuliah? No. Aktif dalam bidang nonakademik dan tetap tanggung jawab dalam bidang perkuliahan? Perfect.