Konten dari Pengguna

Kunci Menjadi Mahasiswa Berprestasi dan Aktif

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deandra Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Dhea Oesman
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dhea Oesman

Pertama kali melihat dunia pada 20 September di Kota Batam, wanita kelahiran 1999 ini tumbuh menjadi sosok yang berprestasi. Memiliki hobi menonton series, mendengarkan musik, mengedit video, dan bermain dengan kucing bukan alasannya untuk meninggalkan kewajibannya sebagai mahasiswa.

Wanita berumur 21 tahun ini bernama Dhea Oesman, sosok yang berhasil meraih predikat mahasiswa berprestasi atau yang biasa disebut mawapres di fakultasnya. Dhea merupakan mahasiswa program studi Hubungan masyarakat di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Universitas Padjadjaran. Pada Februari 2021, ia berhasil menjadi Mawapres Fikom jenjang sarjana.

Menjadi mawapres ternyata bukan niat Dhea sedari dulu sejak awal masuk kuliah. Ia ingin menjadi mawapres sejak semester tiga, tepatnya ketika melihat baliho mawapres yang memakai jaket himpunan jurusannya. Melihat baliho tersebut, menjadi titik awal perjuangan Dhea agar dapat menjadi salah satu bagian dari orang yang ada dalam baliho.

“Aku akhirnya pengen nyoba, eh pas nyoba ternyata proses seleksinya bukan cuman coba-coba,” ujar Dhea.

Bermula dengan mengikuti seleksi di tahap program studinya, Dhea pun diberikan berbagai pertanyaan, contohnya visi misi hidup. Setelah mengikuti tahap pertama, ia merasa pasrah akan hasilnya. Hal ini disebabkan wawancara dilakukan dengan bahasa Inggris yang membuatnya semakin gugup.

Waktu berlalu, Dhea mendapatkan pengumuman jika ia lolos ke tahap selanjutnya. Ia mengikuti workshop selama tiga hari. Workshop itu mengajarkan cara membuat karya tulis ilmiah, summary, poster, dan video kreatif. Menurut Dhea, workshop tersebut sangat seru karena dapat menambah pengetahuannya.

Setelah itu, Dhea mendapat kabar jika ia perlu membuat sebuah gagasan kreatif yang harus dipresentasikan di esok harinya. Kabar tersebut cukup membuatnya terkejut. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat tema pelatihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Berjuang bersama 30 kandidat lain untuk mendapatkan gelar Mawapres Fikom, Dhea bertemu sekitar delapan orang dosen penguji yang melontarkan berbagai pertanyaan kepadanya. Perjuangannya pun berlanjut, ia dinyatakan lolos menjadi enam besar. Gagasan kreatif yang telah dibuatnya harus dibuat menjadi karya tulis ilmiah sesuai struktur yang ada. Berbuah manis, akhirnya Dhea terpilih menjadi Mawapres Fikom.

Pengalamannya menjadi mawapres membuatnya senang karena dapat berinteraksi dengan dosen. Dhea mengaku senang jika hal yang ia buat mendapat kritik, apalagi oleh dosen yang mempunyai pengalaman yang lebih banyak. Meskipun ada beberapa dosen penguji yang keras, ia tetap mengambil sisi positifnya saja, yaitu dapat pencerahan dan saran.

Berprestasi dan aktif adalah kata yang cocok untuk wanita yang satu ini. Dhea bukan sosok kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Ia juga mengikuti kegiatan unit kegiatan mahasiswa (UKM), yaitu Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF). Tak hanya itu, ia juga bekerja sebagai voice over freelancer.

Menyadari kegiatannya yang tidak sedikit, membagi waktu adalah hal penting menurutnya. Di pagi sampai sore hari sekitar pukul 15.00 WIB, Dhea menggunakan waktunya untuk kuliah. Setelah itu, ia istirahat sejenak dan mengerjakan tugas-tugasnya pada sore hari.

Kala malam hari, ia biasanya mengikuti rapat GSSTF sekitar pukul 19.00 - 22.00 WIB. Istirahat sejenak pun dilakukan lagi untuk mengumpulkan energinya. Ternyata, Dhea merupakan seseorang yang senang begadang. Maka tidak jarang ia mengerjakan projek voice over hingga pukul 01.00 WIB dini hari. Setelah itu, barulah ia beranjak untuk tidur.

Menurutnya, menjadi mawapres perlu memiliki keseimbangan dalam tiga hal, yaitu nilai akademik, organisasi, dan lomba. Untuk persoalan kepercayaan diri, menurut Dhea itu dapat tumbuh seiring dengan berjalannya proses seleksi.

“All about time management, gimana cara kamu ngatur organisasi, kuliah lancar, lomba juga menang,” tutup Dhea.