Penanganan Isu Lingkungan oleh WALHI Menggunakan Jurnalisme Sains

Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Padjadjaran yang masih lontang-lanting nyari passion.
Tulisan dari Deantama Dzikrika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang yang hidup di salah satu lapisan masyarakat, membiarkan sampah berserakan itu bukanlah hal yang begitu penting. Rasanya hal tersebut tidak akan begitu berdampak besar di hidup mereka. Namun, setelah terjadinya pencemaran tanah dan banjir, mereka tidak tanggung-tanggung menyalahkan semuanya, termasuk pemerintah.
Tidak hanya tentang membuang sampah sembarangan saja hal sekecil penggunaan listrik berlebihan, cara berpergian, dan pembuatan makanan saja cukup berpengaruh pada emisi gas rumah kaca. Secara tak sadar, sebenarnya apa yang kita perbuat secara berlebihan itu berpengaruh pada perubahan iklim (climate change) di dunia ini. Singkatnya apabila kita tidak mengurus itu semua secepat mungkin, pemanasan global yang mengancam dunia ini akan terus merajalela.
Salah satu masalah yang hadir dalam mengurus isu lingkungan yang terus mengancam bumi ini adalah masih ada orang-orang yang sadar akan kerusakan yang terjadi di hari yang akan datang. Maka dari itu, tantangan untuk mengedukasi orang-orang agar sadar atau tanggap akan isu lingkungan itu seakan-akan harus cepat diselesaikan. Beruntungnya tantangan yang sudah ada sedari dahulu itu mulai terpecahkan dengan kehadiran Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
Siapa itu WALHI?
Melansir dari laman resmi WALHI, pertama kali kemunculan organisasi ini berasal dari keinginan Emil Salim yang merasa bahwa dirinya harus mendalami tentang lingkungan. Dirinya sadar bahwa “lingkungan” ini merupakan suatu hal yang baru populer di Indonesia. Emil mengaku ingin terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat Indonesia agar segala persoalan lingkungan di masyarakat bisa diketahui dan dicarikan solusinya oleh masyarakat.
Sekarang, WALHI menjadi sebuah organisasi yang bergerak di lingkungan hidup terbesar di Indonesia, jumlah total anggotanya ada sebanyak 487 organisasi dari unsur organisasi pecinta alam dan juga organisasi non pemerintah; lalu ada 203 anggota individu yang tersebar di 28 provinsi. Sedari mula berdirinya pada tahun 1980, WALHI aktif memberikan bantuan penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup yang terdapat di Indonesia. Yang diperjuangkan oleh WALHI itu sendiri adalah agar terus mendorong terwujudnya pengakuan hak atas lingkungan hidup, dilindungi, serta dipenuhinya hak asasi manusia (HAM) sebagai bentuk tanggung jawab negara atas pembunuhan berbagai sumber kehidupan rakyat.
Hari makin hari, organisasi ini mulai menyadari bahwa mereka semakin dihadapkan dengan tantangan yang semakin berat. Hal yang cukup menantang dalam perkembangan WALHI ini adalah adanya penetrasi dari rezim kapitalisme yang menempatkan rakyat, lingkungan hidup, dan sumber daya kehidupan rakyat sebagai tumbal akumulasi kapital. Meski begitu, di lain sisi juga dibutuhkannya gerakan sosial yang kuat dan luas untuk memperjuangkan keadilan ekonomi, sosial, dan ekologis untuk generasi sekarang dan mendatang. Dengan begitu, WALHI memastikan diri menjadi salah satu bagian utama dari gerakan itu.
Apa Peran WALHI?
Sebuah acara Talkshow Parade Jurnalistik 2022, membawakan seorang narasumber Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat (Jabar), Meiki Welmy Paendong. Membawakan tema “Encouraging the Society to Understand Climate Matters Through Science Journalism”, acara ini berhasil membicarakan perihal isu lingkungan yang mengancam kesehatan bumi.
Informasi yang tidak merata perihal isu lingkungan di berbagai lapisan masyarakat membuat diperlukannya lagi berbagai edukasi yang lebih meluas. WALHI menjadi salah satu organisasi yang hadir dan mencoba memberikan edukasi kepada mereka yang kurang edukasi perihal isu lingkungan dengan pemaparan menggunakan media digital. Menggunakan prinsip jurnalisme, WALHI bersama para jurnalisnya mencoba mengemas berbagai produk jurnalistik agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat.
“(Kami) Membuat kolaborasi liputan atau kolaborasi yang sifatnya materi kampanye kami. Baik itu tulisan maupun produk jurnalisme visual, seperti foto atau video. Jadi kami berkolaborasi dengan kawan-kawan jurnalis dengan lembaga atau dengan individu. Kami mengajak mereka untuk mau meliput isu yang kami garap. Contoh konkretnya isu batu bara dan isu sampah,” Jelas Meiki ketika sesi talkshow.
Namun, karena isu lingkungan berhubungan dengan sains, tantangan yang lain pun muncul untuk mengharuskan jurnalis mencari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. “Keterbatasan ilmuwan mengharuskan para jurnalis bisa melengkapi kebutuhan informasi masyarakat dai hasil temuan yang telah diteliti,” ucap Meiki. Meskipun berbagai sumber bertebaran ke sana ke sini di internet, tetap saja jurnalis harus profesional dalam memberikan informasi apalagi dengan tujuan mengedukasi khalayak yang masif.
Dalam pembuatan produk jurnalistik perihal isu lingkungan, tak sedikit terdapat miskonsepsi dalam penyampaian informasinya. Meski begitu, hal tersebut adalah salah satu tanggung jawab yang harus dipegang oleh jurnalis. “Oleh karena itu, jurnalis harus bisa cover both sides tentang inovasi lingkungan yang memiliki dampak kurang baik jika kita tidak cermat,” ucap Meiki. Apabila jurnalis memberikan sedikit kesalahan saja dalam informasinya, dampak yang terjadi bisa saja fatal apalagi berhubungan dengan sains.
