Konten dari Pengguna

Entrok: Luka Perempuan, Agama, dan Kekuasaan dalam Kehidupan Orang Kecil

Dede Aziz Kurniawan

Dede Aziz Kurniawan

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Aziz Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Sampul Novel Entrok Foto: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Sampul Novel Entrok Foto: Pribadi

Identitas Buku

Judul: Entrok

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2010

Jumlah Halaman: 288 halaman

Di antara banyak novel Indonesia yang berbicara tentang cinta, keluarga, atau kehidupan kota, Entrok karya Okky Madasari hadir dengan tema yang jauh lebih tajam perempuan, kemiskinan, kekuasaan, dan ketakutan sosial pada masa Orde Baru. Novel ini tidak menawarkan kisah yang manis atau romantis, tetapi justru memperlihatkan bagaimana hidup rakyat kecil sering kali dipenuhi tekanan yang dianggap biasa.

Judul Entrok terdengar sederhana. Dalam bahasa Jawa, entrok berarti kutang atau bra. Namun di novel ini, entrok bukan sekadar pakaian dalam perempuan. Ia menjadi simbol keinginan, harga diri, kelas sosial, dan mimpi untuk hidup lebih baik.

Cerita berpusat pada Sumarni, perempuan desa miskin yang sejak kecil hidup dalam kekurangan bersama ibunya, Simbok. Keinginan pertamanya hanyalah memiliki entrok seperti perempuan lain. Keinginan yang tampak remeh itu justru menjadi awal perjalanan panjang tentang perjuangan hidup seorang perempuan di tengah kemiskinan dan budaya patriarki.

Namun novel ini sebenarnya tidak hanya bercerita tentang Sumarni. Tokoh Rahayu, anak Sumarni, memiliki posisi yang sangat penting karena melalui dirinya pembaca melihat benturan generasi, agama, dan cara pandang terhadap kehidupan.

Di sinilah Entrok menjadi lebih kompleks dibanding sekadar novel tentang perempuan miskin.

Perempuan Miskin yang Dipaksa Tahu “Tempatnya”

Kehidupan Sumarni sejak kecil penuh dengan kerja keras. Ia mengupas singkong di pasar, membantu ibunya, dan hidup dalam kondisi serba terbatas. Bahkan upah kerjanya sering dibayar dengan makanan, bukan uang. Adegan-adegan kehidupan pasar dalam novel ini terasa sangat hidup karena ditulis dengan detail dan dekat dengan realitas masyarakat kecil.

Yang membuat cerita Sumarni menarik adalah keberaniannya melawan aturan sosial yang dianggap wajar oleh lingkungannya.

Saat perempuan lain menerima pekerjaan domestik atau pekerjaan ringan, Sumarni memilih menjadi kuli angkut di pasar demi mendapatkan uang. Pilihan itu dianggap tidak pantas karena pekerjaan kasar dianggap “jatah laki-laki”. Dalam budaya patriarki desa, perempuan diajarkan untuk menerima keadaan dan tidak melampaui batas sosial yang sudah ditentukan.

Melalui Sumarni, Okky Madasari memperlihatkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal kekurangan materi, tetapi juga soal sempitnya kesempatan untuk menentukan hidup sendiri.

Yang menarik, perlawanan Sumarni bukan perlawanan besar seperti demonstrasi atau pidato politik. Ia melawan dengan bekerja, mencari uang, berdagang, dan mencoba mandiri. Justru karena itulah perjuangannya terasa realistis dan dekat dengan kehidupan perempuan Indonesia pada umumnya.

Novel ini juga menunjukkan bagaimana perempuan sering bekerja lebih berat dibanding laki-laki, tetapi pekerjaannya dianggap biasa saja. Perempuan harus mengurus rumah, mengambil air, memasak, bekerja di pasar, dan tetap dituntut patuh pada norma sosial.

Hal seperti ini sebenarnya masih sangat relevan sampai sekarang. Meski zaman sudah berubah, banyak perempuan modern yang tetap mengalami “beban ganda”: bekerja di luar rumah tetapi tetap dianggap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan domestik.

Rahayu dan Benturan Generasi

Kalau Sumarni adalah simbol perjuangan ekonomi dan perlawanan terhadap budaya patriarki, maka Rahayu adalah simbol perubahan sosial dan agama pada generasi berikutnya.

Rahayu tumbuh berbeda dari ibunya. Ia mendapatkan pendidikan lebih baik dan memiliki pemahaman agama yang lebih formal. Semakin dewasa, ia mulai melihat ibunya sebagai sosok yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.

Di titik ini, hubungan ibu dan anak menjadi konflik paling emosional dalam novel.

Sumarni percaya pada spiritualitas Jawa yang sinkretik. Ia percaya pada doa-doa tradisional dan hubungan manusia dengan alam. Baginya, hidup adalah soal bertahan dan mencari keselamatan. Sementara Rahayu mulai melihat praktik-praktik ibunya sebagai sesuatu yang menyimpang atau tidak benar secara agama.

Yang menarik, Okky Madasari tidak menggambarkan konflik ini secara hitam-putih. Rahayu bukan tokoh jahat, begitu juga Sumarni bukan sosok yang sepenuhnya benar. Keduanya hanyalah manusia yang dibentuk oleh zaman dan lingkungan berbeda.

Melalui konflik mereka, novel ini memperlihatkan bagaimana perubahan sosial dapat menciptakan jarak bahkan dalam keluarga sendiri.

Hubungan Sumarni dan Rahayu terasa sangat relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Hari ini masyarakat semakin religius secara simbolik, tetapi di saat yang sama sering muncul sikap mudah menghakimi orang lain yang berbeda keyakinan atau tradisi.

Di media sosial misalnya, perbedaan cara berpakaian, cara beribadah, bahkan pilihan hidup sering menjadi bahan penghakiman publik. Dalam konteks itu, konflik antara Sumarni dan Rahayu terasa seperti gambaran kecil Indonesia modern.

Kritik terhadap Orde Baru

Semakin jauh cerita berjalan, Entrok berkembang menjadi kritik sosial-politik terhadap rezim Orde Baru.

Novel ini memperlihatkan bagaimana aparat negara hadir sebagai sumber ketakutan bagi rakyat kecil. Tentara, pungutan liar, intimidasi, dan stigma politik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Yang paling menyakitkan, rakyat kecil sering tidak punya pilihan selain patuh.

Okky Madasari berhasil menunjukkan bahwa kekerasan negara tidak selalu hadir dalam bentuk penyiksaan fisik. Kadang kekuasaan bekerja lewat rasa takut yang terus-menerus dipelihara.

Orang takut berbicara. Takut dicurigai. Takut dianggap melawan negara.

Dan seperti banyak terjadi dalam sejarah, perempuan sering menjadi korban paling rentan dari situasi politik represif.

Novel ini penting dibaca generasi sekarang karena banyak anak muda Indonesia yang tidak benar-benar memahami bagaimana suasana sosial pada masa Orde Baru. Mereka hanya mendengar bahwa zaman itu “aman” dan “tertib”, tanpa melihat bahwa stabilitas tersebut sering dibayar dengan pembungkaman dan ketakutan.

Gaya Bahasa yang Sederhana tetapi Kuat

Salah satu kelebihan utama Entrok adalah gaya penulisannya yang sederhana dan mudah dipahami. Okky Madasari tidak memakai bahasa yang terlalu rumit atau puitis berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu membuat cerita terasa lebih nyata.

Dialog-dialog berbahasa Jawa membuat suasana desa terasa hidup tanpa mengganggu pembaca yang bukan orang Jawa. Penggambaran pasar, kemiskinan, pekerjaan buruh, dan kehidupan perempuan desa terasa sangat detail dan autentik.

Novel ini juga berhasil membangun emosi secara perlahan. Banyak bagian yang sunyi tetapi menyakitkan. Pembaca tidak dipaksa menangis, tetapi dibuat memahami betapa berat hidup tokoh-tokohnya.

Kekurangan Novel

Walaupun temanya kuat, Entrok tetap punya beberapa kekurangan.

Ada bagian cerita yang terasa agak lambat, terutama saat menggambarkan kehidupan sehari-hari di pasar. Beberapa bagian juga terasa berulang, jadi bisa bikin sebagian pembaca kehilangan ritme saat membaca.

Selain itu, kritik sosial dan politiknya kadang terasa terlalu jelas. Di beberapa bagian, novel ini jadi seperti penjelasan langsung tentang kondisi sosial, jadi pembaca yang lebih suka pesan yang halus mungkin merasa semuanya terlalu terang-terangan.

Tokoh-tokoh pendukung seperti Simbok dan Teja juga terasa belum digali secara lebih dalam. Padahal, kalau diberi ruang lebih banyak, keduanya sebenarnya bisa menambah warna dan memperkuat cerita.

Tapi secara keseluruhan, kekurangan itu tidak mengurangi kekuatan utama novel ini.

Kesimpulan

Entrok adalah novel tentang perempuan-perempuan yang berusaha bertahan hidup di tengah kemiskinan, patriarki, tekanan sosial, dan kekuasaan negara.

Melalui Sumarni dan Rahayu, Okky Madasari menunjukkan bahwa perubahan zaman tidak selalu membawa manusia saling memahami. Kadang perubahan justru menciptakan jarak antargenerasi, bahkan antara ibu dan anak.

Novel ini juga mengingatkan bahwa persoalan perempuan bukan hanya soal cinta atau rumah tangga, tetapi juga soal ekonomi, tubuh, agama, dan politik.

Yang membuat Entrok tetap relevan hingga sekarang adalah karena masalah yang dibahasnya belum benar-benar selesai. Ketimpangan sosial masih ada. Patriarki masih hidup. Perempuan masih sering diatur tubuh dan pilihan hidupnya. Dan masyarakat masih mudah menghakimi orang yang berbeda cara pandang.

Di tengah era media sosial yang penuh pencitraan religius dan debat identitas, Entrok terasa seperti pengingat bahwa kemanusiaan seharusnya lebih penting daripada sekadar merasa paling benar.

Novel ini cocok dibaca siapa saja yang ingin memahami Indonesia dari sudut pandang rakyat kecil, terutama perempuan yang selama ini sering hanya menjadi pelengkap dalam sejarah besar bangsa.