Konten dari Pengguna

Mengapa Tidak Semua Cinta Ditakdirkan Bersama?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Aziz Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Cinta tidak selalu bersama Gambar: chatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Cinta tidak selalu bersama Gambar: chatGPT

Barangkali tidak ada pertanyaan yang lebih sering muncul setelah seseorang patah hati selain, "Kalau memang saling mencintai, mengapa tidak bisa bersama?"

Kita tumbuh dengan cerita bahwa cinta sejati selalu berakhir bahagia. Film, novel, bahkan lagu-lagu populer sering menggambarkan bahwa akhir terbaik dari sebuah hubungan adalah memiliki orang yang dicintai. Akibatnya, ketika hubungan berakhir, kita menganggap cinta itu gagal. Padahal, benarkah ukuran keberhasilan cinta hanya ditentukan oleh apakah dua orang akhirnya hidup bersama?

Jawabannya tidak selalu demikian.

Cinta sering kali memiliki jalan yang tidak bisa dipaksa oleh keinginan manusia. Ada cinta yang tumbuh dengan indah, tetapi berhenti di persimpangan hidup. Ada cinta yang sangat tulus, tetapi tidak memperoleh kesempatan untuk menjadi rumah. Ada pula cinta yang tetap hidup meskipun dua orang akhirnya memilih jalan masing-masing.

Kita terlalu sering mengukur cinta dari hasil akhirnya, bukan dari bagaimana cinta itu mengubah diri kita.

Psikolog dan filsuf Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving (1956) mengingatkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang datang begitu saja. Cinta adalah kemampuan, seni, dan tindakan yang harus dipelajari. Orang sering sibuk mencari pasangan yang tepat, tetapi lupa belajar menjadi pribadi yang mampu mencintai dengan dewasa.

Pandangan ini mengubah cara kita memahami hubungan. Jika cinta adalah kemampuan, maka keberhasilannya tidak selalu diukur dari apakah seseorang berhasil memiliki orang yang dicintainya. Keberhasilannya justru terlihat dari apakah cinta itu membuat seseorang menjadi lebih matang, lebih bijaksana, lebih bertanggung jawab, dan lebih menghargai kehidupan.

Artinya, seseorang bisa saja gagal mempertahankan hubungan, tetapi berhasil menjadi manusia yang lebih baik karena pengalaman mencintai.

Sayangnya, banyak orang masih menyamakan cinta dengan kepemilikan. Kita mengira bahwa mencintai berarti harus memiliki. Padahal, memiliki adalah persoalan keadaan, sedangkan mencintai adalah persoalan sikap.

Tidak semua orang yang kita cintai memang ditakdirkan tinggal bersama kita.

Pemikiran ini juga sejalan dengan Viktor E. Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946). Frankl menulis berdasarkan pengalaman hidupnya di kamp konsentrasi Nazi. Dalam keadaan kehilangan hampir segala hal, ia menemukan bahwa manusia tetap dapat bertahan karena memiliki makna. Salah satu sumber makna terbesar itu adalah cinta.

Frankl menunjukkan bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik seseorang. Bahkan ketika dipisahkan oleh keadaan, seseorang masih mampu mencintai melalui ingatan, doa, penghormatan, dan makna yang diberikan kepada orang tersebut. Baginya, cinta melampaui sekadar kebersamaan.

Pelajaran itu terasa sederhana tetapi sangat dalam. Kita tidak kehilangan kemampuan mencintai hanya karena kehilangan seseorang.

Justru kadang cinta menemukan bentuknya yang paling dewasa ketika kita mampu berkata, "Aku tetap berharap kamu bahagia, meskipun bukan bersamaku."

Kalimat itu mungkin terdengar menyakitkan. Namun di situlah cinta mulai melepaskan sifat egoisnya.

Di sisi lain, filsuf Alain de Botton melalui bukunya The Course of Love(2016) mengkritik anggapan bahwa cinta adalah soal menemukan "belahan jiwa". Ia menjelaskan bahwa banyak orang jatuh cinta kepada bayangan yang mereka ciptakan sendiri tentang seseorang, bukan kepada manusia yang sesungguhnya. Menurutnya, cinta bukan sekadar perasaan yang meledak di awal pertemuan, melainkan keterampilan yang harus dipelajari sepanjang hidup.

Sering kali kita kecewa bukan karena orang itu berubah, melainkan karena sejak awal kita terlalu banyak berharap.

Kita membangun harapan yang begitu tinggi sehingga lupa bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan imajinasi, kita menyebutnya kegagalan cinta. Padahal yang gagal mungkin bukan cintanya, melainkan ekspektasi kita.

Tidak semua hubungan harus dipertahankan.

Ada hubungan yang memang berakhir karena dua orang tumbuh ke arah yang berbeda. Ada yang berakhir karena perbedaan nilai hidup. Ada pula yang berhenti karena waktu tidak pernah berpihak kepada mereka.

Bukan berarti cintanya tidak nyata.

Bisa jadi justru karena cintanya nyata, mereka memilih tidak saling melukai lebih jauh.

Pandangan menarik juga datang dari Amir Levine dan Rachel Heller dalam buku Attached (2010). Mereka menjelaskan bahwa setiap orang memiliki pola keterikatan yang berbeda dalam hubungan. Ada yang merasa aman ketika mencintai, ada yang mudah cemas kehilangan, dan ada pula yang justru menjauh ketika hubungan menjadi terlalu dekat.

Perbedaan cara mencintai ini sering membuat dua orang saling menyayangi, tetapi tidak mampu membangun hubungan yang sehat.

Kita sering berkata, "Bukankah kami saling mencintai?"

Ya, mungkin memang saling mencintai.

Namun cinta saja terkadang tidak cukup jika tidak diiringi kesiapan emosional, komunikasi, dan kedewasaan.

Hubungan bukan hanya soal besarnya rasa sayang, tetapi juga kemampuan dua orang untuk bertumbuh bersama.

Ada orang yang sangat mencintai, tetapi belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Ada yang begitu tulus, tetapi belum mampu membuka diri. Ada pula yang terus mencintai sambil terus melukai tanpa disadari.

Mereka bukan orang jahat.

Mereka hanya belum selesai belajar tentang cinta.

Pemahaman yang lebih dalam juga diberikan oleh Irvin D. Yalom dalam Love's Executioner and Other Tales of Psychotherapy(1989). Ia menunjukkan bahwa banyak penderitaan manusia berasal dari keinginan yang tidak mungkin sepenuhnya dipenuhi. Kita ingin dicintai selamanya, ingin tidak kehilangan siapa pun, ingin semua berjalan sesuai harapan. Namun kehidupan tidak selalu bekerja seperti itu.

Ketika kita menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan harus terwujud, kita mulai memahami bahwa kehilangan bukanlah akhir dari kehidupan.

Kita boleh bersedih.

Kita boleh menangis.

Kita boleh merasa kecewa.

Namun kita tidak harus membenci.

Membenci hanya membuat kita tetap terikat pada masa lalu.

Merelakan bukan berarti menghapus kenangan. Merelakan berarti berhenti memaksa kenyataan agar sesuai dengan keinginan kita.

Di situlah cinta berubah bentuk.

Ia tidak lagi menuntut.

Ia tidak lagi memaksa.

Ia tidak lagi menguasai.

Ia hanya mendoakan.

Mungkin itulah bentuk cinta yang paling sunyi sekaligus paling dewasa.

Seseorang yang benar-benar mencintai tidak selalu bertanya, "Mengapa aku tidak memilikimu?"

Ia mulai bertanya, "Apa yang telah diajarkan cinta ini kepadaku?"

Jika jawabannya adalah kesabaran, keikhlasan, kedewasaan, keberanian menerima kenyataan, dan kemampuan menghargai hidup, maka sesungguhnya cinta itu tidak pernah gagal.

Ia hanya selesai menjalankan tugasnya.

Pada akhirnya, tidak semua cinta memang ditakdirkan menjadi pernikahan. Tidak semua perasaan harus berubah menjadi kepemilikan. Ada cinta yang hadir hanya untuk mempertemukan kita dengan versi diri yang lebih baik.

Barangkali itulah alasan mengapa beberapa orang datang bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun.

Maka jika suatu hari seseorang yang pernah sangat kita cintai memilih jalan hidup yang berbeda, mungkin kita tidak perlu lagi bertanya mengapa semesta memisahkan.

Kita hanya perlu berterima kasih karena pernah dipertemukan.

Sebab cinta yang dewasa bukanlah cinta yang selalu berhasil memiliki.

Cinta yang dewasa adalah cinta yang mampu melepaskan tanpa membenci, menerima tanpa memaksa, dan tetap mendoakan tanpa harus berharap memiliki.