Self-Diagnosis dan Budaya Kesehatan Mental di TikTok

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Dede Aziz Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis merasa resah melihat media sosial, terutama TikTok, yang hari ini dipenuhi pembicaraan mengenai kesehatan mental secara berlebihan dan sering kali tidak tepat. Sedikit sulit fokus langsung disebut ADHD. Sedikit cemas dianggap anxiety disorder. Merasa capek setelah banyak tugas langsung merasa burnout.
Semua pengalaman emosional seolah harus diberi label psikologis tertentu hanya karena cocok dengan video TikTok berdurasi satu menit. Fenomena ini semakin sering terlihat, terutama di kalangan anak muda yang menjadikan media sosial sebagai sumber utama memahami kondisi mental mereka sendiri.
Di satu sisi, meningkatnya pembicaraan mengenai kesehatan mental memang membawa dampak positif. Hal-hal yang dulu dianggap tabu kini mulai dibicarakan secara terbuka. Banyak orang menjadi sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang mulai berani membicarakan trauma, depresi, kecemasan, dan tekanan hidup yang sebelumnya sering dipendam sendiri.
Namun di sisi lain, muncul fenomena yang cukup meresahkan self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional. Sedikit susah fokus langsung merasa ADHD. Sedikit gugup saat berbicara di depan umum langsung mengaku anxiety. Merasa capek beberapa hari langsung merasa burnout berat. Padahal bisa saja itu cuma kelelahan biasa, kurang tidur, stres sementara, atau tekanan hidup yang memang sedang meningkat.
Masalahnya, banyak orang hari ini merasa cukup memahami kondisi psikologisnya hanya dari menonton konten TikTok satu menit. Mereka tidak datang ke psikolog atau psikiater profesional, tetapi lebih percaya pada video dengan musik sedih dan tulisan “5 tanda kamu ADHD” atau “kalau kamu begini berarti anxiety disorder.”
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. TikTok bekerja dengan algoritma yang sangat cepat membentuk cara berpikir penggunanya. Ketika seseorang menonton satu video tentang ADHD, video serupa akan terus muncul di berandanya. Lama-lama orang merasa, “Ini gue banget.” Dari situ muncul keyakinan bahwa dirinya benar-benar memiliki gangguan tertentu, padahal belum pernah melakukan pemeriksaan profesional sama sekali.
Padahal, diagnosis psikologis bukan sesuatu yang sederhana. Gangguan mental tidak bisa disimpulkan hanya dari potongan video pendek atau pengalaman pribadi seseorang di internet. Diagnosis membutuhkan proses panjang, wawancara klinis, observasi perilaku, hingga tes psikologis tertentu. Namun, budaya media sosial membuat semuanya terasa instan. Orang merasa cukup menonton TikTok untuk memahami dirinya sendiri.
Fenomena ini sebenarnya bisa dibaca melalui pemikiran Byung-Chul Han dalam buku The Burnout Society (2015). Han menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam tekanan produktivitas tanpa henti. Menurutnya, abad ke-21 dipenuhi berbagai gangguan seperti depresi, ADHD, burnout, dan kecemasan.
Bagi Han, manusia modern hidup dalam budaya yang menuntut semua orang terus produktif, terus berkembang, terus sukses, dan terus terlihat baik-baik saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kelelahan mental. Manusia dipaksa bekerja, belajar, dan tampil tanpa henti sampai akhirnya kehilangan kemampuan untuk benar-benar beristirahat.
Namun, persoalan hari ini bukan cuma soal kelelahan mental itu sendiri. Media sosial justru mengubah kelelahan menjadi identitas sosial. Orang tidak lagi sekadar merasa lelah, tetapi juga merasa harus memiliki label psikologis tertentu agar penderitaannya dianggap valid. Di TikTok, istilah seperti ADHD, anxiety, trauma, dan burnout akhirnya berubah menjadi bahasa sehari-hari yang dipakai hampir untuk semua situasi.
Padahal, rasa cemas tidak selalu berarti anxiety disorder. Sedih tidak selalu berarti depresi. Sulit fokus juga tidak otomatis ADHD. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang bisa mengalami emosi negatif tanpa harus memiliki gangguan mental klinis. Namun, media sosial sering menghapus batas antara pengalaman manusia biasa dengan kondisi psikologis serius.
Fenomena ini semakin terlihat dari banyaknya konten di TikTok yang membahas kesehatan mental dengan cara yang sangat sederhana dan mudah relatable. Video seperti 5 tanda kamu ADHD, hal yang cuma dipahami penderita anxiety, atau POV anak trauma terus muncul di beranda pengguna media sosial setiap hari.
Konten semacam ini biasanya dikemas dengan gaya santai, lucu, bahkan estetik, sehingga mudah menarik perhatian anak muda. Akibatnya, banyak orang mulai merasa bahwa seluruh pengalaman emosional dalam hidupnya harus diberi label psikologis tertentu.
Sedikit sulit fokus langsung dianggap ADHD, suka overthinking dianggap anxiety disorder, sementara rasa lelah atau tekanan kerja yang sebenarnya masih dalam batas wajar sering langsung disebut burnout.
Padahal burnout sendiri merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang terjadi secara berkepanjangan akibat stres terus-menerus, bukan sekadar capek setelah menjalani aktivitas padat selama beberapa hari.
Pemikiran Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam buku The Social Construction of Reality (1966) membantu menjelaskan fenomena tersebut. Mereka menjelaskan bahwa realitas sosial sebenarnya dibentuk melalui proses sosial yang terus diulang dalam masyarakat.
Artinya, sesuatu bisa dianggap “nyata” karena terus-menerus diproduksi dan dipercaya bersama. Dalam konteks TikTok, istilah kesehatan mental diproduksi setiap hari lewat ribuan video. Lama-lama orang menerima semua istilah itu sebagai cara utama memahami dirinya sendiri. Akhirnya, muncul situasi di mana setiap perilaku manusia harus diberi label psikologis.
Budaya ini juga diperkuat oleh kebutuhan manusia modern akan validasi sosial. Ketika seseorang mengaku memiliki anxiety lalu mendapat komentar seperti "aku juga", "sama banget", atau "akhirnya ada yang ngerti", muncul rasa diterima secara sosial. Label psikologis akhirnya bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga identitas dan pengakuan sosial.
Fenomena ini mirip dengan pemikiran Christopher Lasch dalam buku The Culture of Narcissism (1979). Lasch menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam kecemasan dan kebutuhan besar untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ia menulis bahwa manusia modern “haunted not by guilt but by anxiety” atau dihantui bukan oleh rasa bersalah, melainkan oleh kecemasan.
Di media sosial, penderitaan sering berubah menjadi pertunjukan identitas. Orang merasa perlu menunjukkan dirinya sedang rusak, lelah, trauma, atau memiliki gangguan tertentu agar mendapat perhatian dan empati. Ini bukan berarti semua orang berpura-pura sakit. Banyak orang memang benar-benar mengalami masalah mental serius. Namun, media sosial menciptakan ruang di mana penderitaan mudah berubah menjadi tren sosial.
Akibatnya, gangguan mental kadang terlihat seperti identitas yang keren dan relatable. Semakin berat label psikologis yang dimiliki seseorang, semakin besar perhatian yang diterima. Di titik ini, kesehatan mental tidak lagi dipahami sebagai kondisi medis yang serius, tetapi berubah menjadi bagian dari citra diri di media sosial.
Pemikiran Erving Goffman dalam buku The Presentation of Self in Everyday Life (1959) juga relevan untuk membaca fenomena ini. Goffman menjelaskan bahwa manusia sering menampilkan identitas tertentu di hadapan publik layaknya aktor di atas panggung sosial.
Media sosial memperbesar proses tersebut. Orang tidak hanya menampilkan kebahagiaan, tetapi juga menampilkan luka, trauma, dan gangguan mental sebagai bagian dari presentasi diri. TikTok akhirnya menjadi panggung besar tempat manusia mempertunjukkan identitas psikologisnya.
Padahal, gangguan mental nyata jauh lebih kompleks dan menyakitkan dibanding yang sering digambarkan media sosial. Orang dengan ADHD berat bisa kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Penderita anxiety disorder bisa mengalami serangan panik hebat. Orang dengan depresi bisa kehilangan semangat hidup dalam waktu panjang. Semua itu tidak sesederhana aku suka overthinking atau aku gampang bosan.
Bahaya terbesar dari budaya self-diagnosis adalah penyederhanaan masalah psikologis. Anak muda akhirnya sulit membedakan mana stres biasa dan mana gangguan klinis. Sedikit capek dianggap burnout. Sedikit malas dianggap depresi. Sedikit awkward dianggap social anxiety.
Padahal, manusia memang bisa lelah. Bisa sedih. Bisa kehilangan motivasi. Bisa cemas menghadapi masa depan. Semua itu bagian normal dari kehidupan manusia. Tidak semua emosi negatif adalah penyakit.
Ironisnya, budaya ini juga merugikan orang yang benar-benar membutuhkan bantuan profesional. Ketika semua orang mengaku punya ADHD hanya karena sulit fokus beberapa menit, pengalaman penderita ADHD yang sebenarnya justru diremehkan. Gangguan mental serius berubah menjadi istilah populer yang kehilangan makna klinisnya.
Selain itu, self-diagnosis juga bisa membuat orang salah menangani dirinya sendiri. Ada orang yang sebenarnya cuma kurang istirahat, tetapi malah yakin dirinya memiliki gangguan berat. Sebaliknya, ada juga orang yang benar-benar mengalami masalah serius, tetapi merasa cukup menonton TikTok tanpa pernah mencari bantuan profesional.
TikTok memang bisa menjadi ruang awal untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental. Namun, media sosial seharusnya hanya menjadi pintu masuk, bukan tempat diagnosis akhir. Konten edukasi memiliki batas. Video satu menit tidak bisa menggantikan proses pemeriksaan psikologis yang dilakukan secara profesional.
Kita juga perlu memahami bahwa kehidupan modern memang membuat banyak orang kelelahan. Tekanan ekonomi, tuntutan akademik, budaya produktivitas, dan kecanduan media sosial membuat anak muda gampang stres. Namun, tidak semua stres adalah gangguan mental. Kadang manusia memang hanya kurang tidur, terlalu banyak tugas, terlalu lama bermain media sosial, atau tidak punya waktu istirahat yang cukup.
Budaya media sosial hari ini membuat manusia kehilangan kemampuan membaca dirinya sendiri secara tenang. Semua harus cepat diberi label. Semua harus segera dijelaskan lewat istilah psikologis. Akibatnya manusia modern semakin sulit membedakan antara rasa lelah biasa dengan gangguan mental yang benar-benar membutuhkan penanganan medis.
Karena itu, literasi kesehatan mental yang benar menjadi sangat penting. Kesadaran kesehatan mental memang perlu didukung, tetapi harus disertai pemahaman yang kritis. Anak muda perlu belajar bahwa diagnosis bukan permainan identitas atau tren media sosial. Diagnosis adalah proses medis yang serius.
Mendengarkan pengalaman orang lain di TikTok memang bisa membantu seseorang merasa tidak sendirian. Namun, pengalaman pribadi orang lain tidak bisa otomatis dijadikan dasar untuk mendiagnosis diri sendiri. Setiap individu memiliki kondisi psikologis yang berbeda.
Pada akhirnya, fenomena self-diagnosis menunjukkan bagaimana media sosial membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri. TikTok bukan hanya tempat hiburan, melainkan juga mesin pembentuk identitas dan realitas sosial. Ketika istilah kesehatan mental terus diproduksi secara masif, masyarakat akhirnya melihat dirinya melalui label-label psikologis tersebut.
Kesadaran kesehatan mental memang penting. Namun, kesadaran tanpa pemahaman yang benar justru bisa berubah menjadi kepanikan massal. Tidak semua rasa sedih adalah depresi. Tidak semua rasa lelah adalah burnout. Tidak semua rasa cemas adalah anxiety disorder.
Terkadang, manusia memang cuma sedang capek hidup.
Dan mungkin, sebelum buru-buru mengaku ADHD atau anxiety setelah menonton TikTok, yang sebenarnya dibutuhkan bukan label psikologis dari media sosial, melainkan istirahat yang cukup, ruang untuk bercerita, dan keberanian mencari bantuan profesional ketika memang benar-benar diperlukan.
