Konten dari Pengguna

Potret Ekonomi Indonesia 2026: Pertumbuhan Stabil di Tengah Tekanan Global

Memasuki semester kedua 2026, ekonomi Indonesia masih berjalan di jalur yang cukup meyakinkan. Pada April sampai Juni 2026, PDB tumbuh 5,29% dibanding tahun lalu, sedikit turun dari 5,61% di kuartal pertama. Kalau dua kuartal digabung, pertumbuhan semester I mencapai 5,45%. Jadi "stabil" di sini artinya tetap bertahan di atas 5 persen, meski lajunya mulai mengendur. Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026 dari BPS

Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026. (Sumber: Badan Pusat Statistik/BPS, Rilis Berita Resmi Statistik, 5 Agustus 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026. (Sumber: Badan Pusat Statistik/BPS, Rilis Berita Resmi Statistik, 5 Agustus 2026)

Kondisi dunia sedang tidak terlalu bersahabat. IMF memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh sekitar 3% tahun ini, dan negara berkembang di kisaran 3,8%. Di Asia Tenggara hasilnya beragam: Vietnam melesat 8,4%, Malaysia 5,8%, sementara China melambat ke 4,3%. Dibanding rata-rata dunia, Indonesia tergolong kuat, tetapi masih tertinggal dari Vietnam.

Penggerak utamanya datang dari sektor riil. Industri pengolahan menyumbang pertumbuhan terbesar, sekitar 0,90 poin, dan hampir semua lapangan usaha naik, kecuali pertambangan yang justru turun. Yang paling menonjol adalah listrik dan gas yang naik 10,81%, lalu informasi dan komunikasi 6,97%. Lonjakan listrik muncul karena pemakaian rumah tangga, bisnis, dan industri sama-sama meningkat, tanda bahwa roda ekonomi memang berputar.

Sisi harga mulai terasa. Inflasi tahunan naik tiga bulan berturut-turut, dari 2,88% di Juli ke 3,19% di Agustus, lalu 3,28% di September. Pemicunya terutama pangan seperti cabai, daging ayam, beras, dan telur, ditambah harga emas perhiasan yang menyumbang paling besar secara tahunan. Untungnya inflasi inti masih 2,84%, jadi tekanannya lebih banyak datang dari harga yang memang mudah bergejolak. Meski begitu, kenaikan terjadi di seluruh 38 provinsi, dengan Sulawesi Utara tertinggi (7,59%) dan Sumatera Selatan terendah (2,55%). Bank Indonesia memilih menahan BI Rate di 5,75% pada September. Ada juga kabar baik dari luar negeri dan kesejahteraan. Neraca perdagangan surplus US$3,55 miliar pada Agustus, jauh di atas surplus Juli yang hanya US$121,9 juta, dan kemiskinan per Maret turun ke 8,07%.

Jadi, potret ekonomi Indonesia 2026 menunjukkan ketahanan yang meyakinkan, tetapi belum bisa dibilang aman. Pertumbuhan di atas 5 persen dan surplus dagang adalah modal, sedangkan harga pangan dan ketimpangan antarwilayah masih jadi pekerjaan rumah. Tantangan berikutnya adalah mengubah stabilitas ini menjadi pertumbuhan yang benar-benar terasa lewat harga yang terjangkau dan lapangan kerja yang cukup. Sumber data: pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dari BPS lewat Kontan (nasional.kontan.co.id), DDTCNews (news.ddtc.co.id), dan Investortrust (investortrust.id); data IMF dan negara tetangga dari Investortrust; sektor ekonomi dari DDTCNews dan Infobanknews; inflasi September 2026 dari BPS lewat Investortrust, iNews, dan Kontan Pusat Data; BI Rate dari Kontan Pusat Data; neraca dagang dari Kontan Insight; kemiskinan dari Databoks Katadata.