PM2.5 Makassar Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Perlu Waspada

Pengajar lepas dan staf di Unismuh Makassar. Senang audio visual, menulis hal menarik dan berkelanjutan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dede Leman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siang itu, Jumat, 9 Oktober 2026, saya memandang Kota Makassar dari lantai 16 Menara Iqra, Universitas Muhammadiyah Makassar. Ada pemandangan yang terasa berbeda. Langit terlihat seperti mendung, sementara pandangan ke arah kejauhan tampak samar, seolah-olah ada lapisan kabut yang menyelimuti kota.
Saya sempat bertanya dalam hati, apakah cuaca memang sedang berubah atau ada sesuatu yang lain?
Pertanyaan itu terasa relevan ketika mengingat sejumlah pemberitaan tentang memburuknya kualitas udara di Makassar dalam beberapa hari terakhir. Kota ini dilaporkan terdampak sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di luar Sulawesi Selatan.
Tentu, pengamatan dari lantai 16 Menara Iqra tidak bisa memastikan bahwa kabut yang terlihat itu sepenuhnya berasal dari asap karhutla. Namun, ketika pemandangan tersebut disandingkan dengan data pemantauan kualitas udara, ada alasan bagi kita untuk lebih memperhatikan udara yang dihirup setiap hari.
PM2.5 Makassar Menembus Kategori Tidak Sehat
Mengutip pemberitaan Kompas.com pada Jumat, 9 Oktober 2026, konsentrasi partikel halus PM2.5 yang dipantau melalui Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik. Pada pagi hari, angkanya bahkan sempat menyentuh 112,7 mikrogram per meter kubik.
Dalam klasifikasi yang digunakan BMKG, konsentrasi PM2.5 sebesar 55,5–150,4 mikrogram per meter kubik masuk kategori tidak sehat.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Ukurannya memungkinkan partikel ini masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Sejumlah media, termasuk Metro TV, detikSulsel, dan CNN Indonesia, turut memberitakan memburuknya kualitas udara Makassar. Penjelasan yang disampaikan mengarah pada dugaan masuknya partikel asap karhutla yang terbawa pergerakan angin dari luar Sulawesi Selatan.
Perubahan arah angin dari barat, barat laut, maupun timur dapat memengaruhi pergerakan partikel di atmosfer. Konsentrasi partikel halus juga dilaporkan cenderung meningkat pada malam hari, dini hari, hingga pagi menjelang siang.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa polusi udara tidak selalu berasal dari aktivitas di sekitar tempat tinggal. Asap dari kebakaran yang terjadi jauh dari Makassar pun dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di kota ini.
Ketika Langit Menjadi Petunjuk
Bagi saya, pemandangan dari Menara Iqra siang itu menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan terkadang hadir melalui hal-hal sederhana.
Dari ketinggian, kita biasanya berharap dapat melihat bentang kota dengan lebih jelas. Gedung-gedung, jalan, dan kawasan permukiman tampak membentuk lanskap yang luas. Namun, ketika udara dipenuhi partikel yang mengurangi kejernihan atmosfer, pemandangan itu bisa terlihat berbeda.
Langit yang tampak mendung memang tidak otomatis menandakan adanya pencemaran. Kondisi awan, kelembapan, dan faktor cuaca lainnya juga dapat memengaruhi jarak pandang. Karena itu, pengukuran kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Akan tetapi, ketika pengamatan visual bertemu dengan laporan peningkatan PM2.5, kita sebaiknya tidak mengabaikannya.
Ada hal yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dari persoalan ini. Kita mungkin tidak selalu mencium bau asap yang kuat, tidak melihat kebakaran secara langsung, bahkan tidak merasa sesak saat beraktivitas. Namun, partikel halus tetap dapat berada di udara tanpa selalu terlihat oleh mata.
Artinya, menilai udara hanya berdasarkan penampilan atau kenyamanan sesaat bukanlah langkah yang cukup.
Panik atau Abaikan?
Dalam situasi kualitas udara yang memburuk, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Membaca referensi yang ada setidaknya, menggunakan masker yang sesuai, seperti N95 atau KN95, ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel halus.
Ada baiknya mengurangi olahraga berat dan aktivitas fisik berkepanjangan di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit jantung atau paru perlu mendapat perhatian lebih.
Begitu juga agar senantiasa memantau perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi BMKG Wilayah IV Makassar dan ikuti imbauan BPBD Kota Makassar. Pemberitaan setempat menyebutkan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan setidaknya hingga 12 Oktober 2026.
Langkah-langkah tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam kondisi seperti ini, kebiasaan kecil dapat membantu mengurangi paparan terhadap polusi udara.
Udara Bersih Adalah Kebutuhan Bersama
Langit Makassar mungkin akan kembali cerah ketika kondisi atmosfer berubah. Namun, menjaga kualitas udara tidak cukup hanya dengan menunggu angin berganti arah.
Kita membutuhkan kepedulian, tindakan pencegahan, dan kesadaran bahwa udara bersih bukan sekadar bagian dari pemandangan yang indah. Ia adalah kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup kita semua.
