Konten dari Pengguna

Teater Anak: Ruang Ekspresi, Penyadaran, dan Cerita-cerita Kecil yang Tumbuh

Dede Leman

Dede Leman

Pengajar lepas dan staf di Unismuh Makassar. Senang audio visual, menulis hal menarik dan berkelanjutan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dede Leman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pentas anak. Koleksi : Dede Leman
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pentas anak. Koleksi : Dede Leman

Catatan kecil dari seseorang yang tumbuh bersama panggung penyadaran

Saya selalu merasa, teater datang kepada saya jauh sebelum saya tahu namanya. Di bangku SD, guru hanya menyebutnya “sandiwara”. Saya diminta baca puisi sambil beradegan kecil, tanpa pernah tahu bahwa itu adalah gerbang pertama menuju dunia teater. Ketika SMP, panggung itu mulai mencari saya.

Kembali mengikuti lomba-lomba, pentas di malam apresiasi seni perkemahan pramuka. Namun saya baru benar-benar memahami bahwa semua itu bernama “teater” saat duduk di bangku kuliah, tahun 1992.

Di situlah kami mendirikan Sanggar Seni Matahari (SSMM). Sebuah sanggar yang tumbuh dari semangat muda, gelisah, dan keinginan memahami hidup. Di sanggar inilah saya merasa hidup sebagai manusia yang belajar membaca batin sendiri dan batin orang lain. Selain Andi Etal, ada Hasan, Ruslan, Rasyid, dan Adham kawan-kawan seperjalanan yang ikut memupuk api teater dalam diri saya. Mereka bukan sekadar teman bermain peran, tetapi saudara yang membuat saya mengerti bahwa teater bukan hiburan semata, melainkan teater penyadaran ruang untuk melihat diri, masyarakat, dan kenyataan dengan lebih jernih.

Namun sosok yang paling mempengaruhi langkah saya adalah almarhum Nurdahlan Jirana, sahabat dekat Emha Ainun Nadjib. Dari beliau, saya belajar bahwa teater adalah laku hidup: menahan diri, merawat disiplin, dan membiarkan tubuh dan pikiran menjadi alat untuk memahami dunia. Ketika saya diberi peran Sultan Alauddin muda, enam bulan saya hidup bersama karakter itu. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk mengerti bagaimana seseorang memikul amanah sejarah. Itulah momen ketika saya sadar teater bisa menyadarkan orang tentang siapa dirinya.

Ada juga momen kocak yang sampai hari ini membuat saya tersenyum sendiri. Saat pentas di salah satu kabupaten di Sulsel, seorang teman lupa dialog. Beberapa detik terasa sangat panjang. Penonton menunggu, kami saling pandang. Saya pun mengambil alih, mendialogkan apa yang harus dia ucapkan lalu saya menimpali “Itukan yang kau mau sampaikan…” hehe.. seolah itu bagian dari naskah. Penonton mengira itu improvisasi yang sengaja. Kami tahu panggung menyelamatkan kami dengan cara yang lucu dan sederhana.

Beberapa tahun kemudian, teater membawa saya ke tempat yang lebih lembut ke dalam dunia anak. Di NGO Sanggar Anak Dayok, saya melihat bagaimana teater bisa menjadi ruang aman bagi anak-anak yang memikul beban terlalu berat. Saya pernah mendampingi anak-anak korban konflik senjata. Bunyi keras saja membuat mereka meraung ketakutan. Maka teater tidak kami jadikan pentas, tetapi permainan kecil: bunyi-bunyian, tiruan hewan, ritme tepuk, hingga gerakan tubuh sederhana. Bersama Ibu Ismarli Muis psikolog dari UNM, kami menyatukan teater dan penyembuhan.

Ada seorang anak yang sangat saya ingat sebut saja namanya Aco. Ia tinggal dari mengumpulkan barang bekas, dan kadang ia mengakui mengambil sesuatu yang bukan miliknya “kalau ada kesempatan”. Kami tidak menegurnya dengan amarah. Kami memintanya melakonkan tokoh anak nakal yang harus belajar jujur. Pelan-pelan ia memahami bahwa kejujuran bukan sekadar nasihat orang dewasa, tetapi karakter yang harus ia perjuangkan. Teater, hari itu, menjadi alat penyadaran yang paling indah.

Anak-anak Makassar atau Sulsel punya keunikan sendiri. Ada yang pemalu, ada yang terlalu percaya diri, ada yang ingin langsung naik panggung tanpa proses. Tapi semua bisa diarahkan selama ada aturan bersama fokus dulu, bermain setelahnya. Karena latihan itu sendiri sebenarnya permainan yang mendewasakan.

Dalam setiap kegiatan, saya sering menyelipkan unsur lokal. Musik yang mereka kenali dulu baru saya selipkan kecapi atau kacaping. Cerita rakyat kami kombinasikan dengan kisah pamali agar mereka merasa dekat dengan akar budayanya. Kadang saya ajak mereka menari ganrang bulo sambil beradegan kecil. Bahasa Makassar pun saya bawa masuk perlahan kata-kata seperti jagona atau rewako menjadi jembatan antara panggung dan keseharian mereka.

Di Makassar, ada satu istilah lokal yang menurut saya merepresentasikan teater anak dengan sangat baik: Tabe’ (Kurang lebih digambarkn: permisi dibarengi gestur sedikit membungkuk dengan tangan kanan diarahkan kebawah)

Tabe’ bukan sekadar ucapan permisi. Ia adalah gestur kecil yang membawa anak pada kesadaran sosial: sopan santun, menghargai ruang orang lain, dan menahan diri. Dalam teater, tabe’ menjadi ruang control gerak yang mengajarkan bahwa kebebasan tetap butuh etika. Anak-anak yang mempraktikkan tabe’ bukan hanya menjadi lebih sopan, tapi juga memahami batas diri serta batas orang lain.

Kini, teater bagi saya adalah ruang introspeksi. Tempat saya menata hidup dan memahami kembali untuk apa saya berjalan sejauh ini. Ia juga menjadi cara saya mendekati dunia anak di masjid, di kelas kecil selepas sekolah, atau di ruang-ruang sederhana dimana mereka masih bisa bermain.

Dalam rangka Hari Anak, saya percaya teater harus menghadirkan:

• ruang ekspresi yang merdeka,

• pemulihan emosi,

• kesetaraan dalam bermain,

• dan kesempatan bagi anak untuk bersuara tentang dunia mereka sendiri.

Karena teater, sejak awal, bukan tentang kita yang mengajari mereka. Teater adalah tentang kita yang belajar mendengar mereka.

Dan jika suatu hari nanti anak-anak yang pernah saya damping membaca tulisan ini, izinkan saya menitipkan pesan sederhana “Dek.., yakinlah hal baik yang pernah kau lakonkan akan menjadi cerita indahmu”.