Dari Arang Hingga Daun: Cerita di Balik Kue Carabikang yang Melegenda

Saya adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dede Risma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dibuat di atas bara arang, harum santan menyapa, warna-warninya menimpa daun hijau yang segar—kue carabikang lebih dari sekadar jajanan. Bentuknya yang mekar menyimpan warisan rasa yang tetap hidup di tangan para penjaja pasar tradisional Yogyakarta, seperti Bu Kristi di Pasar Ngasem. Di sini, setiap gigitan adalah cerita tradisi yang tak lekang waktu.

Yogyakarta, 8 Juli 2025
Asap mengepul dari tungku arang menyambut pagi di Pasar Ngasem. Di balik kepulan asap itu, Kristi (41 tahun) dengan cekatan membolak-balik loyang besi di atas tungku arang.
"Proses memasak pakai arang ini sudah langka," ujarnya sambil menyeka keringat. "Tapi justru ini yang bikin rasa carabikang khas, ada aroma arang membara yang tak bisa ditiru."
Dari Pandemi hingga Pasar Tradisional
Perjalanan Bu Kristi memulai usaha ini tidaklah mudah.
"Awalnya coba-coba jualan online saat pandemi. Alhamdulillah responsnya bagus, sampai akhirnya bisa buka lapak di Pasar Ngasem," kenangnya.
Kini, stan kecilnya selalu ramai pembeli sejak pagi buta. Kue carabikang Bu Kristi bukan sembarangan—resepnya diwariskan langsung dari nenek suaminya yang telah berjualan di Stasiun Lempuyangan sejak 1986.
"Dulu nenek mertua saya jualan pakai gerobak kayu. Sekarang saya lanjutkan lewat stan kecil ini," katanya.
Setiap hari, ia membuat sekitar 10 kg adonan yang selalu habis terjual. Pada akhir pekan atau hari libur, pesanan bisa meningkat hingga 20 kg.
"Alhamdulillah, peminatnya tetap banyak," ujarnya sambil tersenyum.
Varian Rasa yang Menarik Generasi Muda
Jika dulu carabikang yang dijual nenek suami saya hanya tersedia dua warna—pink dan hijau—kini Bu Kristi menawarkan berbagai varian rasa dan warna:
Ungu (ubi ungu)
Hijau (pandan)
Pink (doger)
Cokelat (cokelat)
Kuning (nangka)
Putih (original).
Kue ini dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, santan, dan gula. Namun, teknik pembuatnya yang membuatnya istimewa.
"Bentuk mekarnya itu didapat dari cara mencungkil adonana dari loyang," jelas Bu Kristi sambil memperagakan gerakannya dengan alat khusus.
Pelanggan Ketagihan, dari Mahasiswa hingga Wisatawan
Riska (22), mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengaku ketagihan setelahpertama kali mencoba.
"Awalnya cuma iseng karena warnanya menarik. Sekarang jadi ketagihan, seminggu bisa beli 2-3 kali," tuturnya.
Tak hanya warga lokal, carabikang Bu Kristi juga menarik perhatian pembeli dari luar kota. Salah satunya adalah Anto (28), wisatawan asal Ciamis.
"Saya dengar kue ini dari teman. Setelah coba, rasanya unik—gurih santannya terasa, ada aroma arang yang khas. Dibawa pulang ke rumah, keluarga juga suka!" katanya.
Asal-Usul Nama dan Kelestarian Tradisi
Menurut cerita yang beredar, nama "carabikang" berasal dari percakapan lucu antara orang Tionghoa dengan orang Jawa.
"Orang Jawa tanya 'Gawe opo Kang?', lalu orang Tionghoa menjawab 'Serabi Kang' dengan logat yang masih kental. Lama-lama terdengar jadi 'carabikang'," cerita Bu Kristi sambil tertawa.
Dulu, kue ini selalu hadir dalam acara hajatan. Kini, carabikang menjadi camilan favorit berbagai kalangan.
"Senang lihat anak muda sekarang mulai suka jajan tradisional," ujar Bu Kristi yang sudah berjualan hampir 5 tahun ini.
Tantangan Harga dan Cita Rasa yang Bertahan
Pada momen lebaran lalu, Bu Kristi menaikkan harga dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per biji.
"Harga kelapa naik terus, jadi saya harus menyesuaikan," jelasnya.
Meski harga bahan baku meningkat, daya tarik kue carabikang tak pernah memudar. Dibuat di atas bara arang, harum santannya menggoda, dan warna-warninya memikat. Setiap gigitan adalah pelestarian rasa dan kisah yang terus hidup di tengah zaman yang berubah.
Lewat tangan Bu Kristi, carabikang bukan sekadar jajanan lawas, melainkan perpanjangan napas tradisi. Di atas bara yang menyala, rasa dan cerita diwariskan, dari satu generasi ke generasi berikutnya—dari arang, hingga daun.
