Serial Juvenile Justice: Ketika Hukum, Keadilan, dan Masa Depan Anak Bertabrakan

Mahasiswa Hukum di Sekolah Tinggi Hukum Bandung
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Deden Akmal Fauzi A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masalah kenakalan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur merupakan permasalah yang kerap muncul di berbagai belahan dunia dan telah menjadi fokus perhatian serius di berbagai negara. Permasalahan tersebut telah menjadi tantangan bagi sistem hukum dalam penegakannya antara diberikan sanksi atau mendapat peluang untuk di rehabilitasi.
Serial Juvenile Justice (2022) yang menceritakan betapa kompleksnya sistem peradilan anak di Korea Selatan, telah hadir untuk memberikan gambaran dalam mendalami kembali bagaimana seharusnya penegakan hukum yang ditujukan pada pelaku kejahatan anak di bawah umur.
Sinopsis
Juvenile Justice merupakan serial drama asal Korea Selatan yang mengangkat kisah hakim perempuan bernama Shim Eun-Seok yang dikenal dingin, tegas, dan selalu tak kenal ampun dalam menghukum pelaku kejahatan, sehingga dijuluki sebagai "Hakim Maksimal" karena ia selalu memberikan vonis hukuman yang maksimal dan setimpal pada semua pelaku kejahatan. Ia mendapatkan mutasi atau perpindahan dinas kerja ke Pengadilan Anak Yeonhwa yang dikenal sebagai tempat untuk menangani berbagai kasus kejahatan yang melibatkan pelaku dibawah umur.
Meski awalnya, Shim Eun-Seok menaruh dendam pribadi terhadap anak anak pelaku kejahatan akibat pengalaman traumatis di masa lalu, tetapi seiring berjalanya waktu dan kasus demi kasus yang ditangani ia harus dipaksa menghadapi kenyataan bahwa tidak semua pelaku anak semata-mata bersalah karena kehendaknya. Ia mulai menyadari bahwa di balik setiap kejahatan anak, ada faktor lingkungan, keluarga, dan kelalaian sistem sosial yang turut membentuk perilaku mereka.
Serial ini terdiri dari 10 episode yang masing-masing menyoroti kasus berbeda. Di setiap episode, Serial ini menyoroti berbagai tantangan hukum serta kasus kejahatan yang melibatkan pelaku di bawah umur yang terjadi di Korea Selatan.
Mengenal Tokoh Utama
Shim Eun-Seok merupakan tokoh utama dalam drama korea Juvenile Justice, yang digambarkan sebagai hakim cerdas berkepribadian dingin dan tegas dalam menjalankan tugasnya. Ia dijuluki sebagai "Hakim Maksimal" karena dia selalu memberikan vonis hukuman yang maksimal dan setimpal pada semua pelaku kejahatan. Selain itu, Shim Eun-Seok juga memiliki sifat keras akibat keadaan traumatis di masa lalu yang berhubungan dengan anak pelaku kejahatan sehingga membuatnya sangat benci dan keras terhadap anak pelaku kejahatan. Namun seiring waktu, Shim Eun-Seok mulai membuka diri terhadap rasa empati dan mulai menyadari bahwa tidak semua anak pelaku kejahatan bertindak atas kehendak sendiri.
Cha Tae-Ju merupakan seorang hakim muda yang menjadi rekan kerja Eun-Seok dalam menindak pelaku kejahatan anak. Berbanding terbalik dengan Eun-Seok, Ia memiliki sifat yang lembut dan penuh empati terhadap anak-anak pelaku kejahatan. Ia selalu memiliki keyakinan dan rasa optimis bahwa anak anak bermasalah dapat berubah jika adanya dukungan dan kasih sayang. Hal tersebut karena sebelumnya ia juga pernah mengalami menjadi anak nakal bermasalah yang telah berubah menjadi anak yang baik.
Jenis Kejahatan
Serial Juvenile Justice memperlihatkan berbagai macam jenis tindak pidana yang berbeda beda dalam setiap episodenya. Kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur tersebut seperti pembunuhan, pelecehan seksual, pencurian, dan bahkan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kelalaian dari anak di bawah umur.
Di samping itu, kejahatan - kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak tersebut seringkali dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, pengabaian orang tua, dan tekanan dari lingkungan sekitar. Selain itu, Film ini juga telah mengungkap dan memperlihatkan sisi gelap dari sistem hukum itu sendiri.
Bagaimana Film Menampilkan Kriminal
Serial Juvenile Justice menampilkan berbagai macam bentuk kejahatan kriminal yang dilakukan oleh seorang anak di setiap episodenya seperti pembunuhan, pelecehan seksual, pelanggaran lalu lintas, dan lainnya. Kejahatan - kejahatan tersebut secara ironis memperlihatkan bahwa pelaku kejahatan dalam serial ini bukanlah orang dewasa seperti pada umumnya, melainkan seorang anak di bawah umur yang seharusnya berada dalam pengawasan orang tua atau wali nya.
Tindakan kejahatan dalam serial Juvenile Justice tersebut seringkali dilakukan dengan cara yang kompleks dan penuh strategi, sehingga setiap kejahatannya kerap sulit dipecahkan, diselesaikan maupun dituntut secara tuntas. Hal tersebut juga disebabkan oleh berbagai intervensi dari pihak luar, manipulasi kesaksian dan minimnya bukti.
Namun, serial Juvenile Justice menampilkan sudut pandang yang tidak hanya berfokus pada tindakan kejahatannya saja, tetapi juga menelaah kejahatan melalui aspek hukum, sosial, dan psikologis. Para pelaku dalam cerita ini terkadang tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya jahat, melainkan sebagai anak-anak yang terjerumus akibat pengaruh lingkungan yang tidak mendukung dan penuh kriminalitas.
Analisis dan Refleksi
Juvenile Justice telah menjadi sebuah kritik sosial mengenai betapa kompleks dan rumitnya sistem peradilan anak di Korea Selatan yang sering kali kehilangan sisi kemanusiaan. Hal ini memperlihatkan bagaimana suatu sistem hukum yang terlalu kaku dapat gagal memahami permasalahan sosial dan psikologis dari pelaku anak.
Dilema antara kepastian hukum dan keadilan sosial sering diperlihatkan sepanjang alur cerita serial ini yang dimana seringkali keputusan pengadilan mungkin sah secara hukum, tetapi belum tentu dapat memberikan keadilan secara moral.
Serial ini juga berhasil menyoroti dinamika antara Hakim Eun-Seok dan Tae-Joo yang menunjukkan betapa sulitnya menjadi aparat penegak hukum yang tetap harus menjaga keseimbangan antara tanggung jawab untuk menegakkan hukum dengan menunjukkan empati terhadap masa depan anak-anak yang masih memiliki peluang untuk diperbaiki dan direhabilitasi kembali.
Juvenile Justice juga telah membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang tanggung jawab moral masyarakat dan negara dalam mencegah lahirnya kejahatan anak. Serial ini menyoroti bahwa peradilan anak tidak boleh berhenti pada tahap menghukum, tetapi harus menjadi sarana untuk memperbaiki, merehabilitasi, dan mengembalikan pelaku anak agar dapat berfungsi kembali dalam masyarakat.
Lebih lanjut, serial ini berhasil membawa penonton dalam suasana kemarahan diiringi dengan rasa empati. Episode demi episode membuat penonton akan disadarkan bahwa betapa rumitnya setiap kasus yang dialami oleh para pelaku anak yang terjerumus dalam tindak kriminal, baik karena faktor lingkungan, tekanan keluarga, maupun ketidakadilan sosial dari keadaan yang mereka alami.
Serial ini juga telah memberikan pesan moral yang kuat bahwa keadilan sejati tidak hanya diukur dari seberapa berat hukuman yang dijatuhkan, melainkan sejauh mana pada akhirnya suatu sistem hukum mampu memulihkan kehidupan serta membangun masa depan anak-anak yang lebih baik.
Setelah membaca artikel di atas, jangan lupa tonton serialnya juga yaa!
______________________
Deden Akmal Fauzi Agustin
