Dari Bukit Siguntang ke Republik: Merancang Pusat Khazanah Arsip Melayu di Riau

Peneliti Pusat Riset Kewilayahan- Badan Riset dan Inovasi Nasional
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dedi Arman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) akan membangun Pusat Layanan Khazanah Kearsipan Melayu Nusantara (PKAN) di Riau. Pembangunan gedung beserta sarana prasarana pendukung, serta interior dan diorama di dalamnya anggarannya Rp60-an miliar. Proyek telah memasuki tahap finalisasi desain teknis dengan dukungan anggaran tahun 2026 melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Pemilihan Riau sebagai lokasi pembangunan PKAN ini pertimbangannya adalah Riau salahsatu pusat peradaban Melayu nusantara. Selain itu, juga dukungan Pemprov Riau berupa hibah lahan seluas 8.125 M². Tahun 2024 ditetapkan grand desain Riau sebagai pilot project pusat arsip tematis. Tidak hanya aspek pembangunan gedung, ANRI sangat fokus dalam menyiapkan perencanaan konten diorama PKAN. Selain konsultan, juga melibatkan dewan pakar dibawah koordinasi Dr Mukhlis PaEni, sejarawan yang juga mantan Kepala ANRI.
Kekuatan Storyline
Salahsatu masukan yang diberikan Dr Mukhlis PaEni adalah dalam storyline PKAN di Riau ini dibatasi periodesasinya. Dimulai dari kisah Bukit Siguntang di Palembang dengan sejumlah prasastinya hingga periode berdirinya Republik Indonesia. Batasan akhirnya adalah saat Kesultanan Siak dibawah Sultan Syarif Kasim II menyatakan bergabung dengan NKRI tahun 1945 dan menyumbangkan sejumlah harta kesultanan.
Dari berbagai dewan pakar, ANRI telah membuat usulan storyline diorama PKAN. Storyline PKAN disusun dalam enam hall yang menggambarkan perjalanan panjang peradaban Melayu dari mitos asal-usul hingga warisan budaya yang hidup hingga kini. Hall A berjudul Bukit Siguntang menampilkan legitimasi awal raja-raja Melayu melalui kisah Sang Sapurba dan sumpah setia dengan Demang Lebar Daun sebagai dasar kontrak sosial antara raja dan rakyat. Hall B berjudul Emporium Malaka menggambarkan kejayaan Malaka sebagai pusat perdagangan dunia serta kejatuhannya pada 1511 yang memicu diaspora politik Melayu ke Johor, Riau, dan Lingga. Sementara itu, Koridor Aksara Jawi memperlihatkan bagaimana Islam, bahasa Melayu, dan huruf Jawi menjadi perekat identitas serta fondasi tradisi intelektual Melayu ketika pusat kekuasaan politik mengalami perubahan.
Perjalanan berlanjut pada Hall C berjudul Daulat yang Terbelah. Ini menampilkan dinamika politik Melayu di tengah persaingan kolonial hingga Traktat London 1824 yang membelah dunia Melayu. Hall D berjudul Fajar Budi memperlihatkan perlawanan intelektual melalui tradisi literasi, gerakan Rusydiah Klub, serta kontribusi Raja Ali Haji dalam pembentukan bahasa Melayu modern. Hall E berjudul Gelombang Revolusi dan Muara Republik menampilkan pergolakan masa revolusi serta integrasi kesultanan Melayu ke dalam Republik Indonesia. Rangkaian ini ditutup oleh Hall F berjudul Khazanah Hidup, sebuah ruang reflektif yang merayakan kekayaan budaya Melayu mulai dari tradisi, seni, hingga manuskrip klasik sebagai warisan peradaban yang terus hidup dan memberi jejak bagi dunia.
Hal lain yang jadi catatan dan masukan dewan pakar adalah keberadaan PKAN ini nantinya jangan sampai seperti museum konvensional Melayu biasa. Museum umum biasanya menampilkan koleksi artefak-artefak memadati ruangan. Idealnya pusat khazanah Arsip Melayu menampilkan teknologi tinggi. Arsip yang ditampilkan arsip berkualitas dan disuguhkan dengan tampilan sentuhan teknologi modern. Ini akan menjadi daya tarik pengunjung khususnya generasi muda.
Ikon Wisata dan Pusat Studi Melayu
Keberadaan Pusat Layanan Khazanah Arsip Melayu Nusantara di Riau sangat menguntungkan Negeri Lancang Kuning ini. Alasannya sederhana, PKAN ini dipastikan akan salahsatu ikon wisata Provinsi Riau. Khazanah arsip Melayu selama ini lebih terpusat di Provinsi Kepulauan Riau, dengan dua pusat daerah, yakni Pulau Penyengat (Tanjungpinang) dan Daik Lingga (Kabupaten Lingga). Kedua daerah merupakan bekas pusat Kerajaan Riau Lingga.
Sementara, Riau lebih identik dengan tinggalan sejarah berupa Istana Siak peninggalan Kesultanan Siak. Keberadaan PKAN dengan koleksi-koleksi arsipnya nantinya jadi magnet baru. Untuk memahami Melayu nusantara bisa datang ke PKAN Riau. Keberadaan PKAN akan mendukung studi Melayu di Riau. Sebelumnya telah memiliki Perpustakaan Soeman Hs, salahsatu perpustakaan terbesar dan termegah di Indonesia.
Pada akhirnya, pembangunan Pusat Khazanah Arsip Melayu Nusantara di Riau bukan sekadar proyek fisik membangun gedung baru. Ia adalah upaya merawat ingatan kolektif sebuah peradaban. Melalui arsip, manuskrip, dan narasi sejarah yang ditata secara imersif, generasi kini dan mendatang dapat menelusuri jejak panjang perjalanan Melayu dari legenda Bukit Siguntang, kejayaan Malaka, dinamika politik kolonial, hingga keputusan bersejarah Kesultanan Siak bergabung dengan Republik Indonesia.
Jika dirancang dengan baik, PKAN bukan hanya menjadi pusat arsip, tetapi juga ruang belajar yang hidup tentang jati diri Melayu. Ia dapat menjadi simpul pertemuan antara sejarah, ilmu pengetahuan, dan pariwisata budaya. Dari ruang inilah publik diajak memahami bahwa sejarah Melayu bukan sekadar masa lalu yang jauh, melainkan bagian penting dari fondasi kebangsaan Indonesia hari ini. Sebab pada akhirnya, memahami arsip Melayu berarti memahami salah satu akar penting lahirnya Indonesia. **
