Konten dari Pengguna

Tradisi Wiwitan: Menolak Punah di Tengah Gempuran Modernisasi

Dedi Kurniawan

Dedi Kurniawan

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Teknik Mesin

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dedi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi padi yang sudah menguning sebelum diadakan tradisi wiwitan. Sumber: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi padi yang sudah menguning sebelum diadakan tradisi wiwitan. Sumber: pixabay

Bagi generasi yang tumbuh di era 80 hingga 90-an, sore hari di musim panen selalu menjadi momen yang paling ditunggu untuk melihat tradisi Wiwitan. Anak-anak kala itu akan berkumpul di pematang sawah, menanti para petani menggelar ritual kearifan lokal ini. Meski dilakukan dengan sederhana, keceriaan berburu nasi wiwit meninggalkan kesan mendalam. Namun, di tengah gempuran modernisasi saat ini, apakah anak-anak zaman sekarang masih mengenal tradisi adiluhung ini?

Upacara Wiwit adalah tradisi leluhur masyarakat jawa yang dilakukan petani sebelum memulai panen padi. Ritual ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada Dewi Sri (Dewi Padi) atas limpahan rezeki dan hasil panen yang melimpah. Tradisi turun-temurun ini dilestarikan di berbagai desa budaya salah satunya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Makna Filosofis Hidangan Kuliner dalam Tradisi Wiwitan

Dalam pelaksanaannya, petani akan menyiapkan perlengkapan ritual (ubarampe) yang sarat akan makna simbolis. Hidangan utamanya adalah nasi wiwit, yang bisa berupa nasi megono, nasi sambel gepleng, atau nasi gurih. Sajian ini kemudian dilengkapi dengan gudangan (urap), ayam ingkung kampung, tahu, tempe, serta aneka jajanan pasar dan buah-buahan.Di beberapa daerah di Yogyakarta, prosesi dimulai dengan kirab atau arak-arakan. Petani dan warga berjalan beriringan membawa ubarampe dari rumah pemilik ladang menuju sudut petak sawah. Sesampainya di sana, sesaji ditata rapi untuk didoakan bersama yang dipimpin oleh sesepuh kampung atau pemuka agama setempat, yang biasa disebut Mbah Kaum atau Rois. Doa dipanjatkan agar proses panen berjalan selamat, hasil melimpah, dan terhindar dari serangan hama.Puncak ritual ditandai dengan pemotongan untaian padi pertama oleh sesepuh atau pemilik sawah menggunakan alat tradisional ani-ani. Padi yang dipotong ini tidak hanya menjadi simbol dimulainya masa panen, tetapi juga akan dipilih sebagai benih unggul untuk musim tanam berikutnya. Prosesi kemudian ditutup dengan kembul bujono atau makan bersama di atas pematang sawah. Momen inilah yang merekatkan kebersamaan, gotong royong, sekaligus menjadi sarana sedekah antarwarga.

Sejarah Tradisi Wiwitan: Dari Animisme Hingga Akulturasi Islam

Tradisi Wiwitan sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman kuno, jauh sebelum agama-agama formal masuk ke Nusantara. Lahir dari sistem pertanian berbasis kepercayaan animisme dan dinamisme, ritual ini mulanya murni ditujukan sebagai persembahan untuk menjaga kesuburan tanah melalui mitos Dewi Sri.Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh Islam di tanah Jawa, tradisi ini tidak lantas hilang, melainkan mengalami akulturasi budaya yang indah. Unsur mantra lama disesuaikan menjadi doa syukur kepada Allah SWT dalam bentuk sedekah bumi atau wilujengan. Esensi penghormatan terhadap alam tetap terjaga, namun nilai-nilainya kini selaras dengan ajaran agama.Ketika modernisasi dan mekanisasi pertanian mulai masuk, tradisi ini sempat meredup. Penggunaan traktor, hilangnya alat ani-ani, serta berkurangnya minat generasi muda untuk turun ke sawah sempat membuat intensitas Wiwitan menurun di beberapa tempat.

Strategi Revitalisasi Tradisi Wiwitan di Era Digital

Meski sempat terancam oleh zaman, tradisi Wiwitan hari ini menolak untuk punah. Di berbagai wilayah pedesaan Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur, ritual ini justru mengalami pergeseran fungsi yang positif melalui revitalisasi budaya.Pemerintah daerah bersama instansi pendidikan, seperti Dinas Kebudayaan DIY dan Pusat Inovasi Agroteknologi UGM, kini aktif memfasilitasi upacara ini sebagai agenda budaya resmi. Di beberapa desa wisata, seperti di Klaten, Wiwitan bahkan dikemas menjadi festival budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara.Secara ilmiah, tradisi ini pun terbukti memiliki fungsi penting sebagai ruang seleksi benih padi terbaik secara tradisional. Konsistensi sajian dalam tenong atau tampah yang dinikmati bersama di sawah membuktikan bahwa nilai luhur kebersamaan tidak pernah berubah.Menjaga kelestarian tradisi Wiwitan di era globalisasi bukan sekadar urusan bernostalgia dengan masa lalu. Ini adalah langkah nyata untuk merawat kearifan lokal, menjaga keseimbangan alam, dan mengenalkan identitas budaya bangsa kepada anak-anak generasi masa kini agar mereka tidak kehilangan akarnya.