Salinitas Air Laut di Indonesia

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Fakultas Teknologi Kelautan, Departemen Teknik Kelautan.
Tulisan dari Dedy Rizaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kata Salinitas mungkin masih jarang terdengar oleh masyarakat awam di Indonesia. Oleh karena itu, sebelum membahas topik di atas mari kita bahas apa itu salinitas sendiri. Salinitas pertama kali dikemukakan oleh C. FORCH, M. KNUDSEN, dan S.PX. SOREN-SEN tahun 1902. Salinitas didefinisikan sebagai berat dalam gram semua zat padat yang terlarut pada 1 kg air laut. Nilai salinitas dinyatakan dalam g/kg yang umumnya dituliskan dalam ‰ atau ppt yaitu singkatan dari part-per-thousand. Selanjutnya, DEFANT pada tahun 1961 (MAMAYEV 1975), menunjukkan bahwa salinitas air laut kira-kira 0,14 ‰ lebih kecil dibandingkan dengan kadar garam sesungguh-nya yang ada di air laut. Garam yang dimaksud dengan garam di sini ialah istilah garam dalam pengertian kimia, yaitu semua senyawa yang terbentuk akibat reaksi asam dan basa. Jadi bukannya garam dalam arti garam dapur saja. Menurut KBBI Salinitas adalah tingkat kandungan garam air laut, danau, sungai dihitung dalam ‰ (perseribu)
Setelah mengetahui definisi dari salinitas menurut beberapa ahli, tentu kita perlu mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat salinitas tersebut. Salinitas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
Penguapan
Air memiliki kandungan mineral organik dan satu di antaranya adalah garam. Apabila air menguap, garam dan kandungan mineral tersebut akan tertinggal dan mengendap di dasar laut. Maka dari itu, semakin banyak air menguap, maka tingkat salinitas akan semakin tinggi begitu pula sebaliknya.
Pemasukan air tawar
Sama halnya dengan larutan yang terlalu asin, salah satu cara menetralkannya adalah dengan menambahkan air tawar ke dalamnya, maka lama-kelamaan kandungan garam akan menurun. Pada kasus kadar garam di laut, air tawar bisa berasal dari hujan, air sungai atau rawa, dan juga dari es yang mencair di daerah kutub.
Pencampuran air
Hal ini terjadi pada Laut Mati dan Laut Hitam. Laut Mati dengan kadar garam yang sangat tinggi karena pada dasarnya Laut Mati merupakan danau asin. Danau tidak terhubung dengan lautan namun, diakibatkan volume air pada Laut Mati menurun cukup jauh hingga permukaannya nampak, maka dibuatlah sebuah muara yang mengubungkan Laut Mati dengan Laut Hitam. Hal ini juga guna munurunkan tingkat salinitas yang ada di Laut Matin.
Air sungai
Semakin banyak sungai yang bermuara ke laut, tingkat salinitas air laut akan berkurang, karena tercampur dengan air laut yang berkadar lebih rendah.
Letak dan ukuran laut
Laut yang terisolasi atau tidak terhubung dengan laut lepas akan memiliki salinitas tinggi. Seperti kasus danau garam, Laut Mati, air di dalam danau sebanyak tujuh juta ton air menguap setiap harinya dan membuat endapan garam di dasar semakin banyak.
Arus laut
Laut yang dipengaruhi arus panas, maka salinitasnya akan naik (tinggi). Hal ini berlaku pula sebaliknya, dimana laut yang dipengaruhi arus dingin, maka salinitasnya akan turun (rendah).
Kelembaban udara
Semakin banyak terjadi penguapan, maka udara di sekitar menjadi lembab. Maka semakin tinggi pula salinitas air laut.
Kandungan mineral
Konsentrasi mineral tertinggi dalam air laut adalah kandungan magnesiumnya. Air tawar dan air laut, keduanya memiliki magnesium. Namun, jumlah yang terkandung dalam air laut lebih besar, sehinga ini membuktikan bahwa semakin banyak kmineral yang dikandung oleh air, maka air tersebut semakin asin. Hal ini juga dibuktikan oleh kondisi Laut Mati.
Pemetaan tingkat salinitas di Indonesia sudah dilakukan pada tahun 1949, saat itu Indonesia belum memiliki fasilitas yang maju. Namun, keadaan tersebut dapat diatasi dengan membina kemitraan berasas sukarela dengan kapal-kapal niaga yang secara reguler berlayar ke seluruh pelosok perairan Nusantara. Dalam kurun waktu 1950-1954 diperoleh kurang lebih 147.000 sampel salinitas yang dapat menjadi dasar penyusunan peta sebaran dan karakteristiknya. Lembaga Penyelidikan Laut (LPL) meneliti sampel yang udah terkumpul dengan metode titrasi kimia (metode Knudsen). Untuk itu sejumlah teknisi dilatih khusus untuk melaksanakan tugas besar tersebut. Mengantisipasi jumlah sampel yang amat besar ini, maka Arnold (1951) kemudian mengenalkan metode mikro dalam titrasi kimia untuk penetapan salinitas yang memerlukan volume sampel air laut yang cukup 1 ml saja dengan akurasi 0,1 ‰ (per mil, atau g/kg). Metode ini dipandang sangat cocok untuk menangani sampel yang sangat banyak. Akurasi 0,1 ‰ ini dipandang cukup untuk keperluan ini, mengingat salinitas di perairan Nusantara mempunyai variasi musiman yang besar. Pada saat itu belum zamannya komputer, database salintasnya dibangun berdasarkan sistem kartu. Database ini kemudian banyak dimanfaatkan untuk berbagai kajian oseanografi di Nusantara. Peta yang dapat menggambarkan sebaran salinitas akhirnya didapat. Gambar 1 menunjukkan rata-rata persebaran salinitas perairan Nusantara dan sekitarnya pada bulan Februari yang basah, dan bulan Agustus yang kering sebagaimana yang disarikan oleh Wyrtki
(1956). Wyrkti menggolongkan salinitas di perairan Nusantara dalam empat golongan:
Air samudra (oceanic water), dengan salinitas lebih dari 34 ‰;
Air campuran (mixed water), dengan salinitas 32-34 ‰, yang merupakan campuran air samudra dan air pesisir, daerah liputannya sangat luas;
Air pesisir (coastal water), dengan salinitas 30-32 ‰;
Air “sungai” ( “river” water), di bawah 30 ‰, yang terdapat di depan muara-muara sungai besar.
Untuk sekarang tingkat salinitas di laut Indonesia mungkin sudah meningkat, mengingat laju pertumbuhan Indonesia yang cukup cepat dan pemanasan global yang terjadi pada saat ini. Tentu saja meningkatnya salinitas ini akan mempengaruhi perilaku biota yang ada di laut Indonesia.
Referensi :
Oseana, Volume IX, Nomor 1 : 3-10,1984. http://www.oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_ix(1)3-10.pdf
http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/04%20LPL%20Salinitas.pdf
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/laut/faktor-yang-mempengaruhi-kadar-garam-air-laut
