Gabungan Ibu PKK Batuan Tingkatkan Keterampilan Olah TOGA
Tulisan dari Dee Wiguna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gianyar, Bali — Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, mulai diarahkan tidak hanya pada kegiatan budidaya, tetapi juga pada peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolahnya menjadi produk herbal. Hal tersebut diwujudkan melalui pelatihan pengolahan TOGA menjadi jamu yang dilaksanakan oleh Tim PPK Ormawa Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) Universitas Udayana pada 19 Agustus 2026 di Balai Baturan, Puspaman Desa Batuan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program AROGYA: “Revitalisasi Usada Bali dan Tri Hita Karana dalam Pemberdayaan Masyarakat Batuan Menuju Desa Sehat Berkelanjutan.” Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan tanaman obat yang tersedia di lingkungan sekitar sekaligus memperkuat upaya preventif terhadap permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian di Desa Batuan.
Pelatihan dihadiri oleh kader kesehatan, Bdn. Ni Kadek Sari Purnama Dewi, S.Tr.Keb dari Puskesmas Sukawati I sebagai pemateri, serta ibu-ibu PKK yang menjadi salah satu sasaran utama program. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik langsung pengolahan TOGA menjadi produk jamu yang dapat dibuat secara mandiri di rumah.
Dimulai dari Edukasi Kesehatan
Kegiatan diawali dengan edukasi yang disampaikan oleh pihak Puskesmas Sukawati I mengenai tanaman obat keluarga dan pemanfaatannya dalam mendukung kesehatan. Edukasi tersebut menjadi dasar sebelum peserta memasuki sesi praktik pengolahan.
Materi dikaitkan dengan pentingnya upaya preventif dalam menjaga kesehatan keluarga, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus di Desa Batuan. Selain itu, masyarakat juga diarahkan untuk memahami pentingnya menjaga kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi penyakit yang rentan muncul pada musim penghujan, termasuk chikungunya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan rancangan AROGYA yang menempatkan edukasi PHBS, pola konsumsi sehat, aktivitas fisik, pemanfaatan TOGA, serta pengelolaan lingkungan sebagai bagian yang saling terhubung dalam upaya membangun Desa Sehat.
Dalam konteks chikungunya, pemanfaatan TOGA tidak ditempatkan sebagai pengganti pencegahan berbasis lingkungan maupun pelayanan kesehatan. Sebaliknya, pelatihan menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang lebih luas, sementara pencegahan chikungunya tetap diarahkan melalui pengelolaan lingkungan dan upaya pengendalian faktor risiko penyakit.
Belajar Mengolah Empat Jenis Jamu
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pengolahan TOGA menjadi produk jamu tradisional. Peserta mempraktikkan secara langsung pembuatan jamu kunyit, jamu beras kencur, jamu sirih, dan jamu daun kayu manis.
Praktik tersebut dipandu oleh Ibu Ketut Sutini, salah satu pengolah jamu dari Desa Batuan. Kehadiran pengolah jamu lokal memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar secara langsung dari masyarakat yang telah memiliki pengalaman dalam mengolah tanaman menjadi minuman herbal tradisional.
Peserta mengikuti proses pengolahan mulai dari pengenalan bahan, persiapan, hingga proses pembuatan jamu. Dengan metode praktik langsung, pengetahuan yang diperoleh tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat langsung diterapkan oleh peserta di lingkungan rumah masing-masing.
Empat jenis jamu yang diperkenalkan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali pemanfaatan tanaman obat dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaannya diarahkan sebagai bagian dari pola hidup sehat dan pemanfaatan potensi lokal, bukan sebagai pengganti pengobatan medis bagi masyarakat yang mengalami penyakit.
Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal
Pengembangan TOGA dalam program AROGYA juga tidak terlepas dari upaya menghubungkan kesehatan masyarakat dengan kearifan lokal Bali. Program ini menggunakan Usada Bali dan Taru Permana sebagai salah satu landasan dalam pemilihan tanaman obat yang dikembangkan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari identitas AROGYA yang berupaya mempertemukan pengetahuan lokal dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan teknologi. Pemanfaatan TOGA kemudian ditempatkan sebagai salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi lingkungan dan pengetahuan yang telah berkembang di masyarakat Bali.
Kearifan lokal tersebut juga berjalan berdampingan dengan konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan manusia dengan lingkungan atau Palemahan. Melalui budidaya dan pengolahan TOGA, masyarakat didorong untuk melihat lingkungan sekitar sebagai bagian dari sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung kesehatan keluarga.
Meningkatkan Soft Skill dan Hard Skill Masyarakat
Pelatihan pengolahan jamu tidak hanya bertujuan menghasilkan minuman herbal, tetapi juga menjadi sarana peningkatan hard skill dan soft skill masyarakat.
Hard skill peserta dikembangkan melalui keterampilan teknis dalam mengenali bahan, mempersiapkan, mengolah, dan menghasilkan produk jamu yang dapat dibuat secara mandiri. Sementara itu, soft skill berkembang melalui interaksi, komunikasi, kerja sama, dan keberanian peserta untuk terlibat langsung selama proses pelatihan.
Bagi Tim PPK Ormawa HME, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dari konsep pemberdayaan yang dibawa AROGYA. Masyarakat diharapkan tidak hanya menerima informasi mengenai TOGA, tetapi mampu mengolah dan memanfaatkannya secara mandiri.
Hal tersebut sejalan dengan rancangan program yang menempatkan pelatihan pengolahan TOGA sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sekaligus mengembangkan hasil TOGA menjadi produk bernilai ekonomi.
Antusiasme Ibu-Ibu PKK
Suasana pelatihan berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Ibu-ibu PKK yang menjadi peserta terlibat langsung dalam proses pembuatan jamu dan mengikuti setiap tahapan praktik yang diberikan.
Bagi peserta, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru yang dapat diterapkan kembali di rumah. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berlangsung seru dan bermanfaat karena memberikan keterampilan baru dalam mengolah jamu secara mandiri.
“Kegiatannya seru dan sangat bermanfaat. Kami suka mendapat pelatihan seperti ini karena diajarkan untuk mengolah jamu secara mandiri.”
Antusiasme peserta menjadi salah satu modal penting dalam keberlanjutan program. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat dibagikan kembali kepada keluarga maupun masyarakat di lingkungan banjar masing-masing.
Dari Jamu Rumah Tangga Menuju Potensi Produk Desa
Pelatihan pengolahan TOGA juga menjadi tahap awal dalam rencana pengembangan produk herbal Desa Batuan. Setelah peserta memperoleh keterampilan dasar dalam mengolah jamu, produk yang dihasilkan akan mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan yoga dan senam di Puspaman.
Pada tahap berikutnya, Tim PPK Ormawa HME berencana memperluas sosialisasi produk kepada pelaku UMKM di sejumlah lokasi wisata strategis di Desa Batuan. Langkah tersebut diarahkan untuk membuka peluang agar produk olahan TOGA tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk lokal yang bernilai ekonomi.
Rencana tersebut sejalan dengan arah program AROGYA yang menempatkan pengolahan TOGA dan pendampingan pemasaran sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Desa Batuan. Dalam roadmap program, pengembangan produk herbal dan unit usaha desa menjadi bagian dari tahap penguatan ekonomi yang dirancang berkelanjutan.
Dengan demikian, pelatihan pada 19 Agustus tidak berhenti pada kegiatan membuat jamu. Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan untuk membangun rantai pemberdayaan yang dimulai dari budidaya TOGA, peningkatan keterampilan pengolahan, pemanfaatan untuk kesehatan keluarga, hingga pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Pengetahuan yang Diharapkan Menyebar
Bdn. Ni Kadek Sari Purnama Dewi, S.Tr.Keb., selaku pemateri dari Puskesmas Sukawati I, berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Semoga ibu-ibu PKK yang hadir hari ini dapat menyosialisasikan kembali pelatihan ini di banjar masing-masing, sehingga semakin banyak lagi ibu-ibu rumah tangga yang terampil mengolah TOGA untuk pencegahan penyakit di tingkat rumah tangga.”
Harapan tersebut menjadi bagian penting dari konsep pemberdayaan AROGYA. Ibu-ibu PKK yang mengikuti pelatihan diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak pengetahuan di lingkungan masing-masing.
Melalui pemanfaatan TOGA yang dimulai dari rumah, Tim PPK Ormawa HME 2026 berupaya membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat Desa Batuan. Dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah, masyarakat diarahkan untuk mengenal, mengolah, memanfaatkan, dan pada tahap selanjutnya mengembangkan potensi tersebut menjadi produk herbal yang dapat memberi nilai tambah bagi keluarga dan desa.

