Ketika Tarot Menjadi Konten Viral: Mengapa Ramalan Populer di Kalangan Gen Z?

I am a Sociology Education student from Faculty of Social Sciences and Law (FISH) at State University of Jakarta, sharing critical thoughts, research findings, and social reflections through writing.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Defrisza Shandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat ini, perkembangan teknologi sudah sangat pesat. Tersaji dengan banyaknya konten viral yang tersebar luas dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang berbagai informasi, hiburan, dan bahkan praktik spiritual yang sebelumnya tertutup. Platform digital saat ini juga semakin bervariasi, yang membuat banyaknya hal-hal baru yang terjadi dan tersaji di media sosial. Media sosial, terutama TikTok, telah berkembang dari hanya tempat berbagi momen menjadi tempat di mana orang mencari makna, hiburan, dan bahkan petunjuk hidup. Salah satunya adalah fenomena munculnya konten berupa pembacaan kartu yang dianggap dapat membaca "nasib" dari seseorang, yaitu konten tarot reading. Dalam hal ini, mengapa konten prediksi nasib, terutama melalui praktik tarot reading, begitu digemari dan dipercaya oleh banyak orang terutama oleh anak muda kalangan Gen Z?

Dahulu orang-orang mungkin perlu datang ke toko buku metafisika atau tempat spiritual alternatif untuk menemukan tarot reader yang ingin mereka temui untuk membaca nasib mereka. Namun, sekarang orang-orang dapat dengan mudah untuk menemukan tarot reader yang beredar di media sosial, salah satunya di TikTok. Jika dahulu tarot dikenal sebagai praktik mistik yang dilakukan secara tertutup, kini tarot menjadi tontonan publik, bahkan komoditas yang diperjualbelikan secara terbuka. Cukup dengan sekali search & scroll, teman-teman bahkan dapat dengan mudah untuk menemukan narasi-narasi seperti, "Kalau kamu lihat video ini, ini bukan kebetulan. Ini pesan dari semesta untuk kamu.." atau, "Ada yang lagi rindu kamu, tetapi orang itu malu untuk mengungkapnya." Hal seperti ini, dapat meningkatkan algoritma yang ada menjadi sebuah "takdir" yang mereka butuhkan saat ini. Pasalnya, tarot reading sering kali muncul pada beranda disaat para Generasi Z membutuhkan validasi atas pemikiran dan takdir mereka di tengah dunia yang tidak pasti. Dalam hal inilah, penonton merasa bahwa semesta berbicara langsung kepada mereka.
Apa Itu Tarot?
Tarot dapat dikatakan sebagai jenis-jenis kartu yang digunakan oleh pembacanya untuk meramal atau mengetahui dan memberikan wawasan tentang masa lalu, sekarang, dan masa depan, biasanya dengan menggunakan set 78 kartu yang berbeda. Setiap kartu memiliki arti dan interpretasi yang berbeda, dan pembaca dapat menggunakan kartu-kartu ini untuk menjawab pertanyaan atau membantu mereka memahami berbagai aspek kehidupan.
Dalam hal ini, dek tarot dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Major Arcana dan Minor Arcana. Major Arcana, yang terdiri dari 22 kartu berbeda, Melambangkan tentang perjalanan spiritual, pelajaran hidup penting, dan aspek universal kehidupan manusia. Contohnya The Fool (awal perjalanan), The Magician (kekuatan mewujudkan keinginan), dan The High Priestess (intuisi dan kebijaksanaan). Selanjutnya ada Minor Arcana, yang terdiri dari 56 kartu. Dalam Minor Arcana, terbagi menjadi empat kelompok, yaitu Tongkat (Wands, mewakili semangat dan kreativitas), Pedang (Swords, pikiran dan konflik), Piala (Cups, emosi dan hubungan), dan Koin (Pentacles, materi dan keuangan). Fungsi dari Minor Arcana dalam tarot reading sendiri sebagai perwakilan dari elemen kehidupan sehari-hari seperti semangat, pikiran, emosi, dan materi.
Tarot yang dikenal sebagai "carte da trionfi" atau triumph cards pertama kali muncul di Italia utara sekitar tahun 1440-an. Tarot pada awalnya bukanlah alat ramalan. Kartu tarot dimainkan dengan cara yang sama seperti permainan kartu biasa, seperti bridge atau permainan strategi visual. Bahkan, tidak memiliki unsur-unsur misterius atau religius seperti saat ini.
Mengapa Banyak yang Tertarik DenganTarot di TikTok?
Saat ini, tarot yang beredar di media sosial tidak lagi menciptakan aura mistis seperti tarot reading aslinya, yang terkesan gelap dan memiliki aura mistis di sekitarnya. Di media sosial, khususnya di TikTok, konten tarot reading dikemas dengan ambience atau nuansa yang aesthetic. Seperti dengan adanya bola-bola kristal atau disambut dengan musik-musik menenangkan. Apalagi, tarot reader yang beredar pun akan menyapa penonton dengan sapaan halus yang membuat penonton akan tetap berada di video mereka. Hal seperti inilah yang membuat mereka tertarik dengan tarot reading di TikTok. Apalagi, terkadang konten seperti tarot ini lewat disaat seseorang membutuhkan validasi atas pemikiran diri mereka sendiri, hal ini terjadi karena algoritma TikTok yang menentukan konten apa saja yang pas untuk suasana hati kita saat ini. Dalam hal ini, mereka mencari jawaban atau kepastian yang sesuai dengan kondisi hidupnya, sehingga ramalan tarot terasa relevan dan personal meskipun sifatnya umum. Karena, konten tentang tarot reading yang beredar hanyalah konten yang dibuat secara umum, biasanya para tarot reader akan menawarkan para penonton untuk membayar sejumlah uang untuk mendapatkan tarot reading ekslusif hanya untuk mereka. Selain hal tersebut, para penonton dibuat penasaran dengan adanya tarot reading tersebut. Pasalnya, tarot reading yang lewat pasti saja memiliki kesamaan dengan suasana hati mereka yang menonton, maka dari itu mereka akan menonton tarot reading tersebut karena memiliki rasa penasaran yang tinggi.
TikTok membuat orang merasa terlibat secara religius, meskipun kontennya sangat banyak. Karena mekanisme FYP (For You Page), orang percaya bahwa video tarot "ditakdirkan muncul" saat mereka bingung, bingung, atau sedih. Sebenarnya, itu adalah hasil dari behavioral data tracking, yang memungkinkan sistem untuk memahami kebiasaan digital dan menyesuaikan konten dengan tepat.
Interaksi antara penonton dan pembaca tarot memunculkan interaksionisme simbolik, yang di mana dikemukakan oleh beberapa ahli sosiolog, yaitu John Dewey, Chales Horton Cooley, George Hebert Mead dan Hebert Blumer. Teori behaviorisme sosial mendasari teori interaksionisme simbolik, yang berfokus pada interaksi alami yang terjadi antara individu dalam masyarakat mereka sendiri dan antara masyarakat dan individu. Simbol yang diciptakan oleh individu membentuk interaksi ini. Dalam hal ini, teori interaksionisme simbolik berkaitan dengan tarot reading karena tarot reading di TikTok menghadirkan simbol-simbol seperti kartu "The Lovers", "Death", atau "The Star", yang bisa dimaknai berbeda oleh tiap individu. Meskipun tidak terjadi secara langsung atau tatap muka, tarot reading di TikTok pada dasarnya adalah interaksi sosial yang penuh simbolisme.
Dalam refleksi kependidikan, perkembangan teknologi digital telah menciptakan lanskap kehidupan baru yang begitu luas, cepat, dan kompleks dan yang paling parah, pendidikan tampaknya tertinggal jauh di belakang. Karena, pada dasarnya orang-orang hanya mengatahui pendidikan hanya sebatas tempat bertukar atau mentransfer pengetahuan dari seorang guru ke murid saja. Seperti, guru menyampaikan materi, siswa mendengarkan, lalu diukur melalui ujian dan nilai. Namun, realitas generasi muda hari ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita belum mampun memberikan siswa kecerdasan emosional dan spiritual yang mendalam. Dunia pendidikan harus berani mengubah paradigma pengajarannya, beralih dari berfokus pada penguasaan materi ke pengembangan diri. Sebagai contoh, pembelajaran tentang literasi digital dapat mulai diberlakukan pada zaman sekarang yang serba modern. Guru juga harus mampu sebagai pendamping pembelajaran emosional dan spiritual juga, bukan hanya sekadar pemberian materi. Dengan begitu, siswa tidak lagi bergantung pada ramalan atau afirmasi viral, tetapi mampu berdiri tegak atas pilihan dan pemahaman dirinya.
Ramalan tarot di TikTok bukan sekadar trend viral, tetapi cerminan masyarakat modern yang mendambakan makna, arah, dan ketenangan. Ramalan ini muncul karena adanya kekosongan dalam hubungan sosial, institusi, dan spiritualitas formal yang tidak lagi relevan bagi sebagian orang. Dari perspektif sosiologis, tarot merupakan simbol transisi masyarakat dari era kepastian menuju era pencarian makna pribadi. Tugas pendidikan dan masyarakat bukanlah mematikan fenomena ini, tetapi mendampingi generasi muda agar mereka dapat memaknai hidup secara sadar, rasional, dan tetap manusiawi.
