Ketika Lampu Mulai Padam di Kuba

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Deki Kurniawansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bertahun tahun, Kuba sering dibicarakan sebagai negara yang sulit dipisahkan dari sejarah dan politik. Nama negara ini hampir selalu muncul bersama perdebatan panjang tentang ideologi, embargo, atau posisi uniknya dalam peta dunia. Namun di balik semua pembacaan besar tersebut, ada kehidupan sehari hari yang berjalan lebih sederhana dari narasi politik yang selama ini melekat pada Kuba. Ada keluarga yang menyiapkan makan malam, pedagang kecil yang membuka toko sejak pagi, pekerja yang berangkat seperti biasa, dan anak anak yang tetap pergi ke sekolah. Dalam beberapa tahun terakhir, rutinitas yang terlihat biasa itu mulai berubah bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari hari, yaitu listrik yang semakin sulit dianggap pasti.
Sepanjang 2024 dan berlanjut ke 2025, Kuba kembali menghadapi tekanan energi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Pemadaman listrik menjadi semakin sering terjadi di berbagai wilayah, termasuk kawasan yang sebelumnya relatif lebih stabil. Situasi tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan sektor pariwisata yang masih berusaha kembali ke tingkat sebelum pandemi. Pemerintah berupaya menjaga stabilitas sistem energi, tetapi tekanan yang datang dari keterbatasan pasokan bahan bakar, infrastruktur yang menua, serta ruang fiskal yang terbatas membuat pemulihan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.
Dari luar, krisis seperti ini mungkin terlihat sebagai persoalan teknis yang dapat dijelaskan lewat angka produksi listrik atau laporan ekonomi tahunan. Namun ketika kondisi tersebut masuk ke kehidupan sehari hari, dampaknya berubah menjadi jauh lebih konkret. Waktu memasak mulai menyesuaikan jadwal listrik. Penyimpanan makanan menjadi lebih rumit. Pelaku usaha kecil mulai mempertimbangkan ulang jam operasional. Restoran yang biasanya buka sampai malam memilih tutup lebih awal karena biaya dan ketidakpastian yang semakin tinggi.
Yang menarik adalah perubahan tersebut tidak selalu terlihat dramatis. Tidak ada perubahan besar yang mengubah wajah kota dalam satu malam. Kehidupan tetap berjalan. Orang tetap bekerja. Pasar tetap buka. Transportasi tetap bergerak. Justru karena perubahan itu datang secara perlahan, dampaknya menjadi lebih sulit disadari dari luar. Ketika sesuatu yang sebelumnya dianggap normal mulai membutuhkan penyesuaian setiap hari, masyarakat tidak hanya mengubah kebiasaan mereka, tetapi juga mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap keadaan.
Di titik inilah krisis energi menjadi lebih dari sekadar persoalan pasokan listrik. Ia mulai memengaruhi cara masyarakat membangun rasa aman dalam kehidupan sehari hari. Banyak hal yang sebenarnya kita anggap kecil ternyata hanya bisa berjalan karena ada kepastian bahwa listrik tersedia, distribusi berjalan, dan ritme hidup dapat diprediksi. Ketika kepastian tersebut berkurang, yang berubah bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga cara orang membayangkan hari esok.
Kuba sebenarnya bukan negara yang asing dengan keterbatasan. Dalam sejarah modernnya, masyarakat Kuba sudah berkali kali melewati periode yang menuntut kemampuan beradaptasi tinggi. Namun bertahan dalam tekanan bukan berarti tekanan itu tidak meninggalkan perubahan. Ada perbedaan antara mampu menjalani keadaan dan merasa yakin bahwa keadaan sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
Hal tersebut mulai terlihat dari bagaimana masyarakat merespons situasi hari ini. Sebagian memilih menyesuaikan gaya hidup. Sebagian mengurangi pengeluaran. Sebagian lain mulai mempertanyakan apakah kesempatan yang mereka harapkan masih dapat ditemukan di dalam negeri. Pertanyaan seperti itu tidak selalu muncul dalam bentuk protes atau perdebatan politik. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, seperti keputusan untuk menunda rencana, membatasi kebutuhan, atau mempertimbangkan masa depan di tempat lain.
Meski demikian, Kuba tetap memperlihatkan sesuatu yang selama ini membuat negara tersebut menarik untuk diperhatikan. Di tengah keterbatasan yang berlangsung cukup lama, kehidupan sosial tidak benar benar kehilangan bentuknya. Orang tetap berkumpul. Aktivitas komunitas tetap berjalan. Musik tetap terdengar. Ada upaya menjaga kehidupan sehari hari tetap terasa normal meskipun kondisi di sekitarnya berubah.
Situasi Kuba hari ini tidak terlalu tepat dipahami hanya sebagai cerita tentang listrik yang padam atau ekonomi yang melambat. Yang terlihat sebenarnya adalah bagaimana sebuah masyarakat mencoba mempertahankan ritme hidup ketika kepastian mulai menjadi sesuatu yang semakin mahal.
Dunia mungkin akan terus melihat Kuba melalui data ekonomi, kebijakan negara, atau posisi politiknya di tingkat internasional. Namun di balik semua itu, ada jutaan orang yang setiap hari tetap menjalani kehidupan seperti biasa dan berharap besok tidak lebih sulit dari hari ini. Dalam banyak situasi, harapan semacam itu terdengar sederhana. Padahal sering kali, itulah hal paling penting yang membuat sebuah masyarakat terus bergerak meskipun keadaan belum benar benar berubah.
