Trump dan Xi Bertemu Saat Dunia Sedang Tidak Tenang

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Deki Kurniawansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing pekan ini langsung jadi perhatian dunia. Hubungan Amerika Serikat dan China memang selalu menarik untuk dibahas, tetapi summit kali ini terasa berbeda. Dunia sedang berada dalam situasi yang tidak benar-benar stabil.
Konflik Iran memanas. Harga minyak kembali naik. Pasar global bergerak sensitif. Ketegangan Taiwan juga belum mereda.
Pertemuan Trump dan Xi kali ini bukan lagi sekadar soal rivalitas dua negara besar. Banyak pihak melihat summit tersebut sebagai upaya menjaga situasi global agar tidak semakin sulit dikendalikan.
Selama beberapa tahun terakhir, hubungan Washington dan Beijing dikenal penuh tekanan. Perang dagang, pembatasan teknologi, sampai persaingan AI membuat hubungan kedua negara terus memburuk. Pada masa awal perang dagang, Trump datang dengan pendekatan keras terhadap China. Tarif impor dinaikkan. Produk teknologi China dibatasi. Amerika Serikat berusaha menekan pengaruh ekonomi Beijing yang terus tumbuh.
Namun, situasinya sekarang mulai berubah.
China tidak lagi terlihat terlalu defensif seperti beberapa tahun lalu. Ekonomi China memang menghadapi perlambatan, tetapi pengaruhnya dalam perdagangan global masih sangat besar. Dunia masih bergantung pada manufaktur China. Industri teknologi global juga masih membutuhkan rare earth dan rantai pasok dari kawasan tersebut.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat sedang menghadapi tekanan baru. Konflik Iran membuat pasar energi kembali tidak stabil. Ancaman terhadap Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru terhadap distribusi minyak dunia. Dalam kondisi seperti itu, hubungan AS dan China menjadi semakin penting bagi stabilitas ekonomi global.
Banyak analis melihat Washington kini tidak bisa hanya datang dengan pendekatan tekanan seperti sebelumnya. Amerika Serikat tetap membutuhkan komunikasi dengan Beijing untuk menjaga stabilitas pasar dan perdagangan internasional. Dunia masih terlalu terhubung dengan dua kekuatan ekonomi tersebut.
Itu sebabnya summit kali ini terasa lebih hati-hati.
Trump dan Xi memang masih bersaing dalam banyak hal. Persaingan teknologi belum berhenti. Taiwan tetap menjadi isu sensitif. Laut China Selatan juga masih menjadi titik ketegangan kawasan. Namun, kedua negara tampaknya sama-sama memahami bahwa konflik terbuka hanya akan memperburuk situasi global yang sudah tidak stabil.
China sendiri terlihat semakin percaya diri menghadapi tekanan internasional. Pengaruh ekonominya masih besar. Hubungan Beijing dengan Timur Tengah juga membuat posisi China semakin penting dalam percakapan global saat ini. Banyak pengamat mulai melihat posisi tawar China tidak lagi selemah dulu.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap ingin mempertahankan pengaruh globalnya. Washington tidak ingin China terlalu dominan dalam perdagangan, AI, maupun teknologi masa depan. Karena itu, rivalitas kedua negara kemungkinan tetap berjalan dalam jangka panjang.
Meski begitu, stabilitas tampaknya mulai menjadi kepentingan bersama.
Pasar global juga menunjukkan perhatian besar terhadap pertemuan ini. Investor berharap hubungan Washington dan Beijing tidak semakin memburuk. Jika ketegangan meningkat, dampaknya bisa langsung terasa pada perdagangan internasional, harga energi, sampai nilai mata uang di banyak negara.
Pada titik ini, hubungan AS dan China memang sulit dipisahkan dari arah ekonomi dunia. Apa yang terjadi di Beijing tidak lagi hanya berdampak bagi dua negara tersebut, tetapi juga bagi banyak negara lain yang ikut bergantung pada stabilitas global.
Karena itu, pertemuan Trump dan Xi kali ini tidak hanya dibaca sebagai agenda diplomasi biasa. Summit tersebut juga menjadi tanda bahwa di tengah dunia yang semakin tegang, komunikasi antara dua kekuatan besar tetap dibutuhkan untuk menjaga situasi global agar tidak semakin rapuh.
