Mbah Titut, Sosok dibalik Pawang Cowongan

A Communication and Science major Student at Amikom Purwokerto University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dela Fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyumas - Di sudut Desa Pangebatan, Karanglewas, garis antara seniman dan petani hidup dalam sosok Titut Edi Purwanto atau kerap disapa Mbah Titut. Ia kenal sebagai seniman nyentrik dengan perilaku aneh-aneh, tak jarang juga orang menyebutnya gila.
Sejak kecil Mbah Titut sudah tertarik pada seni, membaca tiap peristiwa seni kejadian hingga menjadi sebuah karya. Di depan rumahnya dipajang beberapa lukisan hasil karyanya, sertifikat dan piala yang tersusun rapih serta satu hal menarik perhatian siapapun yang datang ke rumah Mbah Titut yaitu buntelan kain kafan yang menyerupai pocong, memiliki makna tersendiri bahwa manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.
Pria berambut gondrong dan sorot mata tajam penuh semangat itu yang memperkenalkan cowongan ke masyarakat, sebuah ritual kuno memanggil hujan yang sudah ada sejak nenek moyang.
"Cowongan adalah karya seni petani untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta" Ujar Mbah Titut seraya merapihkan peci yang bertengger diatas rambut gondrongnya, pada Sabtu, 3 Januari 2026
Tradisi cowongan merupakan ritual kuno yang diwariskan sejak nenek moyang masyarakat Jawa. Mbah Titut mengangkat kembali tradisi cowongan sebagai seni pertunjukan. Dalam menciptakan karya seninya, Titut selalu mengambil sudut pandang hubungan manusia dengan Tuhan.
Makna Cowongan dalam Karya Seni Mbah Titut
Mbah Titut mendalami dan melafalkan kembali mantra-mantra kuno bukan untuk memerintah hujan, melainkan untuk mengangkat kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Baginya, mantra Cowongan adalah pesan tersirat tentang cinta kasih terhadap sesama manusia, alam, dan Tuhan.
"Lewat tradisi ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita tidak boleh putus cinta pada Sang Pencipta dan ciptaan-Nya," ungkap Mbah Titut seraya merapihkan peci yang bertengger diatas rambut gondrongnya, pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Mbah Titut sekarang usianya memasuki 61 tahun, diumur yang sudah senja ini kesehariannya adalah bertani. Menikmati hidupnya bercumbu rayu membaca peristiwa seni kejadian. Pukul lima pagi, saat kabut tipis menyelimuti Karanglewas, ia sudah bangun. Setelah sarapan sederhana, tepat setengah enam, langkah kakinya sudah tertuju ke kebun. Ia bukan sekadar bertani untuk menyambung hidup, mencangkul dan merawat tanaman adalah caranya bercengkrama dengan alam.
Setiap gerak alam, jatuhnya daun kering atau retakan tanah ia baca sebagai seni kejadian. Tak heran jika setiap hari jemarinya yang kasar karena tanah itu lihai merangkai kata lalu tak lupa menorehkan tinta hitam pada buku bersampul hijau miliknya menjadi bait-bait puisi indah. Menurutnya jika detik, menit, dan jam akan sia-sia tanpa menciptakan sebuah karya.
