Konten dari Pengguna

Sekilas Wisata Jogja dalam Gua Maria Tritis: Dilema Kemajuan atau Kemunduran

Delfyan Intan Nurmala Fadin

Delfyan Intan Nurmala Fadin

Mahasiswa Pariwisata, Universitas Gadjah Mada

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Delfyan Intan Nurmala Fadin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gua Maria Tritis | Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gua Maria Tritis | Dokumentasi Pribadi

Gejolak pariwisata di Yogyakarta memang tak terbantahkan. Banyaknya rantai hotel di wilayah yang sering diromantisasi ini menjadi bukti kegiatan wisata yang bergeliat setiap harinya. Belum lagi perkembangan dinamis dunia juga menimbulkan tren-tren baru bagi sektor pariwisata yang tentunya tidak akan dilewatkan oleh para pengembang bisnis dengan sia-sia. Contoh kecil yang sangat dekat dengan kondisi dua tahun terakhir, pandemi.

Pandemi Covid-19 mengagetkan seluruh penjuru dunia, istilah-istilah baru yang tadinya tidak familiar bagi masyarakat, seperti Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) bermunculan. Istilah tersebut muncul sebagai bentuk inovasi dalam melawan kelumpuhan total pada perekonomian serta pendidikan. Dunia pariwisata juga melawan dengan inovasi-inovasi baik ide baru maupun adaptasi. Akhirnya istilah-istilah seperti staycation, slow-tourism, nature based tourism, eco-tourism, hingga virtual tourism menjadi lebih familiar di telinga masyarakat.

Namun, pariwisata tak hanya menaungi tren-tren baru dalam mengimbangi perubahan generasi, terdapat sebuah kegiatan wisata yang dilakukan sejak zaman dahulu dan dari generasi ke generasi, salah satunya adalah wisata religi.

Andai dibedah satu persatu, dapat ditemukan fakta bahwa kegiatan wisata religi ini umumnya dilakukan dengan motivasi keagamaan. Apabila muncul pertanyaan mengenai bagaimana pelaksanaan pariwisata religi, kata yang sering terucap biasanya ‘ziarah’.

Pendit (2002) memberikan pendapatnya mengenai pariwisata religi, bahwa kegiatan wisata ini sedikit banyak dihubungkan dengan agama, adat istiadat, juga kepercayaan kelompok atau umat masyarakat. Jadi, wisata religi tidak hanya terbatas pada ziarah, tetapi juga pada kegiatan doa kepercayaan, ritual serta situs tertentu.

Mengingat Indonesia memiliki banyak agama dan kepercayaan, daya tarik wisata religi yang ada serasa tidak pernah mati untuk dikunjungi. Yogyakarta merupakan wilayah yang terkenal akan pendidikannya, kota ini juga menyimpan puluhan daya tarik dalam kategori pariwisata religi, belum lagi budaya kejawen yang masih sangat kental menyebabkan Yogyakarta semakin dilirik karena keberagamannya.

Salah satu destinasi wisata religi ikonic yang ada di Yogyakarta adalah Gua Maria Tritis, Gunung Kidul atau tepatnya berlokasi di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul.

Gua Maria Tritis | Dokumentasi Pribadi

Penulis berkunjung dan berbincang dengan beberapa pengelola serta warga setempat hingga memperoleh beberapa fakta menarik.

Gua Maria Tritis ditemukan pada tahun 1974 dan mulai dibuka untuk umum sebagai tempat ibadah pada tahun 1977. Pada hari kerja, Gua Maria Tritis cenderung sangat sepi dari pengunjung sedangkan pada akhir pekan, pengunjung terkesan ramai dan terjadi banyak aktivitas termasuk aktivitas berdoa serta perniagaan antara penjual yang merupakan warga lokal dengan para pengunjung.

Kondisi Gua Maria Tritis dan Sekitarnya

Suasana di dalam Gua Maria Tritis, terdapat susunan tempat duduk serta wadah-wadah untuk menampung tetesan air gua. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu patung dari perjalanan Yesus di Jalan Salib | Dokumentasi Pribadi

Gua ini dipenuhi oleh stalaktit aktif yang menyebabkan adanya tetesan air, sehingga di dalamnya terdapat banyak wadah yang bentuknya disesuaikan dengan kondisi gua sehingga tetap tampak alami. Kondisi alas gua sendiri sudah datar karena pernah dilakukan penggalian tanah sedalam tiga meter untuk merombak alas gua yang tadinya naik turun tidak teratur menjadi datar, tujuannya untuk memudahkan aksesibilitas dan acara berdoa bagi para pengunjung.

Bangku-bangku disusun dengan rapi selayaknya di gereja, terdapat patung Yesus dan Bunda Maria yang terukir dengan sangat apik di antara banyaknya bunga dan lilin. Tempat ini terkesan sangat alami dengan banyaknya pepohonan dan tanaman yang ada di sekitar gua. Selain itu, terdapat jalan salib yang menceritakan kisah malang Yesus menghadapi hukuman di sepanjang jalan pendopo joglo menuju gua.

Pembangunan Fasilitas

Tangga menurun dari parkiran menuju Goa Maria Tritis | Dokumentasi Pribadi

Pengelola Gua Maria Tritis bercerita bahwa gua ini memiliki banyak donatur. Salah satu donatur Gua Maria Tritis yang terpampang dalam plakat di sekitar gua merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, menyumbang sebanyak 200 miliar rupiah. Dari dana tersebut, dibangunlah fasilitas seperti toilet (yang juga terdapat toilet ramah difabel), kantor administrasi serta ruang paroki, juga terdapat pembangunan fasilitas jalan dari jalan raya hingga ke lokasi gua mengingat lokasi gua berada di area yang lebih dalam dengan jalan menurun yang agak curam.

Mekanisme Pembangunan dari Donatur

Gua Maria Tritis memiliki aturan dalam mengelola dana dari para donatur, terutama jika jumlahnya besar. Pak Thomas selaku ketua pengelola mengatakan bahwa pihak gua memiliki maket dan master plan yang disusun bersama Tim Keuskupan dari Universitas Atmajaya dan Universitas Sanata Dharma. Kerja sama dengan tim akademisi dilakukan dengan tujuan mencegah pembangunan yang dapat merusak bentuk lestari Gua Maria dan meminimalisir kerusakan alam yang disebabkan oleh pembangunan.

Pengelola dan Pekerja

Seluruh pengelola dan pekerja di kawasan Gua Maria Tritis merupakan warga lokal dan mayoritas berasal dari Desa Giring. Pak Thomas selaku ketua pengelola menuturkan bahwa tidak semua pekerja beragama katolik, melainkan kebanyakan beragama islam. Hal tersebut dapat terjadi karena rasa toleransi yang besar. Hampir seluruh pengelola dan pekerja di Gua Maria Tritis memiliki pekerjaan utama dan mayoritas dari mereka merupakan guru.

Kemunduran di Balik Kemajuan Pembangunan

Selain berbincang dengan pengelola, penulis juga sedikit mengobrol dengan pengunjung yang datang bersama rombongan untuk berdoa, yaitu Bapak Suhermoyo dan Ibu Esmi. Keduanya datang untuk kedua kalinya setelah tahun 2016 dan memaparkan bahwa kondisi Gua Maria Tritis kini jauh lebih baik. Jalan yang harus dilalui untuk ke gua tidak sesulit dahulu juga toilet yang lebih baik kualitasnya. Selain itu, disediakan pula mobil lansia yang berfungsi untuk mengangkut lansia dan difabel dari tempat parkir yang berada di pinggir jalan raya hingga sampai ke gua.

Namun, dibalik itu semua terdapat beberapa isu yang perlu diperhatikan sebelum masalah yang lebih besar timbul.

  • Pembangunan fasilitas jalan yang memadai dan tersedianya mobil lansia menyebabkan menurunnya penghasilan warga lokal yang bekerja sebagai jasa ‘antar-jemput’.

Kondisi jalan setelah pembangunan fasilitas pada tahun 2018 | Dokumentasi Pribadi

Selain profesi pedagang dan petani, terdapat profesi lain yang ditekuni banyak warga sekitar Gua Maria Tritis, yaitu mengantar dan menjemput pengunjung. Mayoritas dari mereka adalah wanita paruh baya. Profesi tersebut muncul dikarenakan jalan dari tempat parkir menuju gua cukup sulit untuk dilalui sehingga tugas dari profesi antar-jemput ini ialah mengantar pengunjung hingga ke gua dengan selamat tanpa mengalami hal buruk ketika berjalan. Biasanya jasa antar-jemput ini digunakan oleh pengunjung yang usianya tidak lagi muda. Namun, dengan adanya jalan dengan kondisi yang baik dan mobil lansia, profesi jasa antar-jemput ini tidak lagi sering digunakan sehingga penghasilan mereka menurun drastis.

  • Polusi udara akibat mobil lansia.

Mobil Lansia | Dokumentasi Pribadi

Mobil lansia bertugas mengantar dan menjemput pengunjung lansia, dalam satu hari di hari sabtu dan minggu, mobil lansia dapat melakukan perjalanan bolak-balik lebih dari 20 kali. Hal tersebut memicu pencemaran udara dan menghasilkan gas emisi yang memperburuk pemanasan global. Di bulan Mei dan Oktober, dimana bulan tersebut merupakan Bulan Maria yang disambut dengan kegiatan devosi dan doa oleh umat katolik, Gua Maria Tritis bagai tidak mengenal istirahat. Dalam 24 jam di Bulan Maria, Gua Maria Tritis menerima ribuan pengunjung. Pengelola Gua Maria Tritis mengatakan bahwa terkadang dalam satu hari, pengunjung dapat mencapai 5000 orang bahkan lebih. Hal tersebut menyebabkan mobil lansia melakukan perjalanan bolak-balik yang tidak terhitung jumlahnya sehingga polusi yang dihasilkan juga makin banyak.

Merangkum Kondisi Pariwisata Yogyakarta?

Terdapat kejadian serupa dalam kegiatan wisata Yogyakarta apabila disandingkan dengan kegiatan wisata di Gua Maria Tritis. Pendapatan masyarakat lokal cenderung berkurang karena adanya perusahaan luar negeri yang menjual produk dengan harga yang lebih murah daripada produk olahan lokal. Hal tersebut banyak ditemui di perdagangan souvenir. Selain itu Yogyakarta yang berbudaya, terkenal akan pariwisatanya seringkali menjadi destinasi yang dikunjungi oleh wisatawan mass-tourism dan fast-tourism. Wisatawan mass dan fast-tourism cenderung tidak memberikan pengaruh positif yang besar dalam dunia pariwisata Yogyakarta karena length of stay mereka yang rendah, berakibat pada spending money wisatawan tersebut terhadap masyarakat lokal juga rendah. Masyarakat lokal cenderung hanya memperoleh polusi dan sampah atas kedatangan wisatawan mass-tourism dan fast-tourism.

Dari penjabaran tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat dilema dalam pelaksanaan pariwisata di Gua Maria Tritis. Pengelola yang bekerja sama dengan akademisi untuk membentuk master plan merupakan langkah yang tepat karena dapat mengurangi kerusakan alam yang dapat timbul akibat pembangunan. Penggunaan dana donatur untuk pembangunan fasilitas yang memadai juga merupakan hal positif sebab hal tersebut menunjukkan bahwa pihak pengelola telah berupaya memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada pengunjung yang datang. Namun, isu sosial dan lingkungan yang muncul juga perlu diperhatikan. Beberapa kasus serupa melakukan penyelesaian dengan pelatihan Sumber Daya Manusia dan pengolahan sampah yang lebih tertata serta daur ulang.

Untuk isu pariwisata yang terjadi di wilayah Yogyakarta merupakan cangkupan yang lebih luas. Upaya penyelesaian dapat dilakukan dengan pembuatan kebijakan baru yang lebih memperhatikan masyarakat lokal serta menggeliatkan branding pariwisata yang dianggap lebih bertanggung jawab, sebagai contoh slow-tourism atau eco-tourism.