Mengenal Keunikan Suku Toraja, Penjaga Tradisi Leluhur Nusantara

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Prodi Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Okviana Adelia Saputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu Suku Toraja adalah sebuah suku bangsa yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa di Mamasa disebut juga sebagai suku Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk Kekristenan, sebagian masih menganut agama asli Aluk To Dolo, dan sebagian lagi menganut Islam. Pemerintah Indonesia telah mengakui Aluk To Dolo atau Hindu Alukta sebagai bagian dari Hindu di Indonesia. Suku yang mayoritas memeluk agama Katolik dan Protestan ini memiliki suatu budaya yang sangat kental. Kebudayaan mereka juga masih menganut nilai-nilai luhur nenek moyang hingga saat ini.
Dalam buku Tongkonan Mahakarya Arsitektur Tradisional Suku Toraja (2017) oleh Weni Rahayu, dijelaskan bahwa ada beberapa versi dari asal-usul nama Toraja. Kata orang Bugis sidenreng menyebutnya, orang Toraja dengan nama "To Riajang", yang artinya "orang yang berdiam di negeri atas atau pengunungan". Sementara orang Luwu pada zaman Belanda menyebut orang Toraja dengan 'to riaja' yang berarti 'orang yang berdiam di sebelah barat'. Ada pula versi lain yang menyebut bahwa orang Toraja berasal dari 'toraya', yang bermakna orang besar atau bangsawan. Dari mitos yang beredar di masyarakat, Toraja adalah sebuah negeri otonom bernama 'Tondok Lepongan Bulan' atau 'Tana Matarik Allo'.

Selain itu, masyarakat Suku Toraja juga memiliki baju adat yaitu Baju Pokko yang digunakan untuk kaum wanita. Sementara bagi pria akan mengenakan pakaian Seppa Tallung yang akan dipakai bersama dengan sejumlah aksesoris, seperti Kandure, Ganyang, dan Lipa'. Saat memakai baju Seppa Tallung, biasanya orang tersebut juga akan memakai penutup kepala yang disebut Passapu. Selain itu, masyarakat Suku Toraja memiliki rumah adat yaitu Tongkonan yang berbentuk panggung. Rumah Tongkonan terbuat dari kayu dengan atap lengkung seperti perahu dan berhias tanduk kerbau. Masyarakat Suku Toraja juga dikenal dengan situs pemakaman kuno yang terletak di tebing batu yaitu Tampang Allo, Lemo, Suaya, Sirope, Landan, da Londa. Di tempat tersebut, peti-peti mati berukir diletakkan pada ceruk-ceruk tebing batu dan terdapat pula patung-patung kayu (Tau tau) milik para mendiang.
Di dalam masyarakat Toraja dibagi dalam bebarapa kelas sosial. Pembagian kelas dalam masyarakat ini sangat mempengaruhi kebiasaan dan adat istiadat yang terdapat di sana. Pada masyarakat ini, status sosial dibagi mulai dari yang tertinggi, sedang dan terendah.
Tradisi Adat Istiadat di Tana Toraja
Banyak sekali budaya khas Toraja yang menarik untuk diketahui. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Rambu Solo
Rambu Solo’ adalah tradisi pemakaman ala Suku Toraja. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati sekaligus mengantarkan arwah menuju alam akhirat melalui serangkaian ritual dan doa. Ritual ini dilakukan berupa pertunjukan seni, adu kerbau, hingga mengantarkan jenazah.
Tradisi ini bisa berlangsung selama beberapa hari sesuai dengan status sosial keluarga penyelenggara Rambu Solo’. Biayanya pun tidak sedikit. Semakin kaya seseorang, semakin mahal biaya pemakamannya.
2. Tinggoro Tedong
Tinggoro Tedong merupakan tradisi upacara kematian. Ini masih termasuk dalam serangkaian upacara Rambu Solo’. Pada upacara ini, prosesi penyembelihan kerbau dilakukan dengan cara menebas leher kerbau dengan satu kali tebas saja. Menurut kepercayaan leluhur orang Toraja, kerbau merupakan hewan tunggangan bagi arwah jenazah untuk menempuh perjalanannya menuju alam akhirat.
3. Silaga Tedong
Silaga Tedong merupakan acara adu kerbau. Ini merupakan salah satu rangkaian acara Rambu Solo’. Tujuan diadakannya Silaga Tedong adalah untuk memberikan hiburan bagi keluarga yang berduka. Selain itu, acara ini menjadi ajang pertunjukan bagi para pelayat yang datang. Adu kerbau dilakukan di lapangan yang basah dan becek. Biasanya, di area sawah yang berlumpur. Kerbau-kerbau yang diadu ini merupakan kerbau pilihan dengan jenis tertentu dan harga jual yang terbilang fantastis.
4. Sisemba’
Sisemba’ adalah tradisi permainan adu kaki yang dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Tradisi ini dilakukan di lapangan atau tempat terbuka pada saat merayakan panen raya. Biasanya, permainan ini mempertemukan dua kubu yang berasal dari dua desa yang berbeda. Pesertanya terdiri dari dua orang untuk setiap kubu. Cara bermainnya, kedua kubu bergerak maju, lalu melakukan tendangan ke arah lawan. Walaupun begitu, ada wasit yang bertugas untuk menegur, melerai, bahkan menghentikan pertandingan jika ada yang mengalami cedera atau berbuat curang.
5. Ma’Nene
Ma’Nene merupakan upacara mengganti pakaian dan merias jasad keluarga yang telah lama dikuburkan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, setelah panen besar di bulan Agustus. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan jasad dari dalam peti. Setelah itu, anak dan cucunya lah yang membersihkannya dan mendandani jasad tersebut selayaknya masih hidup.
Selama proses pembersihan berlangsung, kaum laki-laki membentuk lingkaran. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang melambangkan kesedihan dan kebahagiaan jasad sebelum meninggal. Tujuannya, supaya keluarga yang ditinggalkan jasad terhibur.
6. Perkuburan Adat Toraja
Suku Toraja memiliki beragam jenis tempat pemakaman. Ada pemakaman dalam goa, pemakaman batu ukir, pemakaman gantung, pemakaman pohon, dan sebagainya. Yang paling mahal adalah pemakaman batu ukir. Oleh karena itu, hanya jenazah para bangsawan yang dimakamkan di pemakaman batu berukir. Tempat pemakaman di Toraja yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan.
7. Rumah Adat Tongkongan
Ketika berkunjung ke Toraja, salah satu ciri khas yang paling mudah dikenali adalah rumah adat Tongkongan. Bentuk atapnya yang menjulang ke depan dan ke belakang menjadi ciri khas Suku Toraja. Rumah ini didirikan di atas tumpukan kayu dan dihiasi banyak ukiran warna merah, hitam dan kuning.
Ada tiga jenis rumah Tongkongan, yaitu tongkonan layuk yang digunakan untuk pemerintahan, tongkonan pekamberan yang dimiliki keluarga dengan wewenang tertentu, serta tongkonan batu untuk keluarga biasa.
8. Rompo Bobo Bonnang
Tradisi ini merupakan upacara untuk melangsungkan pernikahan. Tata caranya paling sederhana. Keluarga mempelai pria beserta mempelai pria akan mendatangi keluarga mempelai wanita. Selanjutnya, orang tua mempelai wanita akan menyambut kedatangan mereka dan diadakanlah perjamuan makan bersama.
Setelah itu, para keluarga mempelai pria akan kembali pulang. Namun, mempelai pria yang akan tetap tinggal di rumah mempelai wanita.
9. Rampo KaroEng
Rampo KaroEng merupakan tradisi pernikahan juga. Bedanya, hanya pada perjamuannya saja. Sebelum acara perjamuan makan, rombongan mempelai pria akan disuruh menunggu terlebih dahulu di lumbung.
10. Rompo Allo
Romo Allo merupakan upacara pernikahan yang paling mewah. Perayaan pernikahan bisa dilakukan beberapa hari dengan acara yang cukup meriah. Oleh karena itu, upacara jenis ini hanya dilakukan oleh para bangsawan atau keluarga yang berstatus sosial tinggi saja.
Keberhasilan masyarakat Toraja mempertahankan tradisi leluhur di tengah arus globalisasi menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghilangkan jati diri suatu bangsa. Justru dengan terus melestarikan adat istiadat, masyarakat Toraja mampu menjaga identitas budaya sekaligus memperkenalkannya kepada dunia. Oleh karena itu, tradisi yang dimiliki Suku Toraja merupakan warisan budaya yang patut dijaga, dihormati, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kebudayaan adalah buah budi manusia sebagai hasil perjuangan terhadap alam dan zaman." — Ki Hajar Dewantara
Sumber Referensi:
Admin. 17 Agustus 2020. Suku Toraja. Romadecade.org – https://bit.ly/34rntBA
Agustina Randa. 9 Oktober 2018. 5 Tradisi Unik Suku Toraja yang Mendunia. Idntimes.com – https://bit.ly/2Swlzda
Andra. 14 April 2017. Kebudayaan Suku Toraja di Indonesia. Ilmuseni.com – https://bit.ly/30BGobv
