Selalu Menutupi Rasa Tidak Enak demi Orang Lain, Apa Dampaknya?

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Prodi Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Okviana Adelia Saputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mari kita ketahui dampaknya, tidak sedikit orang yang memilih menutupi rasa tidak enak demi menjaga hubungan dengan orang lain. Mereka cenderung mengiyakan permintaan, menahan kekecewaan, atau menyembunyikan pendapat karena takut dianggap tidak peduli, egois, atau membuat orang lain tersinggung. Meskipun niatnya baik, kebiasaan ini dapat berdampak negatif jika dilakukan secara terus-menerus.

Selain memengaruhi kesehatan mental, kebiasaan ini juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Ketika seseorang selalu menutupi perasaannya, orang lain tidak mengetahui batasan atau kebutuhan yang sebenarnya. Akibatnya, hubungan menjadi tidak seimbang karena hanya satu pihak yang terus berusaha mengalah, sementara kebutuhannya sendiri sering diabaikan.
Dalam jangka panjang, selalu mendahulukan perasaan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat seseorang sulit mengatakan "tidak". Padahal, menyampaikan perasaan dengan jujur dan sopan merupakan bagian dari komunikasi yang sehat. Mengungkapkan apa yang dirasakan bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan menunjukkan kejujuran dan rasa saling menghormati.
Oleh karena itu, penting untuk mulai belajar mengenali dan mengungkapkan emosi secara tepat. Menjaga perasaan orang lain memang penting, tetapi menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan diri sendiri juga tidak kalah penting. Dengan komunikasi yang terbuka dan penuh empati, hubungan dapat tetap terjaga tanpa harus terus-menerus mengorbankan perasaan sendiri.
