Membangun Perpustakaan Sagoe: Dari Nol Menuju Ruang Literasi Desa

Mahasiswa aktif program studi Matematika, FMIPA, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari della yusnita rahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah desa yang damai namun jauh dari akses literasi memadai, sebuah bangunan tua yang dulunya hanya digunakan sebagai mushalla warga yang lama tidak digunakan kini disulap menjadi tempat yang sarat makna: Perpustakaan Sagoe. Berkat inisiatif mahasiswa KKN Tematik Literasi tahun 2025, ruang kosong ini perlahan dihidupkan kembali untuk menjadi pusat kegiatan belajar, membaca, dan berekspresi bagi anak-anak desa.


Perjalanan dimulai dengan membersihkan dan memperbaiki bagian dalam bangunan. Beberapa dinding yang sudah lapuk diganti agar ruangan kembali kokoh dan aman digunakan. Seluruh bagian dalam perpustakaan dicat ulang untuk memberi suasana baru yang lebih cerah dan ramah anak. Namun semangat literasi mengalahkan semua keterbatasan.
Mahasiswa KKN bersama anak-anak menghias perpustakaan dengan gambar pohon literasi, Keceriaan terpancar saat mereka mengoleskan cat ke tangan, menciptakan jejak warna-warni sebagai simbol bahwa perpustakaan ini milik mereka.
Setelah beberapa hari kerja keras, akhirnya Perpustakaan Sagoe resmi diluncurkan. Kegiatan peluncuran ini diisi dengan berbagai sambutan, dan pemotongan pita simbolis. Dalam rangka menyemarakkan peluncuran perpustakaan dan menumbuhkan kecintaan terhadap buku, panitia menyelenggarakan beberapa lomba apresiasi literasi yang melibatkan anak-anak dari berbagai usia.
1. Lomba Mewarnai
Anak-anak diberikan gambar yang beragam dan diajak mengekspresikan kreativitas mereka melalui warna. Kegiatan ini menjadi media awal untuk mengenalkan mereka pada dunia visual dan narasi.
2. Lomba Menulis Cerita Berbasis Buku Bacaan
Setelah membaca buku pilihan mereka, anak-anak diminta menuliskan cerita singkat berdasarkan pemahaman dan imajinasi masing-masing. Hasilnya luar biasa—berbagai cerita lucu, menyentuh, dan unik lahir dari tangan-tangan kecil yang penuh semangat.
3. Cerdas Mengulas Buku
Ini adalah tantangan tingkat lanjut: anak-anak diminta menceritakan ulang isi buku favorit mereka di depan teman-teman. Mereka dinilai berdasarkan pemahaman, keberanian, dan cara penyampaian. Kegiatan ini sekaligus melatih public speaking dan daya nalar kritis mereka.
Dari setiap lomba menulis cerita berbasis buku bacaan dan cerdas mengulas buku, terpilih enam pemenang yang diumumkan dalam kategori: Juara 1, 2, 3 dan Harapan 1, 2, 3.
Mereka mendapatkan hadiah berupa paket buku, alat tulis, piala, dan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan kerja keras mereka. Senyum bahagia terpancar dari wajah para pemenang, menjadi motivasi bagi teman-teman lainnya untuk terus belajar dan berani mencoba.
Perpustakaan Sagoe bukan hanya tentang buku. Ia adalah simbol harapan, kolaborasi, dan awal dari perubahan kecil yang berdampak besar. Anak-anak desa kini punya tempat untuk belajar, berimajinasi, dan mengasah potensi diri. Semoga Perpustakaan Sagoe menjadi cahaya literasi yang terus menyala di pelosok negeri.
