Konten dari Pengguna

Manifesto Politik Gen Z: Kami Tidak Apatis, Kami Ingin Didengar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dellia Nur Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Manifesto politik Gen Z dan keterlibatan anak muda dalam isu publik (chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Manifesto politik Gen Z dan keterlibatan anak muda dalam isu publik (chatgpt)

Ada anggapan bahwa Gen Z merupakan generasi yang apatis terhadap politik. Padahal, manifesto politik Gen Z tidak selalu berbentuk pernyataan resmi atau kampanye politik. Bagi anak muda, politik juga berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, lingkungan, hingga kebijakan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, apakah benar Gen Z tidak peduli dengan politik?

Menurut saya, tidak sesederhana itu.

Gen Z mungkin tidak selalu membicarakan politik dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya. Kami tidak selalu mengikuti pidato politik atau membaca berita politik setiap hari. Tetapi ketika harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan sulit, biaya pendidikan menjadi persoalan, jalan rusak dibiarkan, atau pelayanan publik tidak sesuai harapan, kami ikut merasakan dampaknya.

Artinya, politik sebenarnya dekat dengan kehidupan kami.

Politik Tidak Harus Selalu Berbicara tentang Kekuasaan

Bagi sebagian anak muda, kata "politik" mungkin terdengar berat. Padahal, politik tidak hanya tentang pemilu, partai politik, atau siapa yang mendapatkan jabatan.

Ketika mahasiswa menyampaikan keluhan mengenai fasilitas kampus, ketika masyarakat mempertanyakan pelayanan publik, atau ketika anak muda menggunakan media sosial untuk membicarakan persoalan di lingkungannya, di situ sebenarnya ada bentuk partisipasi publik.

Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Informasi dapat berpindah hanya dalam hitungan detik. Sebuah persoalan yang awalnya terjadi di satu daerah dapat menjadi pembicaraan nasional setelah dibagikan melalui media sosial.

Karena itu, ruang politik Gen Z juga semakin luas. Tidak hanya berada di ruang sidang atau gedung pemerintahan, tetapi juga di TikTok, Instagram, YouTube, X, hingga ruang diskusi sehari-hari.

Namun, kemudahan mendapatkan informasi juga membawa tantangan. Tidak semua informasi yang ramai dibicarakan di media sosial merupakan informasi yang benar. Gen Z perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya hanya karena sebuah informasi viral atau memiliki banyak komentar.

Menurut saya, inilah salah satu bentuk tanggung jawab politik generasi kami: berani bersuara, tetapi juga berani memeriksa kebenaran sebelum ikut menyebarkannya.

Kami Tidak Ingin Hanya Menjadi Penonton

Manifesto politik Gen Z tidak harus berbentuk dokumen panjang atau pernyataan yang terdengar besar. Manifesto itu bisa dimulai dari hal sederhana: apa yang sebenarnya ingin kami lihat dari kehidupan bernegara?

Kami ingin pendidikan yang dapat diakses dengan lebih adil. Kami ingin kesempatan kerja yang tidak hanya tersedia dalam jumlah banyak, tetapi juga memberikan kepastian dan kesempatan untuk berkembang.

Kami ingin pelayanan publik yang mendengarkan masyarakat. Kami juga ingin pembangunan tidak hanya terlihat dari gedung-gedung baru, tetapi dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan seperti harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, transportasi, lingkungan, hingga akses internet sebenarnya merupakan persoalan politik karena berkaitan dengan bagaimana kebijakan dibuat dan bagaimana masyarakat merasakan dampaknya.

Survei Poltracking pada Agustus 2026, misalnya, mencatat bahwa persoalan ekonomi masih menjadi perhatian masyarakat. Sebanyak 44,3 persen responden menyebut mahalnya harga.

kebutuhan pokok sebagai persoalan utama, sementara 62,5 persen mengatakan pengeluaran rumah tangga mereka saat ini lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa perhatian masyarakat terhadap politik tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.

Suara Gen Z Tidak Harus Seragam

Karena itu, manifesto politik Gen Z tidak harus memiliki satu bentuk atau satu suara yang sama. Setiap anak muda dapat memiliki perhatian dan cara berbeda dalam menyampaikan pendapat mengenai persoalan publik.

Menjadi Gen Z bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan politik yang sama.

Ada Gen Z yang aktif mengikuti isu politik. Ada yang lebih tertarik pada isu pendidikan, lingkungan, ekonomi, kesehatan, atau ketenagakerjaan. Ada juga yang belum tertarik mengikuti politik secara mendalam.

Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar.

Justru yang penting adalah bagaimana perbedaan itu tidak membuat kita berhenti berdiskusi. Politik seharusnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk memiliki pandangan yang berbeda tanpa harus saling merendahkan.

Di media sosial, perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertengkaran. Orang mudah memberikan label kepada orang lain hanya karena pilihan atau pandangannya berbeda.

Menurut saya, Gen Z perlu membangun budaya politik yang berbeda: kritis, tetapi tidak mudah membenci; berani mengkritik, tetapi tetap mau mendengar; dan mampu mempertahankan pendapat tanpa menganggap orang lain sebagai musuh.

Dari Viral Menjadi Perubahan

Salah satu kekuatan Gen Z adalah kemampuan menggunakan media digital untuk membuat sebuah isu mendapatkan perhatian.

Sebuah video tentang masalah masyarakat bisa menjadi viral. Sebuah unggahan mengenai pelayanan publik dapat mengundang respons dari banyak orang. Bahkan, suara masyarakat yang sebelumnya sulit mendapatkan perhatian dapat menjadi pembicaraan luas ketika disebarkan melalui media sosial.

Tetapi viral seharusnya bukan tujuan akhir.

Kalau sebuah persoalan hanya ramai selama beberapa hari kemudian dilupakan, perubahan yang dihasilkan juga akan terbatas. Karena itu, partisipasi politik Gen Z perlu bergerak lebih jauh dari sekadar membagikan unggahan.

Kami perlu belajar membaca kebijakan, mengikuti perkembangan isu, berdiskusi, menyampaikan kritik berdasarkan fakta, dan ikut mengawasi bagaimana sebuah kebijakan dijalankan.

Dengan begitu, media sosial bukan hanya tempat untuk mengomentari politik, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi kehidupan publik.

Manifesto Politik Gen Z: Tidak Sekadar Bicara Pemilu

Kami tidak ingin disebut sebagai generasi yang apatis hanya karena cara kami mengikuti politik berbeda.

Kami mungkin tidak selalu berbicara dengan bahasa politik yang formal. Kami mungkin lebih sering menemukan isu politik melalui media sosial. Namun, bukan berarti kami tidak memiliki kepedulian.

Kami peduli ketika pendidikan sulit dijangkau.

Kami peduli ketika mencari pekerjaan menjadi semakin menantang.

Kami peduli ketika masyarakat tidak mendapatkan pelayanan yang layak.

Kami peduli ketika lingkungan rusak dan persoalannya hanya menjadi bahan perdebatan.

Kami peduli ketika informasi yang salah lebih cepat dipercaya daripada fakta.

Dan kami peduli ketika suara masyarakat hanya didengar ketika sedang ramai.

Karena itu, manifesto politik Gen Z bagi saya bukan tentang mendukung seseorang atau kelompok tertentu. Manifesto ini adalah tentang nilai yang ingin kami pegang: keterbukaan, kesempatan yang adil, kebebasan menyampaikan pendapat, pemerintahan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta kebijakan yang memperhatikan kehidupan masyarakat.

Kami tidak ingin politik hanya datang ketika pemilu tiba.

Kami ingin politik hadir dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kami juga tidak ingin hanya menjadi generasi yang mengomentari keadaan dari balik layar. Jika ingin perubahan, kami harus bersedia terlibat, sekecil apa pun bentuknya.

Sebab pada akhirnya, masa depan bukan hanya sesuatu yang akan kami jalani. Masa depan adalah sesuatu yang perlahan sedang kami bentuk hari ini.

Kami adalah Gen Z. Kami boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, dan berbeda cara bersuara. Tetapi kami memiliki satu kesamaan: kami ingin suara kami dianggap sebagai bagian dari masa depan Indonesia.