Konten dari Pengguna

Konstruksi Keamanan Baru Indo-Pasifik: AUKUS sebagai Pilar Domestik dan Sekutu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Delo Cristian Damanik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Indo-Pasifik telah menjadi area pusat dalam dinamika geopolitik dunia. Lanskap geopolitik yang kompleks pada kawasan ini ditandai dengan persaingan strategis antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, serta bangkitnya negara dengan kekuatan menengah. Pada 15 September 2021, negara sekutu lama yaitu Australia, Inggris, dan Amerika Serikat membangun kerja sama trilateral pada bidang pertahanan dan keamanan melalui pengembangan kapal selam bertenaga nuklir dibawah kemitraan AUKUS. Kemitraan strategis ini berkomitmen untuk bertindak tegas dalam mendukung kestabilan, keamanan, dan kesejahteraan pada kawasan Indo-Pasifik. Kemitraan ini juga merupakan inti dari rencana Pemerintah Albanase yang berkomitmen untuk memperkuat keamanan nasional Australia. Tentunya hal ini akan menandai perubahan besar dalam konstruksi keamanan Indo-Pasifik.

Sejak tahun 1990-an hingga tahun 2000-an, Tiongkok telah meningkatkan anggaran pertahanan dan kapabilitas militernya secara signifikan. Transformasi ini menjadikan Tiongkok bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga aktor strategis yang semakin berpengaruh dalam sistem keamanan global, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Melalui proyek Belt Road Initiative (BRI) dan pembangunan hubungan kerja sama bilateral di bidang keamanan dengan negara-negara periferi di Pasifik seperti Kepulauan Salomon dan Kiribati, terlihat jelas bahwa ada upaya untuk membuka pijakan kaki yang lebih luas di kawasan ini. Di saat yang sama, intensitas kegiatan militer di Laut China Selatan serta selat Taiwan menegaskan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisi strategisnya. Sebagai negara yang telah dipandang mempunyai pengaruh di kawasan ini, langkah tersebut menimbulkan persepsi ancaman bagi Australia dan Amerika Serikat akan terbentuknya zona pengaruh baru yang dapat melemahkan posisi kedua negara tersebut di kawasan Indo-Pasifik.

AUKUS merepresentasikan bentuk baru aliansi pertahanan yang berorientasi pada keamanan kawasan dan keseimbangan kekuatan terhadap Tiongkok. Melalui dukungan teknologi militer dari Amerika Serikat dan Inggris, Australia berpotensi memiliki kapasitas kuat atas maritim di Pasifik Selatan, terlebih di Indo-Pasifik. Namun, AUKUS tidak hanya sebagai proyek strategis militer, melainkan strategi dalam membendung pergerakkan cepat Tiongkok di Indo-Pasifik. Hal ini dikarenakan AUKUS dapat memperkuat kemampuan pengawasan militer dan intelijen antar sekutu Barat terhadap aktivitas Tiongkok di wilayah maritim Pasifik. Selanjutnya, melalui AUKUS, Australia menegaskan kepemimpinannya sebagai penjaga stabilitas di kawasan ini.

Direncakan dalam dekade berikutnya, Australia akan mengakuisisi 5 kapal selam kelas Virginia bekas Amerika Serikat secara bertahap. Kapal selam ini merupakan pengganti dari kapal selam Los Angeles yang telah pensiun. Kapal selam ini dilengkapi dengan 12 tabung Sistem Peluncuran Vertikal (VLS) untuk meluncurkan 12 rudal jelajah Tomahawk. Selain itu juga, telah dilakukan penyempurnaan akustik guna mempertahankan keunggulannya di dalam medan perang bawah laut. Akuisisi ini merupakan langkah awal Australia sembari meningkatkan kapabilitas domestik, sebelum merilis SSN-AUKUS pertamanya di tahun 2040-an.

Pergantian rezim pemerintahan Amerika Serikat menimbulkan skeptis bagi masa depan AUKUS. Sebab keputusan Amerika Serikat untuk memberikan aset berharganya setelah terakhir dilakukan hampir 60 tahun yang lalu kepada Inggris menjadi keputusan paling berani dari Amerika Serikat di abad ke-21 ini. Dibawah kepemimpan Trump, kemitraan strategis ini akan mulai ditinjau oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Hal ini untuk memastikan bahwa sekutu melangkah maju sepenuhnya untuk melakukan bagian mereka dalam pertahanan kolektif dan yang terutama ialah untuk memastikan bahwa kemitraan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yaitu “America First”.

Meskipun demikian, kekhawatiran mengenai masa depan AUKUS dapat diminimalisir melalui pembentukan kerja sama baru antara Amerika Serikat dan Australia di bidang logam tanah jarang dan mineral penting. Dalam laporan USGS “Mineral commodity summaries 2025” disebutkan bahwa Tiongkok mengendalikan sekitar 70% penambangan tanah jarang dan 90% pemrosesan material tersebut. Tentunya Amerika Serikat perlu mencari sumber lain untuk mengurangi ketergantungannya dengan Tiongkok. Hal ini dikarenakan banyak perusahaan Amerika Serikat yang bergantung pada pasokan bahan baku tersebut. Ketergantungan Amerika Serikat terhadap bahan baku tersebut sebelumnya menjadi masalah yang serius, terutama setelah perang tarif antara kedua negara menyebabkan Tiongkok mengambil langkah untuk membatasi ekspor bahan baku penting tersebut. Situasi genting ini menekan Amerika Serikat untuk melakukan kerja sama dengan Australia, dimana Australia menjadi salah satu negara penghasil bahan baku tersebut. Oleh karena itu, kerja sama dalam sektor ini tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan dan stabilitas kemitraan AUKUS di masa mendatang.

Secara keseluruhan, pembentukan AUKUS mencerminkan respons strategis negara sekutu Barat terhadap perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik akibat kebangkitan Tiongkok. Aliansi ini bukan sekadar proyek pertahanan strategis, melainkan manifestasi dari upaya geopolitik untuk mempertahankan dominasi maritim dan menegakkan stabilitas regional di tengah meningkatnya kompetisi multipolar. Melalui transfer teknologi kapal selam bertenaga nuklir dan kerja sama logam tanah jarang. Langkah ini menandai transformasi peran Australia dari sekadar mitra strategis menjadi aktor keamanan utama di kawasan, sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat di Indo-Pasifik melalui kekuatan maritim dominan sebagaimana ditekankan dalam teori Sea Power oleh Mahan. Dengan begitu, AUKUS tidak hanya menjadi simbol kemitraan pertahanan, tetapi juga fondasi baru bagi arsitektur keamanan Indo-Pasifik yang berorientasi pada keseimbangan kekuatan dan ketahanan strategis jangka panjang.