Kisah Kakek Penjual Bakmi Jawa yang Pantang Menyerah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Delviana Farah Dini Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di antara kafe kafe yang ada di Jalan Gatak Kasihan, Kota Yogyakarta terdapat sebuah warung sederhana berdinding bambu yang menjual bakmi jawa. Warung yang bernama “Bakmi Parjo Joss” baru berumur kurang lebih tiga bulan ini didirikan oleh seorang kakek yang berasal dari Solo.
Parjo Mulyono adalah seorang penjual bakmi jawa asli Solo yang berusia 74 tahun. Beliau sudah berjualan sejak tahun 1967. Awalnya, ia menjadi penjual bakmi di daerah asalnya, namun sejak adanya pandemi Covid-19 mengharuskan ia menutup warung bakmi jawa yang sudah ia rintis selama 55 tahun itu.
Pandemi Covid-19 mengakibatkan warung bakmi Parjo gulung tikar. Parjo mengalami kerugian besar, dikarenakan warungnya sangat sepi pembeli namun Parjo harus tetap membayar sewa tempat, hal itulah yang menyebabkan Parjo harus menutup warung bakminya.
Sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sudah tidak ada, kurang lebih dua tahun beliau menganggur dan hanya bergantung pada pemberian anak-anaknya. Parjo memiliki dua orang anak laki-laki yang kini merantau di luar kota. Setiap bulannya anak-anak parjo mengirimkan uang bulanan untuk kehidupan Parjo dan sang istri, namun itu membuat Parjo merasa menjadi beban untuk anak-anaknya.
Tahun 2022 ia mengambil sebuah keputusan yang besar untuk meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Yogyakarta. Dengan mengeluarkan seluruh tabungannya, ia memulai merintis warung bakmi jawanya lagi ditemani oleh sang istri. Ia menyewa sebuah warung sederhana bekas warung penyetan di dekat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Selain di jadikan tempat usaha warung ini juga di jadikan tempat tinggal. Di bagian belakang warung terdapat sebuah gubuk kecil tempat tinggal Parjo dan istrinya.
Bakmi Jawa merupakan salah satu makanan khas khususnya di wilayah Solo dan Yogyakarta. Di Yogjakarta Bakmi Jawa sangat mudah ditemui. Hampir disetiap jalanan jogja kita dapat menemukan warung bakmi jawa.
Dari pukul 3 sore hingga pukul 11 malam Parjo membuka warung bakminya. Beliau meracik semua resep dan bumbunya sendiri, menurutnya itu agar tetap menjaga cita rasa.
“Semua resep saya sendiri yang racik dan buat supaya rasanya tetap sama, tapi kalau belanja itu istri saya,” tuturnya.
Parjo melayani pembeli dengan sangat ramah dan selalu tersenyum. Sambil memasak ia juga suka mengajak ngobrol pembeli dengan suara halusnya.
Warung yang baru berdiri 3 bulan ini menjual bakmi jawa, capcay, dan nasi goreng dengan rasa yang tidak kalah dari bakmi jawa lain. Bakmi jawa Parjo di jual dengan harga yang ramah di kantong pelajar, yaitu 13 ribu saja. Namun karena kurangnya promosi membuat warung Parjo seringkali sepi.
"Saya sedih kenapa mahasiswa malah pada makan di kafe mahal daripada coba bakmi saya," ungkap kakek Parjo. Parjo menambahkan, jika omset penjualan setiap harinya tidak memenuhi target, sehingga banyak bahan baku yang terbuang.
Walau warung bakminya masih sepi Parjo tidak pernah putus asa untuk terus mencoba. Parjo mengungkapkan keinginannya untuk mendaftarkan warung bakminya ke aplikasi online agar mempermudah pembeli untuk memesan dan warungnya dapat dikenal banyak orang.
Walaupun dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi, Parjo tidak kehilangan semangat untuk terus mencari rezeki. Ia tidak ingin bergantung hidup pada anak-anaknya. Ia selalu bersyukur apapun yang ia dapatkan.
