Belajar dari Kasus Pemalang: Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini

Mahasiswa jurusan Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, Memiliki ketertarikan terhadap isu sosial dan pendidikan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Delviani Sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus meninggalnya seorang siswa kelas 2 SD Negeri 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada akhir September 2026 menjadi perhatian publik. Anak tersebut, Muhammad Hasbi Al Aqib (7), meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit. Di tengah proses penyelidikan, keluarga menyampaikan adanya dugaan kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelas di lingkungan sekolah.
Berdasarkan pemberitaan, korban mulai menjalani perawatan di RSUD dr. M. Ashari Pemalang pada 17 September 2026 setelah mengalami kondisi kesehatan yang menurun. Saat menjalani perawatan, korban disebut baru menceritakan kepada dokter mengenai dugaan kekerasan yang dialaminya di sekolah. Keluarga kemudian menyampaikan bahwa korban mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari kakak kelas. Setelah sekitar sembilan hari menjalani perawatan, korban meninggal dunia pada 30 September 2026.
kasus ini menghadirkan satu pertanyaan penting bagi dunia pendidikan: sudah sejauh mana sekolah mengajarkan anak untuk menghargai, peduli, dan menjaga sesamanya?
Ketika Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar
Selama ini, keberhasilan pendidikan sering kali masih dilihat dari nilai, prestasi, dan kemampuan akademik siswa. Padahal, sekolah memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Sekolah merupakan salah satu lingkungan sosial tempat anak belajar berinteraksi, mengenal aturan, memahami perbedaan, serta membentuk cara mereka memperlakukan orang lain.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, sekolah dapat dipahami sebagai salah satu agen sosialisasi. Anak tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar mengenai norma dan nilai yang berlaku dalam kehidupan bersama. Mereka belajar bahwa ada perilaku yang dianggap baik dan ada pula perilaku yang tidak dapat dibenarkan.
Di sinilah pendidikan karakter menjadi penting. Pendidikan karakter seharusnya tidak berhenti pada hafalan mengenai kejujuran, tanggung jawab, atau gotong royong. Nilai tersebut harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari siswa, termasuk bagaimana mereka memperlakukan teman yang lebih muda, berbeda kemampuan, berbeda latar belakang, atau berada dalam posisi yang lebih lemah.
Bullying Bukan Sekadar "Bercanda"
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tindakan perundungan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ejekan kepada teman, mengucilkan seseorang, melakukan intimidasi, atau menggunakan posisi yang lebih kuat untuk menekan siswa lain dapat dianggap sebagai bagian dari pergaulan anak.
Padahal, ketika perilaku tersebut dilakukan berulang, melibatkan ketimpangan kekuatan, dan menyebabkan korban merasa takut atau tertekan, persoalannya tidak lagi dapat dianggap sebagai candaan biasa.
Dalam kasus Pemalang, dugaan kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelas juga memperlihatkan adanya relasi yang tidak seimbang. Anak yang lebih tua atau lebih kuat memiliki posisi sosial yang berbeda dibandingkan anak kelas 2 SD. Situasi seperti ini menjadi penting untuk dilihat bukan hanya sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai persoalan lingkungan sosial sekolah.
Artinya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya "siapa yang melakukan?", tetapi juga "mengapa perilaku tersebut dapat terjadi dan bagaimana lingkungan di sekitarnya merespons?"
Pendidikan Karakter Harus Dibentuk, Bukan Sekadar Diajarkan
Pendidikan karakter sering kali muncul dalam berbagai kegiatan sekolah. Siswa diajarkan untuk bersikap sopan, menghormati guru, bekerja sama, bertanggung jawab, dan menghargai teman. Namun, pendidikan karakter akan kehilangan maknanya jika nilai tersebut hanya berhenti sebagai materi pembelajaran.
Misalnya, anak dapat menghafal bahwa "kita harus menghargai sesama", tetapi belum tentu memahami bagaimana cara menghargai teman dalam kehidupan nyata. Karena itu, pendidikan karakter membutuhkan pembiasaan.
Konsep pendidikan karakter dari Thomas Lickona dapat digunakan untuk melihat hal ini. Pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan moral knowing, yaitu mengetahui mana yang benar, tetapi juga moral feeling, yaitu memiliki kepedulian dan perasaan terhadap nilai tersebut, serta moral action, yaitu mampu menerapkannya dalam tindakan.
Seorang siswa mungkin mengetahui bahwa menyakiti teman adalah perbuatan yang salah. Namun, pendidikan karakter baru benar-benar terlihat ketika ia mampu mengendalikan diri, memiliki empati terhadap temannya, dan memilih untuk tidak melakukan kekerasan meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Peran Sekolah dan Guru dalam Membangun Lingkungan Aman
Pendidikan karakter tentu bukan hanya tanggung jawab siswa. Guru, sekolah, keluarga, dan lingkungan pertemanan mempunyai peran yang sama pentingnya.
Sekolah perlu menciptakan budaya yang membuat siswa merasa aman untuk bercerita ketika mengalami masalah. Anak juga perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan ketika mengalami perundungan atau melihat temannya menjadi korban.
Guru bukan hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang dewasa yang berada dekat dengan kehidupan sosial siswa di sekolah. Kepekaan terhadap perubahan perilaku anak menjadi penting. Anak yang tiba-tiba takut ke sekolah, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan perubahan perilaku perlu mendapat perhatian, bukan langsung dianggap sebagai masalah kedisiplinan.
Di sisi lain, siswa juga perlu diajarkan bahwa menjadi saksi perundungan bukan berarti harus diam. Teman yang melihat tindakan tersebut perlu memahami bahwa meminta bantuan kepada guru atau orang dewasa bukanlah tindakan "mengadu", melainkan bentuk kepedulian terhadap keselamatan teman.
Belajar dari Kasus Pemalang
Kasus di Pemalang seharusnya menjadi momentum untuk kembali melihat tujuan pendidikan secara lebih luas. Pendidikan tidak cukup jika hanya menghasilkan anak yang pintar secara akademik, tetapi tidak memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain.
Dalam perspektif sosiologi, pendidikan memiliki fungsi sosialisasi. Sekolah menjadi tempat anak belajar bagaimana hidup bersama dalam masyarakat. Jika sejak kecil anak terbiasa menyelesaikan perbedaan dengan kekerasan, merendahkan yang lebih lemah, atau membiarkan tindakan perundungan, nilai tersebut berpotensi terbawa ke lingkungan sosial yang lebih luas.
Sebaliknya, jika sekolah membangun budaya yang menekankan empati, penghargaan, tanggung jawab, dan keberanian untuk mencegah kekerasan, sekolah dapat menjadi ruang penting dalam membentuk masyarakat yang lebih manusiawi.
Karena itu, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya menjadi slogan dalam kegiatan sekolah. Ia harus hadir dalam cara guru memperlakukan siswa, cara siswa memperlakukan teman, cara sekolah merespons konflik, dan cara seluruh warga sekolah menciptakan rasa aman.
Kasus Pemalang mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter bukan pelengkap dalam pendidikan. Karakter adalah bagian dari tujuan pendidikan itu sendiri. Anak tidak hanya perlu diajarkan bagaimana menjadi pintar, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang mampu menghargai dan menjaga manusia lainnya.
Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan sekadar apakah anak-anak sudah mendapatkan pendidikan karakter, tetapi apakah lingkungan pendidikan kita sudah benar-benar memberikan ruang bagi karakter itu untuk tumbuh?
