Konten dari Pengguna

Quarter Life Crisis di Kalangan Anak Muda: Masalah Pribadi atau Tekanan Sosial?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Delviani Sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi stress atau bingung. sumber: Pixaby
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi stress atau bingung. sumber: Pixaby

Pernah nggak sih kalian merasa bingung ketika melihat teman sudah memiliki banyak pencapaian, sementara diri sendiri masih bertanya-tanya sebenarnya ingin menjadi apa? Atau ini arah nya kemana ya? Perasaan seperti hilang arah atau tidak memiliki tujuan, sedangkan di sisi lain teman-teman kalian ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau bahkan mulai merencanakan masa depan. Perasaan seperti ini sering dikaitkan dengan istilah Quarter life crisis.

Quarter life crisis merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kebingungan, kekhawatiran, atau tekanan dalam menghadapi masa depan, terutama ketika mulai memasuki masa dewasa. Pertanyaan seperti “setelah lulus mau ke mana?”, “apakah aku akan berhasil?”, atau “kenapa hidup orang lain terlihat lebih maju?” bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, jika dilihat dari perspektif sosiologi, quarter life crisis tidak selalu dapat dianggap sebagai persoalan individu. Lingkungan sosial juga memiliki peran dalam membentuk tekanan yang dirasakan anak muda. Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki berbagai standar mengenai seperti apa kehidupan yang dianggap berhasil.

Ketika Pencapaian Teman Menjadi Ukuran Diri

Media sosial menjadi salah satu ruang yang membuat perbandingan sosial semakin mudah terjadi. Ketika membuka media sosial, kita dapat melihat teman atau orang lain yang sedang membagikan pencapaian mereka. Ada yang mengunggah kelulusan, pekerjaan baru, perjalanan, prestasi, maupun aktivitas lainnya.

Sebenarnya, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Namun, ketika melihatnya berulang kali, seseorang bisa merasa dirinya tertinggal. Akhirnya muncul anggapan bahwa pada usia tertentu seseorang seharusnya sudah mencapai sesuatu.

Dalam sosiologi, kondisi tersebut dapat dilihat melalui konsep interaksi sosial dan konstruksi sosial. Apa yang dianggap sebagai “sukses” tidak muncul begitu saja, tetapi dibentuk melalui nilai dan pandangan yang berkembang di masyarakat. Ketika lingkungan terus memberikan gambaran bahwa kesuksesan identik dengan pekerjaan, penghasilan, pendidikan, atau pencapaian tertentu, anak muda dapat merasa perlu memenuhi standar tersebut.

Tekanan dari Keluarga dan Lingkungan

Tekanan tidak hanya berasal dari media sosial. Keluarga dan lingkungan sekitar juga dapat memberikan ekspektasi terhadap kehidupan anak muda. Pertanyaan seperti “kapan lulus?”, “setelah lulus mau kerja di mana?”, atau “kapan punya pekerjaan tetap?” mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang mencari arah hidup, pertanyaan tersebut dapat terasa sebagai tekanan.

Di sisi lain, keluarga sebenarnya sering memberikan dorongan karena menginginkan kehidupan yang baik bagi anaknya. Masalahnya, setiap individu memiliki kondisi, kemampuan, dan proses yang berbeda. Ketika satu standar keberhasilan diterapkan kepada semua orang, anak muda dapat merasa bahwa dirinya gagal hanya karena belum mencapai sesuatu yang sudah dicapai orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa quarter life crisis memiliki hubungan dengan norma dan harapan sosial. Masyarakat memiliki gambaran mengenai tahapan kehidupan yang dianggap ideal, sedangkan kenyataan yang dialami setiap individu tidak selalu mengikuti tahapan tersebut.

Apakah Quarter Life Crisis Selalu Buruk?

Mengalami kebingungan mengenai masa depan bukan berarti seseorang gagal. Masa muda memang merupakan periode ketika seseorang mulai membuat berbagai pilihan mengenai pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, dan kehidupan yang ingin dijalani.

Justru, perasaan bingung dapat menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri dan mempertanyakan kembali apa yang benar-benar diinginkan. Yang penting adalah tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan diri sendiri.

Dari perspektif sosiologi, hal yang menarik bukan hanya bagaimana seseorang menghadapi quarter life crisis, tetapi juga bagaimana masyarakat membentuk tekanan tersebut. Ketika kesuksesan terus diukur melalui pencapaian tertentu, anak muda dapat merasa harus mengikuti pola yang sama agar dianggap berhasil.

Pada akhirnya, quarter life crisis bukan hanya cerita tentang seseorang yang bingung menentukan masa depan. Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana keluarga, teman sebaya, media sosial, pendidikan, dunia kerja, dan nilai-nilai masyarakat ikut memengaruhi cara anak muda melihat dirinya sendiri.