Konten dari Pengguna

Ulasan Novel "Di Tanah Lada" Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Dena Anggita Khalis

Dena Anggita Khalis

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dena Anggita Khalis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampul novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (sumber: hasil dokumentasi pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Sampul novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (sumber: hasil dokumentasi pribadi).

Aku pernah bertanya pada Mama, apa rasanya Monas? Tapi, kata Mama, Monas tidak ada rasanya. Jadi, aku tanya pada Kakek Kia. Kata Kakek Kia, rasanya seperti pagar besi. Jadi, aku diam-diam menjilat pagar besi, dan rasanya tidak enak. Sejak saat itu, aku berhenti berniat memakan Monas, dan hanya mengaguminya dari jauh saja. — (Ava, hlm. 177).

Akan selalu ada satu buku yang mampu mengubah perspektifmu terhadap segala hal menjadi lebih baik dan bahkan ikut membentuk dirimu yang sekarang. Akan selalu ada satu buku yang bisa kamu baca berulang-ulang tanpa bosan meski sudah hafal isi ceritanya. Bagi saya, buku itu adalah Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini.

Novel ini secara garis besar mengajak kita berpetualang menjelajahi dunia dua anak kecil, bernama Ava dan P. Melalui sudut pandang Ava, kita seolah menyelami dunia kanak-kanak: mengikuti keseharian, cara bicara, hingga cara berpikir mereka. Ava dan P benar-benar anak-anak yang polos, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu. Berusaha memahami logika mereka sungguh menyenangkan. Setiap celotehan dan interaksi di antara keduanya pun terasa menggemaskan. Dunia di mata mereka betul-betul terdiri dari hitam dan putih saja, yang baik dan yang jahat, semurni dan sesederhana itu.

Novel ini memotret banyak hal. Mulai dari topik ketidaksiapan menjadi orang tua, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), masalah psikologis anak, soal budi bahasa, hingga isu kelas sosial di masyarakat. Gaya bercerita Ziggy memberi sudut pandang unik dengan banyak selipan pesan moral tanpa terkesan menggurui. Lewat kisah Ava dan P, saya belajar banyak sekali hal tentang anak kecil. Apa pemikiran anak terhadap papa yang suka memukul? Seperti apa penilaian anak terhadap mama yang suka menangis? Apakah anak benar-benar bisa terluka ketika dimarahi, dicaci-maki, dan ditinggalkan? Mereka ternyata memiliki gaya berpikir mereka sendiri, bahkan mereka juga bisa mengambil inisiatif yang mungkin selama ini tak pernah terbayangkan oleh orang dewasa.

Bagian dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (sumber: hasil dokumentasi pribadi).

Membaca novel ini membuat saya sedih, ditambah dengan klimaks dan akhir cerita yang sukses membakar hati dan mengosongkan isi kepala. Rasanya menyesakkan ketika menyadari adanya celah yang sangat jauh antara pemahaman anak kecil dengan orang dewasa. Menjengkelkan karena hal itu juga menunjukkan bahwa anak kecil seringkali salah memahami apa pun yang didasarkan sudut pandang orang dewasa.

Tak heran jika novel Di Tanah Lada ini berhasil menyabet kategori pemenang II Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 lalu. Lewat serangkaian cerita Ava dan P, Ziggy betul-betul berhasil membawa pembaca pada satu kesimpulan besar bahwa menjadi orang tua memang tidak mudah. Tidak akan pernah mudah.

Aku tidak perlu jadi sama seperti dia untuk menyayanginya. Dia bisa berubah jadi seperti apa pun, dan aku akan tetap menyayanginya. Dia bisa lahir jadi badak—aku tidak peduli. Kalau pun dia lahir sebagai sepatu, dan aku sebagai gajah, aku akan tetap  menyayanginya, meskipun aku tidak akan pernah bisa memakannya. Kalau dia lahir sebagai cacing, dan aku sebagai upil, aku akan tetap menyayanginya. Kalau dia lahir sebagai anak laki-laki, dan aku papanya, aku akan tetap menyayanginya. Meskipun tidak ada  papa yang baik di dunia ini. Aku bisa menyayanginya, apa pun yang terjadi. — Ava (hlm. 239).