Ria sw: Mengembangkan Konten Kuliner Dan Perjalanan Di Era Digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Denada Anugrah Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Media digital memberikan kesempatan bagi kreator untuk mengembangkan program dengan bentuk yang lebih fleksibel. Salah satu contohnya adalah Ria SW yang dikenal melalui konten kuliner dan perjalanan di YouTube.

Konten Ria SW tidak hanya menampilkan makanan, tetapi juga pengalaman ketika mengunjungi berbagai tempat. Gaya penyampaian yang santai membuat perjalanan dan kegiatan kuliner menjadi bagian dari cerita dalam video.
Pada 2026, Ria SW masih aktif mengunggah konten. Data kanal yang diperbarui pada September 2026 menunjukkan sekitar 4,7 juta subscriber, lebih dari 1,1 miliar views, dan lebih dari 300 video. Beberapa konten terbarunya juga mengangkat perjalanan kuliner dan kolaborasi, termasuk video bersama NCT WISH.
Aktivitas tersebut dapat dilihat melalui konsep pengembangan program penyiaran di era digital yang dibahas dalam Modul 15. Modul tersebut menjelaskan bahwa pengembangan program meliputi riset audiens, ideasi, pengembangan format, pengujian, feedback, distribusi multiplatform, serta evaluasi.
Ideasi Konten
Tahap pertama yang dapat dilihat adalah ideasi. Dalam pengembangan program, ide dapat berasal dari tren, kebutuhan audiens, kehidupan sehari-hari, maupun berbagai fenomena yang menarik untuk dikembangkan menjadi konten.
Pada konten Ria SW, makanan dan perjalanan menjadi sumber utama ide. Setiap tempat memiliki makanan, suasana, dan pengalaman yang berbeda sehingga dapat dikembangkan menjadi cerita baru.
Konsep tersebut juga memungkinkan kreator menggabungkan beberapa unsur sekaligus, seperti kuliner, perjalanan, budaya, dan interaksi dengan orang-orang yang ditemui selama perjalanan.
Pengembangan Format
Format menjadi bagian penting dalam sebuah program digital. Konten tidak hanya bergantung pada topik, tetapi juga cara cerita disampaikan kepada penonton.
Ria SW menggunakan pendekatan video yang terasa seperti mengikuti pengalaman perjalanan secara langsung. Penonton dapat melihat proses perjalanan, memilih makanan, mencoba makanan, hingga memberikan reaksi terhadap pengalaman tersebut.
Format seperti ini membuat konten kuliner tidak hanya berisi informasi mengenai makanan, tetapi juga memiliki unsur storytelling.
Riset dan Respons Audiens
Modul 15 menjelaskan bahwa riset audiens dapat digunakan untuk mengetahui kebutuhan dan preferensi penonton. Pada media digital, data seperti views, engagement, komentar, serta respons di media sosial dapat menjadi bahan untuk memahami audiens.
Platform seperti YouTube juga menyediakan berbagai data melalui YouTube Analytics, termasuk views, watch time, unique viewers, dan audience retention. Data tersebut dapat membantu kreator memahami jenis konten yang mendapatkan respons dari audiens.
Bagi kreator digital, data tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk menentukan ide dan bentuk konten berikutnya.
Kolaborasi sebagai Pengembangan Konten
Kolaborasi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan program digital. Ketika kreator bertemu dengan tokoh atau kreator lain, audiens mendapatkan pengalaman baru dari interaksi tersebut.
Salah satu contoh pada konten Ria SW pada 2026 adalah kolaborasinya dengan NCT WISH dalam konten perjalanan kuliner. Konten tersebut menggabungkan karakter Ria SW sebagai kreator kuliner dengan figur yang memiliki basis penggemar sendiri.
Konsep kolaborasi dapat mempertemukan dua kelompok audiens dan memberikan variasi terhadap konten yang diproduksi.
Pengembangan Multiplatform
Modul 15 juga menjelaskan bahwa program di era digital dapat dikembangkan melalui berbagai platform. Konten utama dapat dikembangkan menjadi materi pendukung seperti teaser, video pendek, behind the scenes, maupun konten interaktif.
Dalam konteks Ria SW, video panjang dapat menjadi konten utama di YouTube, sedangkan bagian menarik dari video dapat dikembangkan menjadi konten pendek untuk platform lain.
Strategi tersebut membuat satu produksi dapat memiliki beberapa bentuk konten. Selain memperluas distribusi, cara ini juga memberikan lebih banyak kesempatan kepada audiens untuk menemukan konten.
Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan
Tahap terakhir dalam Modul 15 adalah evaluasi. Setelah konten dipublikasikan, respons audiens dapat digunakan untuk melihat performa program dan menjadi bahan pengembangan konten berikutnya.
Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat jumlah views, watch time, engagement, komentar, dan respons audiens. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat pola konten yang menarik bagi penonton.
Melalui proses tersebut, pengembangan program digital menjadi proses yang berkelanjutan. Ide baru dapat berasal dari pengalaman sebelumnya, respons audiens, tren, maupun eksplorasi kreator.
Ria SW menunjukkan bagaimana konten digital dapat menggabungkan kuliner, perjalanan, pengalaman, dan storytelling dalam satu format. Jika dikaitkan dengan Modul 15, pengembangan tersebut dapat dilihat melalui ideasi, pengembangan format, pemanfaatan respons audiens, kolaborasi, distribusi digital, dan evaluasi.
Perkembangan media digital membuat kreator memiliki ruang yang luas untuk bereksperimen dengan bentuk konten. Karena itu, proses pengembangan program menjadi bagian penting untuk menghasilkan konten yang tetap memiliki karakter sekaligus dapat mengikuti perkembangan audiens dan platform digital.
