Konten dari Pengguna

APBN Kita Tumbuh Kuat, Bergerak Cepat, Menjaga Harapan 2026

Dendi Andrian

Dendi Andrian

ASN Kementerian Keuangan yang ditugaskan pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Tipe A1 Padang, Direktorat jenderal Perbendaharaan, Konsentrasi Pekerjaan Keuangan Negara

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dendi Andrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya reda, kabar baik datang dari ruang fiskal kita. APBN 2026 menunjukkan fondasi yang tetap kokoh. Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 5,11% (yoy), bahkan melesat 5,39% pada Triwulan IV. Angka ini bukan sekadar statistik ia adalah sinyal bahwa mesin ekonomi nasional terus bekerja, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor yang resilien.

Stabilitas juga terjaga. Inflasi Januari 2026 sebesar 3,55% (yoy), dengan inflasi inti tanpa emas hanya 1,33%. Artinya, daya beli masyarakat tetap kuat dan ruang ekspansi ekonomi masih terbuka. Di saat yang sama, surplus neraca perdagangan berlanjut hingga 68 bulan berturut-turut menjadi penopang penting bagi ketahanan eksternal Indonesia.

foto merupakan image generate dari ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
foto merupakan image generate dari ChatGPT

Dari sisi fiskal, kinerja awal tahun memberi optimisme. Hingga 31 Januari 2026, pendapatan negara mencapai Rp172,7 triliun, tumbuh 9,5% (yoy). Penerimaan pajak bahkan melonjak 30,7% (yoy), mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. Di sisi belanja, realisasi Rp227,3 triliun atau tumbuh 25,7% (yoy) menunjukkan pemerintah tancap gas sejak awal tahun mendorong belanja produktif, mempercepat program prioritas, dan menjaga momentum pertumbuhan.

Defisit APBN tetap terkelola di 0,21% PDB pada Januari. Ini menegaskan bahwa ekspansi fiskal tetap dalam koridor kehati-hatian. Rasio utang Indonesia pun relatif rendah dibanding banyak negara peers, memberi ruang manuver yang memadai di tengah ketidakpastian global.

Koordinasi fiskal dan moneter juga makin solid. Penempatan dana pemerintah dan transmisi likuiditas mendorong penurunan suku bunga deposito dan kredit. Kredit per Januari 2026 tumbuh 10% (yoy), memperlihatkan kepercayaan dunia usaha yang terus pulih.

Lebih dari itu, APBN 2026 hadir bukan sekadar sebagai instrumen angka, tetapi sebagai alat akselerasi. Stimulus Ramadan–Idulfitri, percepatan program Makan Bergizi Gratis, pembangunan desa dan hilirisasi industri menjadi bukti bahwa belanja negara diarahkan untuk dampak nyata: lapangan kerja, ketahanan pangan, dan nilai tambah dalam negeri.

Di tengah tantangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, APBN kita membuktikan satu hal: disiplin dan keberanian bisa berjalan beriringan. Dengan fondasi yang kuat dan belanja yang semakin berkualitas, optimisme 2026 bukan sekadar wacana, ia sedang dikerjakan, hari demi hari.