Cita-Citaku Ingin Jadi Komentator Sepakbola

Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan


Waktu kecil sampai remaja, saya punya cita-cita jadi komentator bola. Bukan dokter, bukan insinyur, bukan pula pegawai negeri yang sekarang jadi pekerjaan saya. Komentator bola. Kedengarannya mudah karena kerjanya cuma duduk di depan mikrofon dan bicara. Tapi ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Jarak antara komentator yang benar-benar baik dan komentator yang sekadar mengisi keheningan siaran itu sangat jauh, seperti jarak antara nasi padang yang enak dan nasi padang yang cuma namanya padang.
Cita-cita saya itu bermula ketika SD. Sore-sore, di ruang tengah rumah, di depan TV tabung, sambil memegang stik PlayStation dengan telapak tangan berkeringat, saya mengenal Jon Kabira. Komentator legendaris Winning Eleven itu berbicara dalam bahasa yang tidak akan ditemukan di kamus mana pun. Bukan Inggris, bukan Jepang, sesuatu di antaranya. Ketika ada pelanggaran: "Fauru!" Ketika tendangan melenceng: "Shyuuto!" Dan ketika gol tercipta: "GOOOORU! SUBARASHII!"
Subarashii artinya luar biasa dalam bahasa Jepang. Saya hafal kata itu jauh sebelum hafal rumus luas lingkaran. Setiap kali Kabira berteriak "Subarashii", ada sesuatu yang bergerak di dalam dada saya. Bukan sekadar senang karena gol. Tapi senang karena ada suara yang merayakan momen itu bersama saya. Dari situlah benih itu pertama kali jatuh: bahwa suara komentator bisa menjadi bagian dari kenangan, bukan sekadar pengisi keheningan.
Momen berikutnya ketika kelas 8 SMP, 11 Juni 2010. Pertandingan pembuka Piala Dunia Afrika Selatan. Mata saya sudah setengah minta izin untuk tutup tapi saya bertahan. Dan saya bersyukur bertahan. Di menit lima puluh lima, Tshabalala melepaskan tembakan melengkung yang masuk ke sudut kanan atas gawang Meksiko. Soccer City meledak. Dan saya mendengar Peter Drury: "Tshabalala! Goal Bafana Bafana! Goal for South Africa! Goal for all Africa!"
Empat kata terakhir itu menghantam dada saya dengan cara yang tidak saya siapkan. Drury tidak sekadar melaporkan gol. Ia merangkum bahwa Afrika, dengan segala sejarah kelamnya, hari itu berdiri tegak di panggung paling besar di olahraga. Semua itu dalam empat kata, tanpa naskah, tanpa jeda.
Ternyata Drury memang tidak bisa berhenti bikin saya melongo. Ketika Manolas mencetak gol dramatis Roma atas Barcelona di 2018, ia berteriak: "Roma have risen from their ruins. Manolas, the greek god in Rome. It is a greek from Mount Olympus who has come to the 7 hills of Rome and pulled a miracle." Lalu di final Piala Dunia 2022, ketika Messi akhirnya mengangkat trofi, Drury berbisik: "The little boy from Rosario, Santa Fe, has just pitched up in heaven. It is hard to escape the supposition that he has rendered himself today, the greatest of all time."
Kalau Kabira mengajarkan bahwa suara komentator bisa menjadi bagian dari kenangan, Drury mengajarkan bahwa suara komentator bisa menjadi bagian dari sejarah. Keduanya bertemu di kepala dan hati saya: saya ingin jadi komentator bola.
Sejujurnya, sejak SD saya sudah mengomentari segala sesuatu tanpa diminta. Seandainya semua komentar itu bisa dikonversi jadi deposito, sekarang saya sudah pensiun dini, tanpa khawatir tagihan internet. Sayangnya bank belum menemukan cara memonetisasi komentar. Kalau sudah, saya jelas nasabah prioritas.
Masalahnya, rajin berkomentar dan mampu berkomentar dengan baik itu dua hal yang jaraknya lebih jauh dari perkiraan. Yang pertama butuh mulut. Yang kedua butuh perpustakaan rapi di dalam kepala yang bisa diakses dalam hitungan detik bahkan ketika stadion sedang tidak waras.
Sampai saat ini cita-cita jadi komentator sepakbola masih hidup, meski kelihatannya sedang tidak dalam kondisi prima. Seperti publik sepakbola melihat timnas Indonesia: selalu ada harapan, selalu ada alasan untuk percaya, dan selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti semuanya akan berjalan sesuai rencana. Yang perlu saya lakukan sekarang hanya satu: terus mengisi kepala dengan hal-hal yang berguna, supaya ketika momen itu tiba, mulut saya tidak cuma mengeluarkan "wah, anu, gimana ya" di depan jutaan penonton.
