Master League E-Football: Yang Pergi dan Yang Kembali

Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekeping waktu yang hilang seakan kembali mengetuk pintu ingatan. Bulan April 2026 ini, Konami mengambil langkah yang barangkali terlambat namun tak terelakkan. Menghidupkan kembali Master League ke dalam eFootball.
Master League pergi tahun 2021. Konami memilih arah baru: eFootball, free-to-play, daring, cepat, dan penuh transaksi. Keputusan yang masuk akal jika Anda percaya bahwa permainan adalah soal pasar. Tapi ada yang tertinggal ketika mode itu dihapus, sesuatu yang tidak langsung terasa hilang, seperti bunyi jam dinding yang baru Anda sadari ketika jam itu berhenti berdetak.
Master League adalah ruang di mana waktu bekerja secara berbeda. Anda membangun klub dari yang tidak ada, merekrut pemain dengan anggaran yang nyaris tidak cukup, kalah, mencoba lagi, dan perlahan menyaksikan sesuatu tumbuh dari tangan Anda sendiri. Dalam dunia yang semakin terbiasa dengan kecepatan dan hasil instan, pengalaman semacam itu terasa seperti barang antik yang masih berfungsi.
Lima tahun berlalu. Konami mengumumkan Master League akan kembali. Para penggemar bersorak. Tapi sorak itu, jika didengarkan lebih seksama, menyimpan nada yang lebih kompleks dari sekadar gembira. Ada kelegaan, tentu. Tapi ada juga pertanyaan yang menggantung: apakah yang kembali itu sungguh-sungguh sama dengan yang pergi?
Pertanyaan itu bukan soal fitur atau grafis. Pertanyaan itu menyentuh hubungan antara manusia dan waktu. Kita tidak bisa kembali ke titik yang sama dua kali. Master League yang baru lahir dalam konteks industri yang juga sudah berubah, dalam ekosistem eFootball yang pondasi nilainya berbeda dari WE dan PES yang dulu.
Apakah itu buruk? Belum tentu. Justru kita harus menyambut kepulangan ini bukan dengan nostalgia yang buta, tapi dengan mata yang terbuka. Konami perlu tahu bahwa yang ditunggu bukan sekadar label "Master League" yang ditempel pada event baru. Yang ditunggu adalah filosofi di baliknya: bahwa sebuah permainan bisa memberi ruang untuk proses yang panjang, untuk gagal yang bermakna, dan untuk kemenangan yang terasa karena ia diperjuangkan.
Kalau filosofi itu hadir, mode barunya mungkin bisa menyamai yang lama. Kalau tidak, setidaknya kita masih punya PES 6, PES 2013, PES 2017, dan PES 2021 dengan segala patchnya yang dirawat oleh komunitas yang kecintaannya pada permainan ini lebih tahan lama dari kebanyakan hal di dunia digital. Kita tetap bisa bermain bersama pemain yang dulu membangun klub kita dari divisi paling bawah seperti Castolo, Minanda, dan Ximelez yang tak pernah tua itu.
Pada akhirnya, manusia membutuhkan cerita, dan Master League menyediakan panggung untuk menuliskan cerita itu sendiri. Keserakahan industri mungkin bisa menyingkirkan mode tersebut untuk sementara, namun kerinduan akan proses dan kerja keras tak akan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya.
Yang kembali memang selalu membawa pertanyaan, dan tugas kita bukan menjawabnya terlalu cepat.
