Konten dari Pengguna

Rindu Kami Padamu Super Shot Soccer

Dendy Raditya Atmosuwito

Dendy Raditya Atmosuwito

Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover CD Video Game Super Shot Soccer di konsol PS 1
zoom-in-whitePerbesar
Cover CD Video Game Super Shot Soccer di konsol PS 1

Ada masa dalam hidup saya ketika sepak bola bukan soal tiki-taka Barcelona atau gegenpressing Klopp. Sepak bola adalah soal bagaimana caranya mengeluarkan bola api dari kaki atau memanggil Menara Eiffel untuk menyetrum lawan. Saya bicara tentang Super Shot Soccer, sebuah game rilisan Tecmo di PlayStation 1 yang mengajarkan saya bahwa olahraga paling populer di dunia sebenarnya akan jauh lebih menarik kalau ada unsur jurus dan magisnya.

Bagi anak-anak generasi saya yang tumbuh di era rental PlayStation, Super Shot Soccer bukan sekadar game. Dia adalah pelarian dari monotonnya Winning Eleven yang terlalu serius dengan segala realisme membosankannya. Tentu saja Winning Eleven bagus, tapi setelah kalah 0-5 dari komputer yang sepertinya sudah menghafal semua pola permainan kita, rasanya butuh sesuatu yang lebih katarsis. Sesuatu yang memungkinkan kita membalas dendam dengan cara yang tidak mungkin dilakukan di dunia nyata, seperti memanggil kapal Viking kalau main pakai tim Amerika Serikat, atau memunculkan Tembok Besar Tiongkok untuk memblokir tendangan lawan.

Keindahan Super Shot Soccer terletak pada keunikannya yang absurd namun masuk akal dalam logika game-nya sendiri. Setiap negara punya jurus khas yang benar-benar mencerminkan ikonnya masing-masing, bukan sekadar perbedaan jersey dan statistik pemain seperti di game-game realistis. Main pakai Prancis berarti Anda harus siap dengan strategi serangan listrik ala Menara Eiffel. Main pakai Amerika berarti Anda punya opsi pertahanan Patung Liberty yang entah kenapa bisa muncul di tengah lapangan bola. Absurd? Tentu. Tapi bukankah hidup sudah cukup serius dengan segala aturan logisnya?

Sayangnya, setelah era PlayStation 2 datang, genre game sepak bola arcade perlahan-lahan menghilang. Memang masih ada beberapa judul yang mencoba melanjutkan warisan genre sepak bola arcade yang penuh kegilaan tersebut. Red Card hadir dengan brutalitas yang bahkan lebih sadis, tapi sayang semua tim terasa sama sehingga kehilangan keunikan yang membuat Super Shot Soccer spesial. Captain Tsubasa versi PS2 punya animasi kombo yang keren, tapi sistem Quick Time Event-nya bikin permainan terasa repetitif seperti nonton sinetron yang itu-itu saja plotnya. Lego Soccer Mania mencoba dengan sistem power-up item acak, tapi hasilnya malah terasa seperti Mario Kart versi sepak bola yang kurang konsisten. Sempat ada FIFA Street bisa diandalkan, tapi sekarang pun sudah menghilang.

Yang lebih menyedihkan, pasar game sepak bola kemudian dikuasai sepenuhnya oleh dua raksasa: eFootball (dulu PES) dan EA Sports FC (dulu FIFA). Keduanya berlomba-lomba menjadi simulasi sepak bola paling realistis, lengkap dengan lisensi pemain asli dan stadion yang detail sampai bisa keliatan rumput palsunya. Mereka rilis game baru setiap tahun dengan perubahan minimal, tapi tetap laku karena ada efek FOMO dari para penggemar yang takut ketinggalan skuad terbaru atau fitur Ultimate Team yang menguras dompet lebih cepat dari inflasi rupiah.

Saya paham kenapa realisme menang. Orang-orang ingin merasakan sensasi mengontrol Messi atau Ronaldo dengan akurat. Mereka ingin taktik 4-3-3 atau 3-5-2 berjalan seperti di lapangan sungguhan. Tapi bukankah dunia sudah cukup realistis? Bukankah kita semua sudah cukup lelah dengan kenyataan bahwa Indonesia tidak lolos Piala Dunia? Kenapa kita tidak boleh punya fantasi di mana tim Indonesia bisa menang dengan memanggil Garuda raksasa untuk menerkam pemain Brasil?

Argumen bahwa game sepak bola arcade terlalu kekanak-kanakan juga tidak fair. Rocket League, sebuah game di mana mobil-mobil main bola, justru bertahan selama sepuluh tahun dengan 86 juta pemain aktif. Mario Strikers masih dirilis Nintendo dengan antusiasme tinggi. Bahkan Inazuma Eleven yang memadukan sepak bola dengan RPG punya basis penggemar setia. Jadi jelas ada pasar untuk game sepak bola yang tidak melulu soal simulasi realistis. Ada pasar yang rindu akan chaos, kegilaan, dan jurus-jurus yang melanggar semua hukum fisika.

Sebenarnya, seperti yang dikatakan oleh La Junta dalam video esai di channel YouTube-nya, Main Space, kepunahan game sepak bola arcade bukan semata-mata karena pemain tidak menginginkannya. Lebih tepat dikatakan bahwa industri game terlalu takut mengambil risiko. Publisher besar lebih suka bermain aman dengan formula yang sudah terbukti menghasilkan uang, yaitu simulasi realistis dengan sistem transaksi mikro yang menjerat. Sementara developer indie yang sebenarnya punya keberanian untuk bereksperimen, sering kali tidak punya budget untuk membuat game sepak bola arcade dengan skala produksi yang layak bersaing di pasar modern.

Padahal dengan teknologi yang jauh lebih canggih sekarang, game sepak bola arcade seharusnya bisa dibuat lebih spektakuler lagi. Bayangkan Super Shot Soccer dengan grafis Unreal Engine 5, dengan jurus-jurus yang bisa di-customize, dengan mode online di mana kita bisa adu jurus dengan pemain dari seluruh dunia. Atau versi mobile-nya yang kasual tapi tetap seru untuk sesi main pendek di ojek online. Potensinya ada, pasarnya ada, yang kurang cuma keberanian.

Atau mungkin yang dibutuhkan adalah pendekatan berbeda. Alih-alih mencoba bersaing langsung dengan FIFA dan eFootball, game sepak bola arcade bisa lean in sepenuhnya ke sisi party game-nya. Jadikan dia pengalaman multiplayer yang chaos seperti Mobile Legends atau PUBG, tapi dengan bola dan gawang. Atau fokus ke esports dengan mekanik yang sederhana tapi skill ceiling yang tinggi seperti Rocket League. Atau justru manfaatkan IP anime populer dan kembangkan seperti Captain Tsubasa (yang tahun 2026 ini akan merilis game baru) yang kompetitif namun tetap setia pada semangat animenya.

Sampai hari itu tiba ketika ada developer yang cukup gila untuk menghidupkan kembali kejayaan game sepak bola arcade, saya dan generasi gamer sepuh rental PlayStation lainnya hanya bisa bernostalgia sambil sesekali memainkan game lawas Super Shot Soccer untuk merasakan lagi sensasi memanggil Menara Eiffel di tengah lapangan. Berharap suatu hari nanti ada yang menyadari bahwa sepak bola tidak harus selalu tentang aturan FIFA yang kaku, tapi bisa juga tentang betapa asyiknya membiarkan imajinasi liar mengambil alih jalannya pertandingan.

Pada akhirnya, bermain game itu soal kesenangan. Dan rasanya sangat menyenangkan mengeluarkan bola api dari kaki untuk mencetak gol sampai kiper lawan terpental ke dalam gawang.