Konten dari Pengguna

Seandainya Kita Tidak Perlu Merantau

Dendy Raditya Atmosuwito

Dendy Raditya Atmosuwito

Penulis Esai dari Bantul Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dendy Raditya Atmosuwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stasiun yang ramai pemudik
zoom-in-whitePerbesar
Stasiun yang ramai pemudik

Beberapa hari lagi kami, Istri dan saya, akan berangkat mudik ke Ponorogo. Saya lahir di Jogja dan besar di Jogja. Sedangkan Istri saya dari Ponorogo, sehingga sekarang saya punya dua kampung halaman. Tapi berhenti sebentar. Kenapa istri saya ada di Jogja?

Jawabannya sederhana dan agak menyedihkan: karena Ponorogo belum menawarkan cukup banyak. Lapangan kerja, universitas, fasilitas, semuanya seperti bersepakat untuk bergerombol di kota-kota besar saja. Sementara kota-kota lain duduk manis menunggu warganya pergi dulu, baru kiriman uang masuk.

Saya rasa, di Indonesia, orang merantau bukan karena jiwa petualangnya tiba-tiba meledak. Kebanyakan orang merantau karena di kampung halamannya, kesempatan itu sempit seperti celana jins yang salah ukuran: kelihatan ada, tapi tidak bisa masuk. Ketidakadilan ekonomi di Indonesia sudah sampai pada level yang sangat mengkhawatirkan. Pusat pertumbuhan ekonomi kita itu numpuk di kota-kota besar saja, seolah-olah seluruh rezeki di Nusantara ini disedot menggunakan penyedot debu raksasa lalu dibuang di kota-kota tersebut.

Pulau Jawa sendiri menyedot hampir separuh produk domestik bruto nasional, sementara daerah-daerah lain berlomba mengirimkan manusianya ke Jawa supaya bisa tetap bertahan. Keadilan sosial yang dijanjikan konstitusi itu sepertinya masih sibuk antri di loket yang sama dengan kita.

Seandainya pembangunan itu merata, seandainya di setiap sudut desa ada lapangan kerja yang gajinya cukup, saya yakin jumlah perantau bakal merosot tajam. Coba bayangkan: kalau di setiap kabupaten di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, NTT, Papua, ada universitas bagus, ada rumah sakit layak, ada pekerjaan yang bisa menghidupi, berapa banyak orang yang mau jauh dari orang tuanya? Berapa banyak ibu yang tidak perlu menangis sendirian di kampung karena semua anaknya pergi ke kota?

Tapi, dan ini bagian yang penting, kalau tidak ada yang merantau, istri saya tidak akan pernah ada di Jogja. Kami tidak akan pernah bertemu. Tidak akan ada perjalanan ke Ponorogo yang tiap tahun menghadiahi saya dengan sate yang porsinya kolosal itu. Merantau, walau mungkin lahir dari keterpaksaan, melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan kebijakan publik manapun: mempertemukan dua manusia dari dua dunia yang berbeda, lalu membuat mereka saling belajar.

Budaya-budaya di Nusantara ini tidak pernah benar-benar bertemu kalau semua orang diam di tempatnya. Pertemuan itu terjadi di kos-kosan sempit Jogja, di kontrakan Jakarta yang tembok tipisnya bisa mendengar tetangga bergosip, di warung makan Surabaya yang penjualnya orang Padang dan pembelinya orang Madura.

Mudik adalah sisi baliknya. Jutaan orang pulang bukan karena transportasi murah, tapi karena ada yang ditinggalkan dan dirindukan. Ponorogo menarik istri saya pulang tiap tahun, dan tiap tahun saya ikut, sampai saya pun punya kenangan di sana yang tidak bisa saya beli dengan apapun. Indonesia ikut dibentuk oleh langkah kaki para perantau yang membawa harapan sebesar gunung dan kerinduan sedalam palung laut. Meskipun merantau lahir dari rahim ketidakadilan ekonomi yang belum juga sembuh, ia tetap menjadi jembatan yang mempertemukan puak-puak yang awalnya jauh.

Seandainya tidak perlu ada yang merantau, itu artinya Indonesia sudah adil. Setiap daerah punya cukup, setiap orang punya pilihan. Kita semua berharap hari itu datang. Dan ketika saya mudik ke Ponorogo nanti, saya akan melihat ribuan orang lainnya yang melakukan hal yang sama. Kita semua adalah saksi dari pembangunan yang belum merata, tapi kita juga adalah pelaku sejarah yang membuat Indonesia tetap hidup melalui pertemuan-pertemuan yang tidak sengaja.