Konten dari Pengguna

Belajar dari Sapu Lidi

Deni Candra Pamungkas

Deni Candra Pamungkas

S1 Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta S2 Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Pendidik di Perkumpulan Strada

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deni Candra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu hari seorang guru membawa sesuatu yang sederhana ke dalam kelas: seikat sapu lidi. Para siswa memandang dengan heran. Mereka mengira guru akan menggunakannya untuk membersihkan kelas, tetapi ternyata bukan itu maksudnya.

Ilustrasi sapu lidi. Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sapu lidi. Sumber: Pexels

Guru itu memanggil salah satu siswa ke depan. Ia mengambil satu batang lidi dari ikatan sapu itu dan menyerahkannya kepada siswa tersebut.

“Coba patahkan,” kata guru.

Siswa itu dengan mudah mematahkan lidi tersebut hanya dengan sedikit tekanan dari kedua tangannya. Semua siswa melihat bahwa lidi itu sangat rapuh jika berdiri sendiri.

Kemudian guru mengambil seluruh ikatan sapu lidi dan menyerahkannya kembali kepada siswa yang sama.

“Sekarang coba patahkan yang ini.”

Siswa itu mencoba dengan sekuat tenaga. Ia menekan, membengkokkan, bahkan mencoba mematahkannya dengan lutut. Namun ikatan sapu lidi itu tetap sulit dipatahkan. Ia akhirnya menyerah sambil tersenyum malu.

Guru itu lalu berkata kepada seluruh siswa, “Inilah pelajaran sederhana dari sapu lidi. Satu batang lidi sangat mudah dipatahkan. Tetapi ketika banyak lidi disatukan, mereka menjadi kuat.”

Para siswa mulai memahami maksudnya.

Dalam kehidupan, manusia sering merasa mampu berjalan sendiri. Ada yang merasa tidak membutuhkan orang lain. Ada pula yang merasa paling kuat sehingga memilih berdiri sendirian. Namun kenyataannya, manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan.

Seperti sebatang lidi, seseorang yang berjalan sendiri mungkin mudah goyah ketika menghadapi masalah, tekanan, atau kesulitan hidup. Tetapi ketika banyak orang saling mendukung, saling menguatkan, dan saling bekerja sama, kekuatan itu menjadi jauh lebih besar.

Kebersamaan membuat sesuatu yang rapuh menjadi kokoh. Persatuan membuat sesuatu yang lemah menjadi kuat.

Pelajaran dari sapu lidi juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki peran. Satu batang lidi mungkin terlihat kecil dan sederhana. Namun ketika ia menjadi bagian dari sebuah ikatan, keberadaannya menjadi sangat berarti.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, di sekolah, di tempat kerja, atau di keluarga. Setiap orang memiliki kontribusi. Ketika semua orang mau bersatu, saling membantu, dan tidak saling menjatuhkan, maka terciptalah kekuatan yang besar.

Sebaliknya, jika kita tercerai-berai, saling menyalahkan, atau berjalan sendiri-sendiri, kita menjadi rapuh seperti sebatang lidi yang mudah dipatahkan.

Karena itu, pelajaran sederhana dari sapu lidi mengajarkan kita satu hal penting: kekuatan sejati lahir dari kebersamaan.

Ilustrasi dengan bersama akan lebih kuat dan menyenangkan. Sumber: Pexels

Mari belajar untuk saling merangkul, bukan saling menjauh. Belajar untuk bekerja sama, bukan berjalan sendiri-sendiri. Sebab ketika kita bersatu, kita menjadi kuat. Namun ketika kita berdiri sendiri tanpa kebersamaan, kita menjadi rapuh.

Seperti sapu lidi yang sederhana, kebersamaanlah yang membuat kita mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih kokoh dan penuh harapan.