Konten dari Pengguna

Pentingnya Memilih Benih Terbaik dari yang Baik

Deni Candra Pamungkas

Deni Candra Pamungkas

S1 Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta S2 Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Pendidik di Perkumpulan Strada

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deni Candra Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memilih benih. Foto: Pexel
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memilih benih. Foto: Pexel

Memilih benih bukan sekadar langkah awal dalam proses menanam, melainkan juga fondasi yang menentukan seluruh arah pertumbuhan. Dalam dunia pertanian, benih yang baik akan membawa harapan akan panen yang sehat, kuat, dan melimpah.

Sebaliknya, benih yang salah—baik karena kualitasnya rendah, tidak sesuai dengan kondisi tanah, atau tidak cocok dengan iklim—akan menghasilkan tanaman yang rapuh, mudah terserang hama, bahkan gagal tumbuh.

Kesalahan di awal ini sering kali tidak bisa diperbaiki di tengah jalan. Sehebat apa pun perawatan yang diberikan, jika benihnya tidak tepat, hasil akhirnya tetap tidak optimal. Inilah mengapa petani berpengalaman sangat berhati-hati dalam memilih benih, karena mereka memahami bahwa masa depan panen ditentukan sejak awal.

Buruh tani menyiapkan benih padi sebelum ditanam di area persawahan Bontoramba, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (16/12/2021). Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO

Gambaran ini sangat relevan ketika dikaitkan dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin pada dasarnya adalah “penanam” dalam sebuah organisasi. Ia memilih, menempatkan, dan mengembangkan orang-orang yang akan menjadi penggerak utama dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam konteks ini, “benih” adalah sumber daya manusia yang dipilih dan ditempatkan dalam organisasi. Jika seorang pemimpin salah memilih orang—misalnya karena faktor kedekatan, rasa tidak enak, atau penilaian yang tidak objektif—dampaknya bisa sangat luas. Orang yang tidak tepat di posisi tertentu dapat menghambat kinerja tim, menurunkan semangat kerja, bahkan menciptakan konflik internal yang merusak.

Efek buruk dari salah memilih “benih” dalam kepemimpinan sering kali tidak langsung terlihat, tetapi perlahan-lahan menggerogoti organisasi. Seseorang yang tidak memiliki kompetensi pada bidangnya mungkin akan kesulitan mengambil keputusan yang tepat. Akibatnya, pekerjaan menjadi tidak efisien, target tidak tercapai, dan anggota tim lain harus menanggung beban tambahan.

Ilustrasi lelah. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Lebih jauh lagi, hal ini dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemimpin. Anggota tim yang kompeten bisa merasa tidak dihargai ketika melihat posisi strategis diisi oleh orang yang kurang tepat. Pada akhirnya, organisasi bisa kehilangan talenta terbaiknya karena mereka merasa tidak berada dalam sistem yang adil dan profesional.

Sebaliknya, ketika pemimpin mampu memilih “benih” yang tepat—yakni orang yang memiliki kompetensi, integritas, dan semangat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi—pertumbuhan akan terjadi secara alami. Orang yang tepat di posisi yang tepat akan bekerja dengan lebih efektif, mampu berkolaborasi dengan baik, dan berkontribusi secara maksimal.

Seperti benih unggul yang ditanam di tanah yang sesuai, mereka akan berkembang dengan optimal dan menghasilkan “buah” yang berkualitas. Dalam situasi ini, pemimpin tidak perlu terus-menerus mengawasi secara ketat, karena sistem sudah berjalan dengan baik melalui orang-orang yang tepat.

Ilustrasi pentingnya memilih "siapa" yang akan diajukan. Foto: Pexels

Namun, memilih orang yang tepat bukanlah perkara mudah. Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kepekaan, ketegasan, dan objektivitas. Ia harus mampu melihat potensi, bukan sekadar penampilan luar. Ia juga harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer, tetapi benar secara prinsip.

Dalam hal ini, integritas pemimpin menjadi kunci. Sama seperti petani yang tidak tergoda untuk menanam benih murah yang kualitasnya diragukan, pemimpin pun tidak boleh tergoda oleh pertimbangan-pertimbangan yang tidak relevan dengan tujuan organisasi.

Lebih dari itu, memilih benih juga berbicara tentang tanggung jawab jangka panjang. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kondisi organisasi di masa depan. Kesalahan dalam memilih orang bisa berdampak bertahun-tahun, bahkan menciptakan budaya kerja yang tidak sehat.

Ilustrasi lelah bekerja. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, keputusan yang tepat akan membangun fondasi yang kuat bagi keberlanjutan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin perlu menyadari bahwa setiap pilihan yang ia buat bukan hanya tentang kebutuhan saat ini, melainkan juga tentang masa depan yang ingin dibangun.

Pada akhirnya, analogi memilih benih mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ia dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan penuh pertimbangan. Dalam kepemimpinan, memilih orang yang tepat di posisi yang tepat adalah salah satu keputusan paling krusial.

Jika benih yang ditanam baik, dirawat dengan benar, dan ditempatkan di lingkungan yang sesuai, hasilnya akan mengikuti. Namun jika sejak awal benih yang dipilih salah, segala usaha, selanjutnya, hanya akan menjadi upaya memperbaiki sesuatu yang seharusnya tidak terjadi sejak awal.