Konten dari Pengguna

Akal, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi AI

Deni Darmawan

Deni Darmawan

Da'i MUI Jakarta, Guru dan Akademisi. Penulis Buku Religi dan Pengembangan Diri.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deni Darmawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Deni Darmawan menyampaikan kajian tentang Akal, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi AI (dokpri)
zoom-in-whitePerbesar
Deni Darmawan menyampaikan kajian tentang Akal, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi AI (dokpri)

Dalam kajian yang saya sampaikan di Masjid Darul Ulum Witana Harja Universitas Pamulang yang jamaahnya adalah dosen dan mahasiswa, maka judul Akal, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intellegence (AI) adalah pilihan yang tepat.

Dari yang pernah saya pelajari dan amati, bahwa akal merupakan anugerah terbesar yang Allah SWT yang berikan kepada manusia. Dengan akal, manusia mampu berpikir, merenung, dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam semesta.

Akal juga menjadi pembeda utama antara manusia dengan makhluk lainnya. Melalui akal, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Akal juga menjadi pisau untuk menganalisa untuk membedah segala macam persoalan untuk menemukan jalan keluar.

Oleh karena itu, akal bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi juga amanah dan tanggungjawab yang harus dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Akal adalah “produk ilahi” yang menjadi alat utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Oleh sebab itu, peran manusia sebagai khalifah atau pemimpin mampu menggali ilmu pengetahuan untuk memakmurkan bumi untuk kemaslahatan.

Dalam kehidupan manusia, akal dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Akal menjadi sumber lahirnya ilmu, sementara ilmu adalah hasil dari proses berpikir yang dilakukan oleh akal. Akal memperkuat iman bahwa kesesuaian sains hari ini adalah bukti dari kekuasaan Allah.

Buku karya Deni Darmawan tentang Islam dan AI (dokpri)

Dengan akalnya, manusia mampu mengembangkan berbagai kecerdasan dan keterampilan. Manusia dapat menciptakan alat-alat canggih yang mempermudah kehidupan, mempercepat pekerjaan, dan meringankan beban manusia.

Dari alat sederhana hingga teknologi modern, semuanya lahir dari proses berpikir manusia yang terus berkembang. Itulah anugerah akal bagi manusia, oleh sebab itu akal jangan dihancurkan oleh hal-hal yang memabukkan dan segala bentuk asusila yang membuat akal menjadi keruh.

Keunikan manusia yang memiliki beragam kecerdasan menjadi bukti kelebihan yang Allah berikan. Ada kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, sosial, bahkan kecerdasan dalam memahami lingkungan. Semua ini menunjukkan betapa istimewanya manusia dibandingkan makhluk lainnya. Sebagaiman Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 70.

“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna,”

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diberi kemuliaan yang tidak dimiliki makhluk lain. Kemuliaan itu salah satunya terletak pada akal yang mampu mengolah pengetahuan dan membangun peradaban. Dengan kemuliaan itu juga manusia mampu memiliki beragam kecerdasan.

Namun, dalam Islam, akal tidak hanya digunakan untuk urusan dunia, tetapi juga untuk memahami agama. Akal berfungsi untuk menggali makna terdalam dari ajaran Islam, menemukan hikmah di balik setiap perintah dan larangan, serta memperkuat keimanan kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan mentadabburi ciptaan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa iman dan akal bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan. Bahkan Allah SWT mempertanyakan akal manusia dalam memperhatikan alam semesta.

Saya pun pernah membaca rtikel yang dirilis oleh Kumparan yang berjudul Ilmu Pengetahuan: Kepala dan Akal Manusia Capai Tingkat Sempurna di Usia 40 Tahun. Ketika manusia mencapai usia 40 tahun, di tengkorak manusia ada tulang rawan lembut yang saling terhubung satu sama lain dan menguatkan tulang lainnya.

Tulang itu semakin sempurna tingkat kekerasannya dan menyempurnakan struktur tengkorak kepala sehingga mempengaruhi inti akal di otak. Menurut Dr. Nadiah Thayyarah, sebelum ilmu pengetahuan modern mengungkapkan hal ini, Al-Qur’an sudah menerangkan dalam surat Al-Ahqaf ayat 15. Ayat tersebut mengungkapkan capaian kematangan kepala dan akal.

Para ulama sejak dahulu telah menggunakan akalnya untuk merumuskan hukum dan menjawab persoalan kehidupan yang terus berkembang. Proses ijtihad menjadi bukti bahwa akal memiliki peran penting dalam memahami syariat. Namun, akal tetap harus berada dalam bimbingan agama agar tidak menyimpang dari kebenaran dan merugikan banyak orang.

Dari sejarah Islam yang saya pelajari, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani (2009) pernah menulis di dalam bukunya yang berjudul Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, bahwa bahwa akal manusia mampu melahirkan peradaban ilmu pengetahuan yang gemilang. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Para ilmuwan Muslim memiliki semangat belajar yang tinggi, budaya literasi yang kuat, serta kemampuan menghasilkan karya-karya besar.

Di dalam buku Pendidikan Islam dan Budi Pekerti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kelas 12 (2017) bahwa sejumlah tokoh barat seperti Jacques C. Reister mengakui, bahwa peradaban Islam telah menguasai dunia selama 500 tahun dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi. Montgomery Watt juga memberikan pernyataan bahwa peradaban Eropa tidak serta-merta dibangun oleh mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi “dinamonya”, maka Barat bukan apa-apa.

Jadi menurut analisis saya, cendekiawan Muslim tidak hanya memahami agama, tetapi juga menguasai ilmu matematika, kedokteran, astronomi, dan berbagai bidang lainnya. Akal mereka “membumi” dalam karya nyata, sekaligus “melangit” dalam kesadaran spiritual.

Kontribusi ilmuwan Muslim ini diakui oleh tokoh dunia. Banyak tokoh Barat mengakui bahwa peradaban Eropa modern tidak lepas dari warisan ilmu pengetahuan Islam. Umat Islam pada masa itu menjadi jembatan penting dalam mentransmisikan ilmu dari masa klasik ke dunia modern.

Mari kita refleksikan kembali tentang kejayaan Islam dengan kembali kepada ajaran Al-Qur’an. Mari kita renungkan kembali bahwa akal memiliki peran penting dalam kehidupan manusia dan harus dijaga fungsinya untuk menggali ilmu pengetahuan.

Namun, di tengah kemajuan ini, manusia perlu kembali merenung, untuk apa akal ini digunakan? Apakah untuk mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauh? Akal yang tidak dibimbing oleh iman bisa menyesatkan, tetapi akal yang berjalan bersama agama akan melahirkan ilmu yang membawa keberkahan.

Di era sekarang, perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat. Salah satu puncaknya adalah lahirnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini menunjukkan betapa luar biasanya potensi akal manusia.

AI adalah teknologi dan alat yang mampu meniru cara berpikir manusia dalam menghimpun informasi, menganalisis data, memecahkan masalah, bahkan membantu berbagai aktivitas kehidupan manusia dengan sangat cepat.

Islam tidak anti-teknologi dan perubahan. Ajaran Islam memberikan pedoman, arahan dan petunjuk dalam menggunakan teknologi agar bisa memberikan kemaslahatan, bukan kemudaratan, memberikan kebaikan, bukan mafsadah (kerusakan), dan tidak melanggar prinsip dan nilai-nilai Islam.

Akhirnya, akal dan ilmu pengetahuan adalah dua anugerah yang harus disyukuri. Dengan keduanya, manusia dapat membangun peradaban yang maju sekaligus berakhlak. Maka tugas kita bukan hanya mengembangkan ilmu, tetapi juga menjaga akal agar tetap berada dalam petunjuk ilahi dan aktualisasi sebagai khalifah di muka bumi.

Deni Darmawan adalah seorang akademisi, guru intercultural school, dan Da’I MUI Jakarta