Konten dari Pengguna

Amazing Muharam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deni Darmawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Deni Darmawan menyampaikan khutbah Jum'at di Masjid Imam Bonjol Pangkalan Jati Jakarta Selatan  (Sumber : dokpri)
zoom-in-whitePerbesar
Deni Darmawan menyampaikan khutbah Jum'at di Masjid Imam Bonjol Pangkalan Jati Jakarta Selatan (Sumber : dokpri)

Amazing Muharam adalah sebuah istilah yang menggambarkan betapa mulia dan istimewanya pada bulan ini. Ada beberapa catatan kenapa Muharam saya sebut sebagai Amazing Muharam. Pertama, karena Allah muliakan bulan ini, kedua menjadi bulan tahun baru Islam dan ke-tiga menjadi momentum perbaikan dan evaluasi bagi diri dan umat Islam.

Dalam pengamatan saya, 3 catatan ini menjadi hal yang penting yang patut kita renungkan dan terus menjadi bahan evaluasi bagi perbaikan dan membangun kembali jejak-jejak peradaban Islam.

Catatan pertama, bahwa Allah memandang bulan Muharam bukan sebatas bulan pertama dalam kalender hijriyah, tapi bulan ini menjadi bulan yang mulia agar umat Islam menjadi umat yang terus meningkatkan kualitas iman, ilmu, akhlak dan amal.

Bukan tanpa alasan, Muharam disebut sebagai bulan mulia karena termasuk arbatun hurum yaitu 4 bulan yang dimuliakan Allah sebagaimana tertera di dalam surat At-Taubah ayat 36. Di dalam tasir Jami' al-Bayan karangan Ibnu Jarir At-Thabari bahwa 4 bulan itu adalah Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab.

Menurut Ibnu Jarir bahwa pada ayat ini Allah memuliakannya agar tidak melakukan kezaliman, melakukan perang dan melakukan buruk lainnya. Dia memerintahkan untuk memperbanyak ibadah. Seperti ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya sehingga mengantarkan kepada kemulian bagi setiap orang yang menjalankannya.

Bahkan pada 10 Muharam menjadi sebuah renungan untuk umat Islam karena begitu banyak kejadian atau kisah yang dialami oleh para Nabi dan Rasul. Merujuk pada kitab Nazatul Majalis Wa Muntakhobun Mawaidz karya Syaikh Abdurahman Al-Sofuri bahwa pada 10 Muharam ada peristiwa dan kisah yang patut kita renungkan dan ambil hikmahnya.

Dari kisah Nabi Adam, Allah menerima tobatnya ketika berbuat salah dan diturunkan ke muka bumi beserta istrinya Siti Hawa, mendaratnya perahu Nabi Nuh ketika terjadi banjir bandang, Allah mengembalikan kerajaan Sulaiman, Allah memberikan kesembuhan pada Nabi Ayyub 'alaihissalam, bertemunya Nabi Yusuf bersama ayahanda tercinta Nabi Yakub, dan Allah menyelamatkan Nabi Yunus yang berada dalam perut Ikan selama 40 hari.

Catatan ke-dua, Muharam menjadi bulan pertama dalam kalender hijriyah dan ditetapkan menjadi tahun baru Islam. Hal ini merujuk pada ketetapan khalifah Umar Ibn Khatab ketika menerima usulan dari seorang sahabat Abu Musa Al-Asyari dalam hal administrasi surat menyurat.

Sayyidina Umar ibn Khatab menerima semua usulan sahabat dalam penentuan kalender hijriyah sebagai tahun baru Islam dengan merujuk peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke kota Madinah sebagai tahun baru Islam.

Bukan tapi dasar, ketika Sayyidina Umar ibn Khatab menerima usulan dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib bahwa tahun baru Islam merujuk pada peristiwa hijrah sebagai jejak dan transformasi spiritual dan peradaban untuk terus bergerak membangun umat Islam yang kokoh dan inovatif dalam beragam aspek kehidupan.

Peristiwa hijrah menjadi patokan bahwa ini bukan hanya perpindahan tempat tapi hijrah totalitas kepada Allah dalam berbagai aspek, baik secara spiritual dan peradaban agar umat Islam terus bebenah meningkatkan kualitas diri menjadi sebaik-sebaik umat yang dilahirkan oleh umat manusia. (Qs. 3 : 110)

Pertimbangan lain kenapa Sayyidina Umar Ibn Khatab memilih Muharam dan bukan yang lain, karena bulan ini umat Islam telah selesai menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Bagi setiap muslim yang selesai berhaji menjadi agen perubahan dan contoh bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Catatan ke-tiga, Muharam menjadi momentum perbaikan dan evaluasi bagi diri dan umat Islam. Ajaran Islam sangat memperhatikan waktu. Para ulama mengatakan, bahwa waktu menjadi modal dan aset utama yang diberikan oleh setiap manusia, waktu yang lewat tidak akan kembali dan waktu cepat berlalu.

Momentum ini harus dijadikan umat untuk bisa mengelola waktu dengan baik. Detik berubah menjadi menit, jam, hari, minggu, tahun dan abad. Allah mengingatkan pada surat Al-Haysr ayat 18 agar orang-orang yang beriman dan bertakwa untuk memperhatikan dalam setiap waktu yang dilaluinya di dunia dan akhirat.

Inilah pentingnya manajemen waktu agar setiap muslim dan umat Islam lebih produktif dalam memanfaatkan waktu dan terus berkarya dalam setiap aspek serta menginspirasi dalam setiap jejak kehidupan menuju peradaban yang gemilang.

Sebagai bahan refleksi, bahwa Amazing Muharam menjadi cerminan untuk umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman, ilmu, amal dan akhlak. 3 catatan ini menjadi penting agar kita semua tidak terlena oleh keindahan dunia sehingga lupa esensi akan nilai ukhrowi.

Mari kita jadikan Muharam sebagai bulan yang mulia sebagaimana Allah memuliakannya, menjadikan hijrah sebagai transformasi spiritual dan peradaban dan terakhir sebagai momen perbaikan dan evaluasi bagi diri dan umumnya umat Islam.