Maulid Nabi dan Krisis Keteladanan

Dosen Agama Universitas Pamulang, Religion Teacher at JIS, Tuton PAI FKIP-UT, Da'i MUI Jakarta dan Penemu Formula Menulis OBAT ARSIP
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Deni Darmawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momen maulid nabi bukan sekedar seremonial dan ajang tahunan yang diperingati besar-besaran, momen ini menjadi refleksi mendalam untuk kembali mengenang napak tilas perjalanan hidup Rasulullah SAW yang agung dan luhur di tengah krisis keteladanan di era digital saat ini.
Kita turut prihatin ketika melihat beragam berita di televisi, sejanak kita perlu menghela napas untuk tenangkan bathin karena begitu pilu melihat peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat yang diluar nalar dan tidak pernah habisnya.
Kasus seperti pembunuhan, kriminal, korupsi, pencurian, narkoba, judi online, pergaulan bebas, perundungan, dan kasus lainnya yang kerap terjadi menjadi tontonan sehari-hari hingga terasa sesak di hati.
Di tengah kemajuan teknologi yang semakin canggih, informasi terus membanjiri, efek viral yang semakin menjadi-jadi dan lebih konyol karena bisa membahayakan diri. Efek viral harus menginspirasi dan penuh prestasi, meng-edukasi dan memberikan pencerahan bagi setiap diri.
Namun seiring kemajuan teknologi masih saja krisis keteladanan disana-sini karena kita masih saja dipertontonkan para pejabat yang masih saja korupsi, maling yang habis digebuki karena main hakim sendiri, judi online yang semakin tinggi seakan-akan bakal kaya nanti, penistaan agama yang acap kali terjadi tanpa disadari.
Baru-baru ini kekonyolan bahkan terjadi dalam kasus dugaan tindak pidana terhadap agama dan kepercayaan di acara festival musik di Ancol Jakarta Utara. Melansir dari KumparanNEWS, Polda Metro Jaya menetapkan empat orang tersangka dalam dugaan ini karena memberi tantangan kepada pengunjung untuk melafalkan Al-Qur’an dengan hadiah sebotol minuman beralkohol.
Tidak boleh kebenaran dicampuraduk dengan kebatilan, kesucian dicampuraduk dengan kenajisan, agama dipermainkan apalagi dilecehkan. Melihat dan mendengar segala kejadian seperti ini, kita seakan-akan kehilangan sosok teladan sejati.
Momen maulid yang kerap kita peringati setiap tahun sekali seperti tidak berdampak dalam diri, hanya simbol tanpa bisa dimaknai, seperti tidak memiliki arti dan tak mampu dihayati, momen maulid nabi hanya sekedar dilewati tanpa bisa diresapi.
Kejahatan dan keburukan tidak mau sejenak berhenti tapi makin menjadi-jadi. Ada apa dengan negeri ini? Apakah kita mengalami krisis keteladanan di era digital ini? Apakah kurang petuah dan nasehat dari para ulama dan pendakwah di momen maulid nabi? Begitu banyak pertanyaan reflektif yang perlu kita jawab dan renungi.
Seharusnya momen maulid yang diperingati bisa menyadarkan kita, bahwa Allah SWT telah mengutus seorang hamba dan manusia pilihan yang memiliki pribadi yang agung dan luhur untuk bisa kita contoh dan teladani. Sebagai manusia, kisah nabi Muhammad SAW tidak hanya kita dengar dari mimbar maulid nabi atau kita baca dari beragam buku sirah yang menginspirasi. Tapi harus kita aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam Fiqih Sirah An-Nabawiyah Ma’a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah karangan Dr. Sa’id Muhammad Al-Buthy (2009), seorang ulama yang berpengaruh di Timur Tengah, bahwa studi sirah nabi berbeda dengan riwayat hidup seorang khalifah atau sejarah umat manusia, ini adalah potret kehidupan Rasulullah SAW yang memiliki suri tauladan yang paling agung.
Studi sirah ini sangat penting bagi umat Islam untuk memahami kepribadian Rasulullah SAW karena memiliki contoh luhur sehingga apapun yang kita cari ada di dalam dirinya dengan jelas dan sempurna.
Momen maulid nabi menjadi bahan refleksi umat Islam untuk meneladani perjalanan nabi Muhammad SAW yang penuh inspirasi, prestasi dan memilik akhlak sejati. Bukan sekedar diperingati dan seremonial tanpa arti, tapi juga dipahami, diresapi, dikenali dan diteladani untuk mengambil hikmah sehingga hidup semakin berarti.
Jadikan figur Rasulullah SAW sebagai idola dihati hingga akhir nanti, baik dalam kehidupan duniawi dan ukhrowi. Jangan sampai umat Islam kehilangan krisis identitas dan jati diri, apalagi merasa kekurangan keteladanan, seolah-olah momen maulid itu tidak berdampak pada masa kini.
Mari, jadikan momen maulid nabi menjadi secercah harapan untuk selalu menjadi motivasi dalam memperbaiki diri. Sepertinya kita tidak kurang keteladanan, mungkin kita saja yang tidak mau belajar bagaimana kehidupan nabi yang sesungguhnya, dan tidak mau hadir di majelis maulid nabi.
Sebagai penutup artikel ini, mari kita jadikan momen maulid ini sebagai “menyambung rasa” agar mengenal lebih jauh siapa nabi kita. Selamat memperingati maulid nabi!
