El Nino “Godzilla” 2026: Membaca Data di Tengah Narasi Ekstrem

Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Deni Septiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah El Nino “Godzilla” kembali mengemuka dan memantik kekhawatiran publik. Dalam lanskap komunikasi iklim modern, penggunaan istilah yang kuat memang kerap dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, dalam perspektif dinamika atmosfer, penyematan istilah tersebut perlu dicermati secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi overclaim yang melampaui dukungan data observasional dan konsensus ilmiah yang tersedia.
Hingga pertengahan April 2026, berbagai pusat iklim global seperti NOAA, Japan Meteorological Agency, serta BMKG secara konsisten menunjukkan bahwa sistem El Nino–Southern Oscillation masih berada pada fase netral. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 belum mencapai ambang El Nino, apalagi kategori sangat kuat yang secara ilmiah umumnya merujuk pada nilai di atas +2°C. Dalam konteks ini, belum terdapat indikasi kopling laut–atmosfer yang cukup kuat untuk mendorong sistem menuju kondisi El Nino intensitas tinggi.
Secara fisis, evolusi menuju El Nino kuat tidak terjadi secara instan. Ia merupakan hasil dari rangkaian proses dinamika laut–atmosfer yang saling berinteraksi, termasuk akumulasi panas di lapisan bawah permukaan laut (subsurface heat content), propagasi gelombang Kelvin ke arah timur, serta pelemahan angin pasat yang berlangsung secara konsisten dalam skala waktu tertentu.
Proses-proses ini membentuk umpan balik positif (bjerknes feedback) yang memperkuat anomali suhu laut. Tanpa adanya sinyal yang koheren dari komponen-komponen tersebut, kemungkinan berkembangnya El Niño ekstrem dalam waktu dekat masih berada dalam domain ketidakpastian yang relatif tinggi, terlebih pada periode spring predictability barrier, di mana akurasi prediksi ENSO memang dikenal menurun.
Di sisi lain, kondisi Indian Ocean Dipole saat ini juga masih berada pada fase netral dan belum menunjukkan kecenderungan penguatan signifikan ke arah positif. Hal ini menjadi penting karena secara historis, dampak kekeringan ekstrem di Indonesia sering kali diperkuat oleh kombinasi El Nino kuat dan IOD positif. Peristiwa 1997/1998 merupakan contoh klasik ketika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, menghasilkan anomali curah hujan yang sangat besar di kawasan maritim Indonesia. Sebaliknya, pada kejadian 2015/2016, meskipun El Nino sangat kuat, respons iklim di Indonesia menunjukkan variasi yang lebih kompleks, menegaskan bahwa dampak ENSO tidak bersifat linier dan sangat dipengaruhi oleh kondisi regional.
Dalam konteks terminologi, istilah “Godzilla” sendiri tidak termasuk dalam klasifikasi ilmiah operasional. Ia lebih merupakan label populer yang pernah digunakan untuk menggambarkan kejadian El Nino yang sangat kuat. Penggunaan istilah ini, jika tidak disertai dengan landasan data yang memadai, berpotensi menggeser pemahaman publik dari analisis berbasis evidensi menuju dramatisasi istilah, sehingga menyederhanakan sistem iklim yang pada hakikatnya kompleks dan nonlinier.
Sementara itu, BMKG memperkirakan bahwa musim kemarau 2026 di Indonesia cenderung lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian wilayah. Namun, proyeksi ini merupakan hasil integrasi berbagai faktor, termasuk dinamika monsun, variabilitas atmosfer regional, serta distribusi hujan historis berbasis Zona Musim (ZOM), dan tidak semata-mata ditentukan oleh ENSO. Dengan demikian, pendekatan ilmiah yang proporsional adalah menempatkan kewaspadaan pada basis data dan proses fisis yang terukur, seraya menghindari interpretasi yang terlalu dini. Dalam membaca dinamika iklim, kehati-hatian menjadi kunci: waspada terhadap potensi, namun tetap berpijak pada evidensi.
