Ditolak Visa ke AS, Tim Robotik Afghanistan Bertanding Lewat Skype

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak perempuan membuat robotik. (Foto: REUTERS/Mohammad Shoib)
zoom-in-whitePerbesar
Anak perempuan membuat robotik. (Foto: REUTERS/Mohammad Shoib)

Tim robotik Afghanistan ditolak pengajuan visanya ke Amerika Serikat untuk bertanding dalam kompetisi merakit robot internasional. Namun mereka tetap bisa bertanding, walau hanya melalui Skype.

Menurut Joe Sestak, Presiden FIRST Global, organisasi yang mengadakan kompetisi robotik internasional di Washington D.C., pada 16-18 Juli tersebut, mengatakan tim Afghanistan boleh bertanding melalui Skype. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap mereka.

"Inilah cara kami menghormati mereka, anak-anak pemberani dari Afghanistan," kata Sestak, dikutip Reuters, Selasa (5/7).

Anak perempuan membuat robotik. (Foto: REUTERS/Mohammad Shoib)
zoom-in-whitePerbesar
Anak perempuan membuat robotik. (Foto: REUTERS/Mohammad Shoib)

Sestak mengaku tidak tahu mengapa tim dari Afghanistan ditolak visanya. Padahal Afghanistan bukan salah satu negara yang warganya dilarang masuk AS dalam peraturan Donald Trump.

Selain itu, tim robotik dari negara-negara yang termasuk dalam larangan masuk ke AS justru mendapatkan visa. Di antaranya tim dari Iran, Sudan, bahkan tim pengungsi Suriah.

Pemerintah AS yang ditanyai soal pelarangan visa tim Afghanistan menolak berkomentar dengan alasan "tidak mengomentari kasus visa individu".

Tim robotik Afghanistan (Foto: Dok. First Global)
zoom-in-whitePerbesar
Tim robotik Afghanistan (Foto: Dok. First Global)

Tim Afghanistan yang berasal dari Herat telah dua kali bolak-balik ke Kedutaan AS di Kabul untuk mengajukan visa. Mereka mengaku kecewa karena tidak mendapatkan penjelasan apapun soal penolakan visa tersebut.

"Kami tidak tahu alasan mengapa kami tidak diberikan visa, karena negara-negara lain yang ikut kompetisi mendapat visa," kata Fatemah Qaderyan, 14, anggota tim.

Kompetisi itu diikuti oleh tim dari 156 negara.

"Tidak ada yang tahu masa depan, tapi kami berusaha yang terbaik dan berharap robot kami bisa mendapatkan posisi di antara robot lainnya dari seluruh negara," lanjut Qaderyan.

Anggota tim lainnya yang ditolak visanya, Lida Azizi, 17, mengatakan penolakan visa itu adalah penghinaan terhadap rakyat Afghanistan.

"Semua negara bisa berpartisipasi dalam kompetisi, tapi kami tidak bisa. Jelas ini adalah penghinaan bagi rakyat Afghanistan," ujar Azizi.