Rehat Pilgub Jakarta, Saatnya Berbagi Tips Mudah Berburu Beasiswa

Wamenkumham (2011–2014) dan Senior Partner di INTEGRITY (Indrayana Centre for Government, Constitution and Society)
Tulisan dari Denny Indrayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mumpung isu Pemilihan Gubernur Jakarta masih rehat dan masih agak sepi, kali ini saya mau bayar utang.
Melihat lulusnya saya dari Program Doktoral di Melbourne Law School, banyak sobat pernah bertanya, bagaimana sebenarnya cara sukses mencari beasiswa sekolah. Setiap kali menjawab pertanyaan itu, saya berjanji di dalam hati akan menuliskannya, agar lebih banyak yang membaca, dan lebih bermanfaat. Janji menuliskan cara mudah (tips) mencari beasiswa itulah utang saya, yang kali ini ingin saya lunasi.
Sebelum lebih jauh membaca, ada dua peringatan bagi sidang pembaca.
Satu, mencari beasiswa pastinya tidak juga mudah. Yang pasti, saingannya bejibun. Jadi judul “Tips Mudah” di atas sebenarnya lebih merupakan penjebak mata, agar banyak yang tertarik membaca kolom ini.
Meskipun demikian, semoga pengalaman yang saya bagikan memang membantu perburuan beasiswa para pembaca yang budiman, atau siapapun yang membutuhkannya.
Dua, sebenarnya saya hanya sekali mendapatkan beasiswa, yaitu ketika menempuh program doktor (S3). Selebihnya, saya beruntung karena mendapatkan beasiswa dari “Parents Foundation”, alias sekolah dengan beasiswa dari Ayah-Bunda, alias biaya sendiri.
Nasib saya lebih beruntung dibandingkan dengan beberapa rekan yang sudah harus berjibaku mencari beasiswa sejak tingkat pendidikan lebih awal, beberapa mungkin sejak SD, atau bahkan lebih awal.
Saya baru mencari beasiswa di tingkat pendidikan terakhir. Alhamdulillah, saya dikarunia orang tua yang berkecukupan, dan mendukung keinginan saya untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Tentang sekolah ini, ada satu momen dialog dengan almarhum Ayah, yang ingin saya bagikan.
Pertengahan tahun 1995, menjelang wisuda Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum UGM, ayah saya mengajak berbincang. Singkatnya, ayah mengatakan setelah lulus S1, saya akan dilepaskan untuk mulai hidup sendiri, lebih mandiri.
“Untuk mulai hidupmu sendiri, kamu akan dapat modal usaha dan rumah untuk tinggal”, demikian kata almarhum Ayah saat itu.
Didorong keinginan untuk sekolah lagi, saya katakan, “Bolehkah uang modal dan beli rumah itu saya gunakan untuk keperluan lain?”
“Untuk apa?”, kata Ayah.
“Saya ingin sekolah master, tapi di luar negeri. Jadi uang itu mohon diizinkan untuk biaya saya sekolah lagi di Amerika.”
Ayah saya tertegun, “Mungkin uangnya nggak cukup. Tapi baiklah jika itu yang kamu inginkan.”
Akhirnya, saya tidak jadi diberikan modal usaha dan rumah. Sebagai gantinya, saya berhasil menyelesaikan program Master Hukum (LL.M.) dari Minnesota School of Law, di Minneoplis, Amerika di awal tahun 1997.
Allah SWT berbaik hati kepada saya. Terlambat sedikit saja “beasiswa Ayah-Bunda” saya tidak akan cukup, karena pertengahan tahun itu Dollar Amerika meroket dan Rupiah nyungsep, yang kemudian berujung dengan jatuhnya Presiden Soeharto.
Banyak tangan Allah yang menyelamatkan jalan hidup saya, termasuk membantu saya selesai sekolah master beberapa saat menjelang krisis ekonomi 1997 – 1998.
Memutuskan pergi sekolah ketimbang beli rumah dan berusaha itu adalah salah satu dari tiga keputusan terpenting dalam hidup saya. Keputusan yang sampai sekarang saya syukuri. Dengan gelar master itu, saya bisa melanjutkan studi ke jenjang doktoral, dengan beasiswa yang perburuannya akan saya ceritakan kemudian.
Sebelum soal beasiswa itu, keputusan kedua yang juga penting adalah ketika saya dan istri melakukan “Hijrah Millenium”, yaitu pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Saya berangkat dari stasiun Gambir pada malam 31 Desember 1999, dan tiba di stasiun Tugu Yogyakarta pada 1 Januari 2000.
Hijrah itu didorong keinginan kuat saya untuk menjadi dosen di perguruan tinggi. Saya tinggalkan pekerjaan sebagai konsultan hukum di salah satu firma di Jakarta.
Lebih nekat lagi, saya tinggalkan gaji dollar Amerika—yang masih tinggi kursnya melawan Rupiah—dan sempat menganggur, sebelum akhirnya diterima bekerja di Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kira-kira, gaji yang saya terima di Yogya itu adalah sepertigapuluh gaji saya di Jakarta.
Anies Baswedan berkata, “Ente gila juga ya …”, komentarnya ketika mendengar soal hijrah Millenium tersebut. Tentu maksud Anies adalah, saya nekat luar biasa. Saat mendengar itu, saya hanya tersenyum.
Tapi keputusan pindah ke Yogya, dan menjadi dosen itu pula yang terus saya syukuri, karena menjadi pembuka jalan saya untuk menjadi dosen di Fakultas Hukum UGM, hingga kemudian menjadi Guru Besar sepuluh tahun kemudian.
Soal gaji yang terjun bebas drastis, kita tentu yakin bahwa rezeki sudah ada Yang Maha Mengatur. Yang pasti, dalam obrolan di antara kami dosen UMY saat itu sering diguyonkan, para istri tidak perlu khawatir suaminya akan poligami. Bukan apa-apa, jangankan untuk beristri lagi, gaji dosen UMY bahkan tidak juga untuk menghidupi istri satu orang pun. Sekali lagi, ini hanya guyon, lho. Tolong jangan dianggap serius, apalagi sampai saya dilaporkan ke polisi karena penistaan UMY ataupun agama.
Keputusan ketiga yang juga penting adalah saat saya memutuskan menikah dengan Bunda Os (Ida Rosyidah). Tetapi karena bagi saya itu adalah keputusan yang menguntungkan, mudah dan membahagiakan, serta lebih merupakan keputusan sulit dan berat bagi Rossy untuk menerima saya sebagai suaminya, maka soal ini tidak akan saya tuliskan panjang lebar di kolom ini.
Cukuplah dibaca dengan senyum simpul saja, betapa beruntungnya saya dapat Bunda Os, dan tolong didoakan agar Rossy tetap kuat punya suami seperti saya.
Lalu kapan mulai membahas soal Tips Mudah Beasiswanya? Sabar, ini baru akan saya mulai.
Sejak bercita-cita menjadi dosen, saya juga sudah bermimpi untuk sekolah hingga jenjang doktor. Karena itu, sejak diterima menjadi Dosen UMY ditahun 2000, saya sudah mulai hunting beasiswa S3.
Seperti biasa, Allah memudahkan dan mengabulkan doa saya. Tidak sampai setahun berburu, saya memperoleh beasiswa S3 dari Australian Development Scholarship (ADS). Bagaimana caranya?
Yang pasti ada syarat-syarat formal yang harus dipenuhi setiap kita mencari beasiswa. Syarat administrasi itu adalah umur, pendidikan minimal, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), dan skor bahasa Inggris—untuk sekolah di negara-negara dengan bahasa Inggris.
Jadi syarat pertama yang harus diperhatikan adalah, jangan terlambat mendaftar. Makin tua, makin berumur, makin sedikit peluang memperoleh beasiswa. Selanjutnya, tetap perhatikan nilai sekolah kita, karena kebanyakan beasiswa pasca sarjana mensyaratkan IPK minimum 3,00. Terakhir, yang sering sulit dipenuhi adalah, kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan hasil test yang diakui secara internasional.
Untuk syarat-syarat formal-administratif itu, saya tidak punya tips jitu, kecuali siapkan diri anda sebaik dan seawal mungkin. Saya banyak ketemu orang yang ingin dapat beasiswa sekolah ke luar negeri, tetapi kemampuan bahasa Inggrisnya tidak memadai.
Kepada mereka saya tidak bisa berbagi resep mencari beasiswa. Saran saya mereka bertanya kepada orang-orang yang sukses mendapatkan beasiswa dari negara yang tidak mensyaratkan bahasa Inggris, misalnya Jerman dan Jepang.
Untuk beasiswa berbahasa Inggris seperti Chevening, Fullbright, ADS dan sejenisnya, tips perburuannya lebih kurang sama, meskipun tentu berbeda pada detailnya, yaitu:
Pertama, kumpulkan informasi sebanyak mungkin.
Saya dulu bergabung dengan milis grup beasiswa di yahoogroups. Sekarang hampir dua dekade kemudian, tentu cara mencari informasinya berbeda. Bisa lewat milis, WhatsApp Group, internet dll. Tapi prinsipnya sama saja. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin.
Setiap beasiswa punya persyaratan yang berbeda. Utamanya, cari tanggal pembukaan pendaftaran, sehingga kita bisa menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan seawal mungkin.
Kumpulkan juga informasi tentang program studi dan gelar yang akan kita tempuh. Sekolah mana yang akan kita pilih, dan seberapa bagus reputasinya. Kita tidak ingin mendapatkan beasiswa namun kemudian masuk ke program yang ternyata tidak sesuai, atau sekolah yang ternyata tidak bonafit, atau punya reputasi buruk terkait program studinya.
Saran saya, manfaatkan juga komunitas Indonesia yang sudah menyebar di berbagai penjuru dunia, untuk menggali informasi beasiswa/sekolah. Di Melbourne, misalnya, banyak sekali komunitas Indonesia.
Komunitas Indonesia mempunyai milis dan grup di berbagai media sosial dengan nama indomelb. Kontak komunitas Indonesia di sekolah yang kita incar untuk mendapatkan beasiswa, jalin komunikasi, dan cari informasi sebanyak mungkin.
Pada saatnya, ketika kita sudah diterima beasiswa, kontak dengan komunitas Indonesia setempat akan bermanfaat untuk mencari akomodasi dan hal-hal lain, yang akan sangat membantu untuk kita dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan baru di negeri seberang.
Kedua, masih terkait dengan informasi, forum grup beasiswa itu harus kita maksimalkan untuk mencari bagaimana tips sukses memperoleh beasiswa.
Di grup beasiswa yahoogroups, misalnya, saya mendapatkan contoh dan bagaimana cara menulis proposal penelitian S3. Walaupun, dalam pengalaman saya, proposal penelitian itu kemudian berubah setelah saya mulai program S3 di Melbourne, tetapi intinya di grup-grup beasiswa itu kita akan mendapatkan banyak sekali informasi dan tukar pikiran yang bermanfaat terkait tips sukses berburu beasiswa.
Ketiga, setelah mengumpulkan informasi yang cukup, pilih sekitar lima sekolah yang akan kita tuju sesuai minat dan jenjang studi yang ingin kita lakukan.
Mulailah membangun korespondensi dengan sekolah tersebut. Akan lebih bagus kalau kita mengetahui—atau bahkan mengenal Profesor di universitas yang bisa menjadi calon pembimbing kita.
Sewaktu mencari beasiswa S3, saya menghubungi beberapa universitas di Australia. Melalui internet saya mendapatkan alamat email masing-masing sekolah. Lalu saya memperkenalkan diri, menjelaskan keinginan saya mencari beasiswa dan meminta dukungan mereka. Saya juga menanyakan profesor yang bisa menjadi calon pembimbing disertasi hukum tata negara yang akan saya lakukan.
Di Universitas Melbourne, akhirnya saya disarankan beremail kepada Profesor Cheryl Saunders, guru besar Hukum Tata Negara dan ahli di bidang teori pembuatan konstitusi. Cheryl dan Professor Tim Lindsey akhirnya menjadi pembimbing disertasi saya yang berjudul, “Indonesian Constitutional Reform 1999-2002: An Evaluation of Constitution-Making in Transition”.
Email perkenalan saya juga mendapatkan tanggapan dari beberapa universitas lain di Australia, tapi saya akhirnya memantapkan pilihan ke Melbourne Law School.
Keempat, dapatkan rekomendasi dari orang terpandang dan calon pembimbing, khususnya untuk program studi doktoral. Dua rekomendasi itu penting baik di seleksi administrasi, maupun jika kita maju pada tahap wawancara dalam seleksi beasiswa.
Saat seleksi administrasi, saya kirimkan lamaran dan semua dokumen yang dipersyaratkan dalam satu jilidan rapi. Termasuk dalam dokumen itu adalah rekomendasi dari almarhum Adnan Buyung Nasution. Bang Buyung adalah salah satu pemberi rekomendasi saya baik untuk program master di Amerika maupun doktoral di Australia.
Saya yakin, reputasi Bang Buyung menjadi salah satu sebab mengapa lamaran beasiswa saya diterima. Terima kasih Bang Buyung. Al Fatihah saya untuk almarhum.
Setelah lolos seleksi administrasi, pada tahapan wawancara, rekomendasi dari calon pembimbing disertasi mempunyai nilai yang penting dan strategis. Salah satu yang harus saya tunjukkan kepada tim wawancara adalah keinginan dan motivasi yang kuat untuk sekolah S3.
Saat wawancara, sengaja saya bawa berbagai kolom saya di media cetak dan korespondensi saya dengan berbagai universitas di Australia. Kolom-kolom di media itu penting untuk menunjukkan jiwa akademik dan kemampuan saya menulis, hal yang menjadi syarat mutlak bagi siapapun yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang doktoral.
Sehari sebelum wawancara, saya menadapatkan dukungan sebagai calon pembimbing dari Profesor Cheryl Saunders. Setelah mengirimkan email perkenalan, Profesor Cheryl meminta saya mengirimkan resume, untuk membuktikan saya layak dibimbing S3. Namun, sampai menjelang hari wawancara, saya belum mendapatkan respon positif dari beliau. Akhirnya sehari menjelang tahapan interview, saya beranikan diri menelepon Profesor Cheryl di Melbourne.
Sekali lagi tangan Tuhan bekerja. Rupanya Profesor Cheryl belum membalas email permintaan rekomendasi saya karena beliau sibuk dan baru kembali dari konferensi di luar Australia. Ketika saya telepon dia meminta maaf belum membalas email saya, dan meski terkejut karena saya telepon, dengan senang hati bersedia membantu.
“Denny, kamu menelepon tepat waktu. Maaf saya belum membalas email anda. Saya baru kembali dari konferensi di luar negeri. Sekarang tepat sekali saya sedang membaca CV anda, dan berniat membalas emailmu. Bagaimana saya bisa membantu?” katanya dengan ramah, seakan kami sudah akrab dan sering bertemu. Padahal kami belum pernah bertemu, dan itulah kali pertama kami bicara lewat telepon internasional Yogyakarta-Melbourne.
“Maaf Profesor Chery, saya lancang menelepon. Tapi besok adalah hari wawancara saya untuk tes beasiswa Australian Development Scholarship. Maka, akan sangat membantu kalau saya bisa mendapatkan surat dukungan dari Profesor yang menyatakan bersedia menjadi pembimbing disertasi di Melbourne Law School," saya menjelaskan.
“Denny, saya sudah membaca CV anda, tentu dengan senang hati saya bersedia membantu. Setelah ini akan saya kirimkan surat dukungan itu melalui email," ujar Profesor Cheryl.
Entah kenapa, mungkin jawaban atas doa-doa saya, Ibu dan istri yang tak kunjung putus, tetapi tangan Tuhan memang seringkali membantu saya di tengah kesulitan dan kebutuhan yang mendesak.
Tepat sehari sebelum tes wawancara, saya mendapatkan surat dukungan sebagai calon pembimbing disertasi dari Profesor Cheryl Saunders.
Keesokan harinya, beberapa email rekomendasi dengan universitas Australia menjadi poin lebih saya dalam wawancara beasiswa ADS di gedung pusat UGM. Binar mata para pewawancara dan senyum di bibir mereka, ketika mereka melihat surat dukungan dari Profesor Cheryl Saunders, membuat saya optimistis.
Akhirnya saya memang dinyatakan lulus, menyingkirkan sekitar 5000-an pendaftar beasiswa tahun 2001 itu.
Jadi, tips utamanya, cari program studi dan sekolah yang kita incar. Temukan siapa ahlinya yang potensial menjadi pembimbing sekolah/disertasi kita, lalu hubungi yang bersangkutan. Yakinkan bahwa kita layak diterima dan dibimbing penelitian disertasi di bawah bimbingan yang bersangkutan. Terakhir, minta surat dukungan calon pembimbing, dan serahkan surat itu kepada tim seleksi beasiswa.
Dari pengalaman saya, calon penerima beasiswa yang telah mempunyai calon pembimbing akan lebih mudah diterima dan lolos dalam seleksi beasiswa.
Kelima, temukan faktor pembeda yang membuat kita adalah kandidat yang layak mendapatkan beasiswa.
Karena para pemburu beasiswa itu bejibun, maka kita harus mempunyai “faktor pembeda” yang menyebabkan kita layak pilih dibandingkan ribuan para pemburu beasiswa lainnya. Faktor pembeda itu tentu bisa berupa kemampuan akademik atau bahasa yang di atas rata-rata, pemberi rekomendasi yang kuat, atau faktor prestasi lainnya.
Dalam kasus saya, faktor pembeda saya adalah kumpulan kolom yang menunjukkan kemampuan saya menulis dan surat dukungan dari calon supervisor Profesor Cheryl Saunders.
Ketika kumpul menunggu panggilan wawancara, di antara banyak pelamar, kelihatannya hanya saya yang membawa email korespondensi dengan universitas di Melbourne, dan surat dukungan dari calon pembimbing. Itulah faktor pembeda saya.
Setelah tips ini banyak di baca orang, masing-masing pemburu beasiswa perlu mencari apa faktor pembeda yang mereka punya. Perhatikan juga, masing-masing beasiswa punya karekteristik yang mungkin berbeda.
Misalnya, ada beasiswa yang lebih mengutamakan gender perempuan, Indonesia bagian timur, jurnalis, aktivis LSM, PNS dan seterusnya. Maka, faktor pembeda yang demikian, jika kalian punya, harus dieksploitasi sebaik mungkin.
Akhirnya, demikianlah sedikit tips dan pelunasan utang saya terkait cara memburu beasiswa. Terakhir, jangan lupa berdoa. Semua ikhtiar kita tentu juga akan bergantung dengan kehendak-Nya.
Kalau saya, asti minta doa Ibu dan Istri. Bagi yang masih jomblo, jangan lupa minta doa ibu, dan segera menikah sebelum berangkat sekolah. Semoga bermanfaat dan selamat berburu beasiswa!
Keep on fighting for the better Indonesia!
