Krisis Kepercayaan: Humas Berperan Penting dalam Implementasi ESG di Era Digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Deno Ferdian Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ESG (Environment, Social, and Governance) adalah tiga aspek yang menjadi prinsip acuan dalam menilai dampak bisnis suatu perusahaan. Sudah menjadi etika untuk menjaga keseimbangan ketiga bagian tersebut yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola yang terpengaruh oleh keberlanjutan bisnis perusahaan.
Sederhananya dalam konteks lingkungan, perusahaan berkomitmen untuk menjaga lingkungan yang berada di sekitar lokasi perusahaan. Seperti tidak mengeluarkan emisi karbon berlebih, pencemaran udara, atau komitmen mengeluarkan residu yang dijamin ramah lingkungan. Pada konteks sosial, perusahaan berkomitmen untuk menjaga hubungan sosial yang dibangun dalam perusahaan. Hal ini menyangkut berbagai pihak seperti karyawan, pemasok, pelanggan dan semua pekerja apa pun jabatannya dalam perusahaan tersebut. Perusahaan harus menerapkan etika sosial seperti pemberian upah yang sesuai dan tepat waktu, tidak diskriminasi, serta tidak melakukan eksploitasi pekerja. Sedangkan dalam konteks tata kelola, lebih menyangkut pada prinsip yang berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan. Seperti kebijakan-kebijakan pimpinan, transparansi data, dan etika perusahaan. Pada dasarnya perusahaan yang menerapkan prinsip ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kerusakan atau akibat negatif dari keberlangsungan bisnis. Sebab hal ini menyangkut berbagai aspek penting dalam kehidupan manusia sehingga perlu untuk dihargai dan dijaga.
Humas berperan aktif dalam menggaungkan prinsip-prinsip ESG dalam perusahaan. Humas berfungsi menjaga nama baik perusahaan atas keberlangsungan bisnis melalui konsep ESG sebagai bentuk perusahaan yang bertanggungjawab. Memang sederhananya seorang praktisi humas bertugas sebagai wajah perusahaan. Baik atau buruknya citra perusahaan tergantung oleh kecakapan humas dalam menjaga reputasi. Namun menjaga nama baik tak boleh hanya tipu belaka atau hanya sekedar gimik. Kejujuran dan tindakan perusahaan adalah poin utama dalam reputasi yang baik. Maka dari itu humas memiliki peran penting dalam keberhasilan pengimplementasian ESG pada era digital.
Era digital memungkinkan berbagai platform media sosial menjadi sangat eksis, sehingga hal tersebut menjadi media seorang praktisi humas dalam implementasi ESG. Dengan ini, humas dapat berbagi cerita secara langsung pada media sosial mengenai komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip ESG. Selain itu humas dapat berinteraksi secara langsung dengan khalayak umum sehingga dapat membuka hubungan sosial yang baik terhadap perusahaan. Pembuatan konten-konten juga menjadi strategi yang tepat dalam menciptakan kesan yang baik sekaligus penerapan ESG bagi perusahaan. Konten yang dimaksud dapat berupa video atau foto kegiatan yang menjelaskan proses dan pencapaian ESG yang dilakukan. Hal ini memperjelas bahwa perusahaan telah bertanggung jawab atas segala tindakannya. Tak kalah penting lagi, humas bertanggung jawab atas respon yang cepat dan tepat. Pada hal ini berhubungan dengan isu dan krisis yang terjadi seputar keberlangsungan ESG seperti pencemaran lingkungan, eksploitasi pekerja atau pelanggaran lainnya. Praktisi humas harus cepat tanggap atas krisis yang terjadi, sehingga media sosial akan sangat membantu seorang humas dalam penanganan krisis yang terjadi.
Pada keseluruhannya humas memiliki fungsi yang sangat krusial dalam implementasi ESG di era digital. Tak hanya menggaungkan pencapaian atau proses ESG, namun juga menjadi penyambung khalayak umum terhadap perusahaan. Komunikasi yang baik tercipta atas tindakan dan kinerja humas dalam mengelola hubungan yang harmonis. Dengan kata lain, humas memiliki posisi yang penting dalam mengemban tugas yang kompleks pada implementasi ESG di era digital.
