Konten dari Pengguna

Kemenyan, Harta Terpendam Sumatera Utara

Deo Peter Surbakti

Deo Peter Surbakti

Penulis berkedok statistisi, Politeknik Statistika STIS, University of Leeds, Badan Pusat Statistik

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deo Peter Surbakti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Parfum adalah salah satu produk akhir kemenyan. Foto oleh Siora Photography
zoom-in-whitePerbesar
Parfum adalah salah satu produk akhir kemenyan. Foto oleh Siora Photography

Kemenyan mungkin tidak eksis di negara sendiri, tapi produk akhirnya nangkring terus dalam kehidupan sehari-hari.

Komoditas kemenyan seketika menjadi ramai diperbincangkan seketika setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyebutkan bahwa potensi kemenyan di Indonesia belum optimal akibat belum adanya hilirisasi. Banyak masyarakat Indonesia belum menyadari bahwa kemenyan merupakan komponen utama pembuatan barang mewah wewangian seperti parfum. Akibatnya, komoditas ini diekspor dalam bentuk mentah ke luar negeri, kemudian diimpor lagi dalam bentuk barang mewah. Kerugian yang ditimbulkan tidak terkira, mulai dari kehilangan nilai tambah sampai kesempatan pembukaan lapangan kerja.

Komoditas kemenyan merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Provinsi Sumatera Utara. Setiap bulannya, rata-rata sekitar 1,38 ribu ton kemenyan diekspor dalam bentuk mentah. Nilainya juga tidak kalah dengan perkebunan kelapa sawit, komoditas ini mampu menyumbang sebesar 18,82 juta USD di tahun 2024. Sumatera Utara bahkan mampu menyumbang kontribusi sebesar 36,08 persen dari total ekspor kemenyan nasional yaitu 52,14 USD.

Komoditas kemenyan merupakan bahan baku industri yang jarang dikonsumsi secara langsung. Akibatnya, ketenaran komoditas ini sering kali terbenam karena masyarakat tidak mengonsumsinya langsung. Kemenyan sendiri merupakan bahan baku parfum, kosmetik, obat-obatan, dupa dan kebutuhan farmasi. Terlebih lagi, kemenyan memiliki banyak manfaat seperti menjaga kesehatan kulit dan mulit, mengatasi peradangan hingga antiseptik

Tantangan Hilirisasi Kemenyan

Tantangan terbesar komoditas kemenyan adalah tidak adanya pengembangan produk yang mampu bersaing dalam skala besar. Meskipun ketersediaan kemenyan di Indonesia begitu besar, faktanya belum ada perusahaan dalam negeri yang mampu menampung dan menghasilkan produk dari kemenyan yang berkelas dunia. Produk dalam negeri masih kalah saing dengan produk luar negeri yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan buatan dalam negeri. Riset dan pengembangan menjadi kunci dalam pengembangan industri kemenyan dan Indonesia masih perlu belajar hal tersebut.

Hingga saat ini, Indonesia masih terus melakukan ekspor kemenyan mentah ke negara maju seperti Perancis dan Spanyol. Tentunya, biaya ekspedisi pengiriman bahan mentah ke negara maju tersebut dalam bentuk kemenyan dan penghantaran kembali menjadi salah satu penyebab tingginya harga parfum milik perusahan-perusahaan besar dunia tersebut. Jika, margin pengiriman ini bisa ditekan dalam negeri dengan membangun industri sendiri dalam negeri tetapi produknya berkualitas tinggi, Indonesia mungkin bisa memutarbalik keadaan. Indonesia mungkin mampu menjadi eksportir parfum atau barang kecantikan lainnya.

Tantangan berikutnya yang dihadapi oleh industri kemenyan adalah rantai industri dan distribusi. Salah satu penyebab komoditas kemenyan juga belum begitu menarik adalah, karena asal komoditas ini berada jauh di luar pusat industri dan pasar Indonesia, yaitu pulau Jawa. Perusahaan besar cenderung sungkan membangun usaha besar yang jauh dari pusat industri dan pasar, karena akan memakan banyak biaya pembangunan infrastruktur, seperti jalan, listrik dan lainnya. Jika perusahaan besar membangun perusahaannya tetap berfokus pada pulau Jawa, maka biaya ekspedisi akan menjadi pertimbangan kedua.

Sentuhan Magis Pemerintah

Industri kemenyan butuh sentuhan magis dari pemerintah. Sebagaimana industri nikel yang terus disokong oleh pemerintah, demikian pula dengan industri ini. Pilihan yang tersedia bagi pemerintah pada akhirnya adalah menggaet investor luar untuk berinvestasi di dalam negeri atau mendorong usaha anak bangsa. Pilihan pertama jelas jadi pilihan paling ringkas dan sudah cukup berdampak besar bagi perekonomian masyarakat. Tetapi, perusahaan besar yang sudah bertahan lama dengan model usaha konvensional, cenderung enggan membuka perusahaan baru terkecuali adanya penambahan permintaan dalam skala besar.

Pilihan mendorong usaha anak bangsa mungkin akan menjadi pilihan yang begitu kompleks tetapi masuk akal. Riset dan pengembangan produk dipastikan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Skala usaha tentunya cenderung dimulai dari skala kecil menengah, mengingat belum adanya perusahaan dalam negeri yang memiliki pasar internasional secara luas. Dampak yang dihasilkan oleh kelompok usaha ini pun cenderung kecil dan lamban berproses. Pada proses hilirisasi inilah peran pemerintah menjadi penting sebagai akselerator perekonomian bangsa.

Langkah awal yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah penyediaan dan pembiayaan riset dan pengembangan industri. Riset dilakukan berbasis ilmu bisnis sehingga nilai tambah komoditas dapat diperhitungkan dalam penyusunan biaya dan harga. Pembangunan infrastruktur dan penyiapan jalur distribusi hulu ke hilir juga penting untuk mendukung mobilitas usaha. Semakin banyak kemenyan yang dapat diolah dalam negeri, berarti semakin banyak nilai tambah yang dihasilkan. Aspek pembinaan manajemen dan pembiayaan juga hal yang perlu dipertimbangkan pemerintah khususnya bagi usaha yang masih berkembang dengan modal terbatas.

Kekayaan alam Indonesia sudah bukan lagi rahasia, tetapi mereka adalah harta yang terpampang nyata. Pilihan bagi masyarakat Indonesia juga telah begitu jelas, mengekstrak berlebihan akan merusak alam, mengkeruk sebagian mungkin tidak puas, atau mengolah seadanya agar manfaat yang dirasa bisa berkali-kali. Berdiam diri, menunggu keajaiban itu tiada akhirnya, alangkah lebih bijak bila kita yang memulai langkah magis itu sendiri.