Konten dari Pengguna

Lautan yang Diciptakan Barra

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akbar Rama Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

*gambar diambil sendiri*
zoom-in-whitePerbesar
*gambar diambil sendiri*

*Barangkali, aku hanya terlalu jauh berenang di lautan yang bahkan belum tentu ingin kau jelajahi.*

Namaku Barra. Aku tumbuh dalam ketakutan. Bukan karena dunia terlalu kejam, melainkan karena aku selalu merasa ada sesuatu yang bisa hilang kapan saja. Aku terbiasa menyimpan banyak hal sendirian, termasuk perasaan yang bahkan terkadang sulit kujelaskan. Bagiku, mempercayai seseorang bukan perkara mudah. Ada banyak kemungkinan yang selalu muncul dalam pikiranku, terutama kemungkinan tentang kehilangan.

Kau tahu cinta?

Ah, mungkin kau belum benar-benar merasakannya. Atau mungkin kau pernah, tetapi belum sampai pada tahap ketika kehadiran seseorang mampu mengubah cara pandangmu terhadap dunia.

Dahulu, aku menganggap cinta hanyalah sebuah cerita yang sering dibicarakan orang-orang. Tentang dua manusia yang saling menyukai, saling memberi perhatian, kemudian berjanji untuk terus bersama. Terdengar sederhana, bukan? Namun, ternyata aku salah. Cinta tidak sesederhana itu. Terkadang, ia datang tanpa permisi, tumbuh tanpa disadari, lalu menetap begitu dalam hingga sulit untuk dilepaskan.

Semuanya bermula ketika aku bertemu seorang gadis di depan sekolah.

Namanya Sani.

Aku masih mengingat bagaimana pertama kali melihatnya. Hari itu matahari begitu terik. Udara terasa panas, jalanan dipenuhi aktivitas, dan orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun, di tengah suasana yang begitu melelahkan itu, kehadirannya justru terasa berbeda.

Ia cantik, baik, lucu, dan memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan. Bagiku, ia hampir mendekati kata sempurna. Bukan berarti ia tidak memiliki kekurangan, tetapi entah bagaimana, setiap hal tentang dirinya selalu terlihat menarik di mataku.

Di siang yang begitu panas, ia seperti payung teduh. Sederhana, tetapi mampu memberikan kesejukan.

Awalnya aku hanya memperhatikannya dari kejauhan. Ada keinginan untuk menyapa, tetapi keberanian seolah tertinggal beberapa langkah di belakang. Aku sempat berpikir, bagaimana jika ia tidak merespons? Bagaimana jika sapaan sederhanaku justru membuat keadaan menjadi canggung?

Namun, pada akhirnya, aku memilih untuk mencoba.

Aku menyapanya.

Percakapan pertama itu mungkin tidak terlalu istimewa baginya. Hanya perkenalan sederhana antara dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Akan tetapi, bagiku, hari itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Hari demi hari berlalu. Hubungan yang awalnya hanya sebatas saling mengenal perlahan berubah menjadi kedekatan.

Dari yang awalnya tidak saling menyapa, kini kami mulai terbiasa bertukar cerita. Dari percakapan singkat, berubah menjadi obrolan panjang yang terkadang tidak mengenal waktu. Ada tawa, candaan, cerita tentang kehidupan, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Anehnya, aku selalu menikmati semuanya.

Aku mulai mengenali kebiasaannya, caranya berbicara, hal-hal yang membuatnya tertawa, hingga perubahan kecil dalam suasana hatinya. Aku mulai mengerti bahwa kebahagiaan ternyata bisa hadir melalui sesuatu yang sangat sederhana: sebuah pesan darinya, sapaan di pagi hari, atau sekadar mengetahui bahwa hari ini aku masih bisa bertemu dengannya.

Sani mungkin tidak pernah menyadari betapa besar pengaruh kehadirannya dalam hidupku.

Aku yang dahulu selalu menganggap hari-hari berjalan begitu saja, kini memiliki sesuatu yang kutunggu. Ada alasan untuk tersenyum ketika membuka ponsel. Ada seseorang yang ingin kuceritakan banyak hal setelah melewati hari yang panjang.

Tanpa kusadari, aku mulai jatuh cinta.

Bukan jatuh cinta yang hanya sekadar tertarik pada kecantikan seseorang. Aku mulai mencintai keberadaannya, kebiasaannya, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah ia anggap istimewa.

Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu tumbuh. Yang kutahu, semakin hari aku semakin nyaman dengannya.

Barangkali inilah yang disebut jatuh cinta. Ketika seseorang yang awalnya hanya orang asing perlahan menjadi bagian penting dari kehidupanmu.

Kami pernah berada di masa ketika semuanya terasa begitu indah.

Aku dan Sani seolah memiliki dunia kecil yang hanya kami berdua pahami. Ada banyak cerita yang kami bagikan, banyak tawa yang kami ciptakan, dan banyak waktu yang rasanya selalu kurang jika dihabiskan bersama.

Aku menyukai saat-saat itu.

Terkadang aku berpikir, mengapa waktu terasa begitu cepat ketika bersamanya? Mengapa percakapan yang berlangsung berjam-jam masih terasa singkat? Mengapa pertemuan sederhana mampu membuatku begitu bahagia?

Mungkin karena aku menemukan kenyamanan yang selama ini tidak pernah benar-benar kurasakan.

Aku mulai membayangkan banyak hal tentang masa depan. Tentang kemungkinan kami tetap bersama, tentang hari-hari yang akan datang, dan tentang berbagai cerita yang mungkin masih bisa kami tulis.

Aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin kali ini aku tidak perlu takut kehilangan.

Namun, bukankah manusia sering kali terlalu percaya pada sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya?

Aku lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dengan jaminan keabadian. Aku lupa bahwa seseorang bisa berubah, keadaan bisa berganti, dan takdir terkadang memiliki rencana yang tidak pernah kita ketahui.

Aku terlalu sibuk menikmati kehadirannya sampai lupa mempersiapkan diri jika suatu hari nanti ia tidak lagi berada di sampingku.

Ada satu hal yang perlahan kusadari: mencintai seseorang ternyata juga berarti berhadapan dengan ketakutan.

Ketakutan bahwa suatu hari ia akan bosan. Ketakutan bahwa suatu saat perhatiannya tidak lagi sama. Ketakutan bahwa seseorang yang dahulu selalu menyempatkan waktu, kelak justru tidak memiliki waktu sedikit pun untuk kita.

Aku tahu, tidak seharusnya cinta dipenuhi oleh ketakutan seperti itu. Namun, bagaimana mungkin seseorang yang pernah tumbuh dalam ketakutan tidak merasa takut ketika menemukan sesuatu yang begitu berharga?

Aku hanya manusia biasa yang sedang belajar mencintai.

Terkadang aku ingin bertanya kepada semesta, apakah sesuatu yang membuatku sebahagia ini benar-benar boleh kumiliki dalam waktu yang lama? Apakah aku boleh berharap bahwa cerita ini tidak berakhir seperti cerita-cerita lainnya?

Namun, semesta tidak pernah menjawab pertanyaan manusia secara langsung.

Ia hanya membiarkan waktu berjalan, sementara kita belajar menerima segala sesuatu yang datang bersamanya.

Aku sering mengibaratkan cintaku seperti lautan.

Luas, dalam, dan memiliki banyak hal yang tidak selalu terlihat dari permukaannya. Ada ketenangan, ada gelombang, ada ombak yang sesekali datang tanpa peringatan.

Aku adalah seseorang yang memilih untuk berenang semakin jauh ke dalamnya. Aku menikmati kedalamannya, menikmati setiap gelombang, bahkan terkadang lupa bahwa aku membutuhkan daratan untuk kembali.

Namun, bagaimana jika Sani tidak menyukai lautan?

Bagaimana jika ia hanya ingin menikmati keindahannya dari tepi pantai? Bagaimana jika baginya lautan hanyalah tempat singgah untuk melihat matahari terbenam, sementara bagiku lautan adalah tempat yang ingin ku tinggali selamanya?

Di situlah aku mulai memahami sesuatu.

Mungkin bukan Sani yang membuatku tenggelam. Bukan pula keadaan yang sepenuhnya membuatku kehilangan arah. Aku sendirilah yang menciptakan lautan itu. Aku membangun kedalamannya dengan harapan, mengisinya dengan kenangan, lalu memilih untuk tinggal terlalu lama di dalamnya.

Sementara Sani mungkin hanya sedang menikmati perjalanan.

Aku tidak pernah tahu apakah kedalaman perasaanku sama dengan apa yang ia rasakan. Aku tidak tahu apakah ia memiliki bayangan masa depan yang sama denganku. Dan aku juga tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan tetap berjalan berdampingan atau justru memilih arah yang berbeda.

Sebab cinta tidak selalu memiliki jawaban yang pasti.

Terkadang dua orang bisa saling membahagiakan, tetapi belum tentu memiliki tujuan akhir yang sama.

Jika suatu hari nanti takdir benar-benar memisahkan kami, aku tidak ingin menganggap semua yang pernah terjadi sebagai kesalahan.

Aku tidak menyesal pernah mengenalnya. Aku tidak menyesal pernah menyapanya di depan sekolah. Aku tidak menyesal pernah menghabiskan waktu bersamanya, tertawa karena hal-hal kecil, atau bahkan menjadi seseorang yang begitu mudah tersenyum hanya karena kehadirannya.

Jika memang ada yang harus kusesali, mungkin hanya satu: aku terlalu sering membayangkan tentang selamanya, tanpa benar-benar memahami bahwa tidak semua hal bisa berlangsung selama itu.

Aku ingin belajar bahwa mencintai bukan berarti harus memiliki. Bahwa seseorang berhak menentukan ke mana langkahnya akan pergi. Bahwa kebahagiaan orang yang kita cintai terkadang tidak selalu berada di tempat yang sama dengan kebahagiaan kita.

Namun, jujur saja, aku belum sepenuhnya mampu melakukan itu.

Masih ada bagian dari diriku yang ingin Sani tetap tinggal. Masih ada harapan kecil yang ingin percaya bahwa kami bisa melewati banyak hal bersama. Masih ada Barra yang terkadang membayangkan bahwa suatu hari nanti semua ketakutan ini akan berakhir dengan kebahagiaan.

Dan mungkin, tidak ada salahnya berharap.

Sebab selama masih ada harapan, aku masih memiliki alasan untuk percaya pada kemungkinan.

## SURAT UNTUK SANI

Sani,

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan semua ini kepadamu. Mungkin kata-kata yang kutulis tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya kurasakan.

Aku hanya ingin mengatakan bahwa kehadiranmu pernah menjadi salah satu hal paling indah dalam hidupku.

Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari hari-hariku. Terima kasih untuk setiap cerita, tawa, perhatian, dan waktu yang pernah kita habiskan bersama. Mungkin bagimu semuanya hanyalah hal sederhana, tetapi bagiku, ada banyak kenangan yang akan selalu memiliki tempat tersendiri.

Sani, jika suatu hari nanti kau memutuskan untuk berkelana, pergilah sejauh yang kau inginkan. Temukan banyak hal baru, lihatlah dunia yang lebih luas, temui orang-orang yang membuatmu bahagia, dan jangan pernah membatasi langkahmu hanya karena seseorang ingin kau tetap tinggal.

Aku tidak ingin menjadi alasan yang menghalangi perjalananmu.

Aku akan tetap di sini, bukan untuk menuntutmu kembali, melainkan karena ada bagian dari diriku yang masih ingin mengenang segala sesuatu tentang kita.

Jika perjalananmu terasa melelahkan, semoga kau menemukan tempat yang membuatmu nyaman. Jika suatu hari kau merasa kehilangan arah, semoga kau tetap menemukan jalan untuk bahagia.

Dan jika semesta masih menyisakan kemungkinan, jika setelah begitu banyak perjalanan ternyata kita masih memiliki kesempatan untuk bertemu kembali, aku berharap tujuan akhir perjalananmu adalah aku.

Namun, jika ternyata bukan aku yang menjadi tempatmu pulang, tidak apa-apa.

Aku akan belajar menerima bahwa mungkin tugasku dalam hidupmu hanya sebatas menjadi seseorang yang pernah menemanimu dalam satu bagian perjalanan.

Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita ini. Aku juga tidak tahu apakah kelak kita masih akan saling menyapa atau justru menjadi dua orang yang hanya mengenal nama masing-masing.

Tetapi satu hal yang ingin kau ketahui: aku pernah begitu bahagia karena mengenalmu.

Dan jika suatu hari nanti kau bertanya apakah aku pernah benar-benar mencintaimu, jawabannya adalah iya. Bahkan mungkin lebih dalam daripada yang mampu kujelaskan melalui kata-kata.

Sani, jangan merasa bersalah jika suatu saat kau memilih pergi. Aku hanya berharap, ke mana pun kakimu melangkah, kebahagiaan selalu menemukanmu.

Sebab pada akhirnya, aku ingin melihatmu bahagia, meskipun mungkin bukan bersamaku.

**Aku akan tetap di sini, Sani. Di tempat yang sama, dengan kenangan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sama.**

Jika kau pulang, aku berharap masih menjadi seseorang yang ingin kau temui.

Jika tidak, biarkan namamu tetap menjadi salah satu cerita terindah yang pernah kutulis dalam hidupku.

Salam hangat dari seseorang yang pernah begitu dalam mencintaimu.

**Barra.**

*Epilog*

Barangkali, suatu hari Barra akan berhenti berenang. Ia akan kembali ke daratan, mengeringkan dirinya, lalu belajar menikmati lautan tanpa harus tenggelam di dalamnya.

Ia akan mengerti bahwa tidak semua orang yang datang harus menetap, tidak semua pertemuan harus berakhir dengan kepemilikan, dan tidak semua cinta harus dipaksakan menjadi selamanya.

Namun, jika ada satu hal yang tidak ingin ia lupakan, itu adalah kenyataan bahwa pernah ada seorang gadis bernama Sani yang membuat seorang laki-laki bernama Barra percaya bahwa dunia bisa terasa begitu indah hanya karena kehadiran seseorang.

Dan mungkin, itulah cinta.