Konten dari Pengguna

Lima Lebaran Tak Pulang, Apa yang Sebenarnya Dihindari Laila?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akbar Rama Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang perempuan yang terjebak antara rindu kampung halaman dan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Karya dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang perempuan yang terjebak antara rindu kampung halaman dan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Karya dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.

Lebaran identik dengan pulang kampung. Bagi banyak orang, momen ini menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, bernostalgia, dan mengobati rindu yang tertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun, tidak semua orang memandang kepulangan sebagai sesuatu yang membahagiakan. Ada kalanya kampung halaman justru menyimpan luka yang sulit disembuhkan.

Hal itulah yang tergambar dalam cerpen Lebaran Ini Pulang? karya Agus Khaidir yang terbit di Kompas.id. Cerita ini menghadirkan sosok Laila, seorang perempuan yang selama lima tahun berturut-turut selalu menemukan alasan untuk tidak pulang kampung saat Lebaran. Di balik keputusannya itu, tersimpan kenangan pahit yang terus menghantui hidupnya.

Sejak awal cerita, pembaca langsung diperkenalkan pada kegelisahan Laila. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan keluarganya melalui sambungan telepon ternyata menjadi sumber tekanan batin yang besar.

"Lebaran ini pulang?"

Kalimat pendek tersebut berulang kali muncul dan menjadi semacam teror psikologis bagi Laila. Pertanyaan yang bagi sebagian orang terdengar biasa justru memunculkan gelombang kenangan yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi, tokoh merupakan unsur penting yang menghidupkan cerita karena melalui tokohlah berbagai persoalan kehidupan ditampilkan. Tokoh tidak hanya berfungsi sebagai pelaku peristiwa, tetapi juga sebagai media penyampai konflik, gagasan, dan pengalaman manusia. Dalam cerpen ini, Laila menjadi pusat seluruh peristiwa sehingga pembaca diajak memahami dunia cerita melalui pengalaman batinnya.

Konflik yang dialami Laila bukanlah konflik fisik, melainkan konflik psikologis. Ia sebenarnya merindukan kampung halaman. Kenangan masa kecilnya dipenuhi berbagai pengalaman menyenangkan. Ia mengenang Lek Wardi, marbot masjid yang suka bercerita dengan cara jenaka kepada anak-anak. Ia mengingat perang meriam bambu pada malam Ramadhan, obor-obor yang menyala di pematang sawah, dan suasana kampung yang hangat serta penuh kebersamaan.

Namun, nostalgia itu tidak berdiri sendiri. Di balik kenangan indah tersebut terdapat luka yang jauh lebih kuat.

Puncak trauma Laila berhubungan dengan Anwar Sadat dan Marjili Samsuri, dua sahabat masa kecil yang diam-diam menyukainya. Hubungan mereka harus berakhir tragis setelah sebuah kecelakaan di jembatan gantung menyebabkan Sadat dan Marjili hanyut terbawa arus sungai hingga meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik kehidupan Laila. Sejak saat itu, kampung halaman bukan lagi sekadar tempat kelahirannya, melainkan ruang yang menyimpan rasa bersalah, kehilangan, dan trauma yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dalam pandangan Robert Stanton, tema merupakan makna utama yang menopang keseluruhan cerita. Tema tidak selalu dinyatakan secara langsung, tetapi dapat ditemukan melalui rangkaian peristiwa dan konflik yang dialami tokoh. Jika ditinjau dari teori Stanton, tema utama cerpen ini adalah tentang trauma masa lalu yang membuat seseorang sulit berdamai dengan dirinya sendiri.

Pertanyaan mengenai kepulangan sebenarnya hanya lapisan luar dari konflik yang lebih dalam. Yang sesungguhnya dihadapi Laila bukanlah persoalan jarak antara kota dan kampung, melainkan jarak antara dirinya saat ini dan kenangan yang belum mampu ia terima.

Agus Khaidir juga menunjukkan bahwa perubahan sosial di kampung turut memperkuat alasan Laila untuk menjauh. Kampung yang dahulu akrab dengan sawah, bukit, tanah lapang, dan sungai yang jernih perlahan berubah. Truk-truk pengangkut tanah datang silih berganti, bukit-bukit diratakan, sawah menyusut, dan ruang bermain masa kecil berganti menjadi perumahan.

Melalui bagian ini, cerpen tidak hanya berbicara tentang trauma personal, tetapi juga tentang hilangnya ruang-ruang kenangan akibat perubahan zaman. Kampung yang ingin dikenang Laila sebenarnya sudah tidak lagi sama seperti yang tersimpan dalam ingatannya.

Konflik batin Laila semakin terasa ketika ia berbuka puasa bersama dua sahabatnya di sebuah kafe. Di tengah percakapan ringan tentang makanan, pertunangan, dan hubungan asmara, pikirannya terus kembali pada satu pertanyaan yang sama.

"Eh, La, ngomong-ngomong lebaran ini pulang?"

Pertanyaan tersebut kembali menghantam kesadarannya. Pembaca kemudian menyadari bahwa selama ini Laila tidak sedang menghindari kampung halaman. Ia sedang menghindari kenangan yang menunggu di sana.

Kekuatan cerpen ini terletak pada cara pengarang menghadirkan konflik secara perlahan. Tidak ada ledakan emosi yang berlebihan. Sebaliknya, pembaca diajak masuk ke dalam ingatan tokoh sedikit demi sedikit hingga akhirnya memahami alasan di balik keputusannya.

Melalui kisah Laila, Agus Khaidir mengingatkan bahwa pulang tidak selalu sesederhana membeli tiket dan menyiapkan oleh-oleh. Bagi sebagian orang, pulang berarti membuka kembali lembaran hidup yang selama ini berusaha ditutup rapat. Karena itu, tidak semua kerinduan berakhir dengan kepulangan.

Pada akhir cerita, Laila kembali menghela napas panjang. Setelah lima kali Lebaran berlalu tanpa kepulangan, ia sekali lagi memilih bertahan pada jarak yang aman. Bukan karena tidak rindu, melainkan karena belum siap berdamai dengan masa lalu.

Dan mungkin, itulah alasan paling manusiawi yang bisa dimiliki seseorang untuk tidak pulang.

Daftar Pustaka

Khaidir, Agus. 2026. Lebaran Ini Pulang? Kompas.id, 14 Maret 2026.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Stanton, Robert. 2012. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.