Konten dari Pengguna

Mengapa Cerita Briting Malah Dianggap Berbahaya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akbar Rama Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana parit sawit dan perjuangan menjaga tanah leluhur. Gambar dibuat sendiri menggunakan Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana parit sawit dan perjuangan menjaga tanah leluhur. Gambar dibuat sendiri menggunakan Canva.

Di tengah derasnya pembangunan perkebunan kelapa sawit, ada suara-suara kecil yang perlahan tenggelam. Bukan hanya suara mesin yang menebang hutan, melainkan juga suara masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya. Cerpen Berlayar di Parit Sawit karya Raudal Tanjung Banua menghadirkan kenyataan tersebut melalui tokoh Briting, seorang lelaki Talang Mamak yang memilih melawan dengan cara berbeda: bercerita. Cerpen ini tidak sekadar mengisahkan konflik perebutan lahan, tetapi juga memperlihatkan pergulatan batin seseorang yang berusaha mempertahankan ingatan kolektif ketika tanah leluhur telah berubah menjadi hamparan kebun sawit.

Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tokoh merupakan pelaku yang mengemban berbagai peristiwa dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menampilkan watak tokoh sehingga pembaca memahami kepribadiannya. Tokoh tidak hanya berfungsi menggerakkan alur, tetapi juga menjadi media penyampai gagasan dan nilai yang ingin disampaikan pengarang. Melalui tokoh, pembaca diajak memahami persoalan kehidupan yang lebih luas daripada sekadar rangkaian peristiwa.

Dalam cerpen ini, Briting tampil sebagai tokoh utama yang memiliki karakter unik. Ia bukan pemimpin adat, bukan pula pejabat atau aktivis. Ia hanyalah seorang pencerita kampung yang gemar memancing. Namun justru melalui cerita-ceritanya, ia menghidupkan kembali sejarah yang mulai dilupakan masyarakat. Pengarang membangun karakter Briting secara tidak langsung melalui dialog, tindakan, dan respons tokoh lain. Cara ini membuat pembaca merasa mengenal Briting tanpa harus dijelaskan panjang lebar mengenai sifat-sifatnya.

Sejak bagian awal, Briting sudah menunjukkan pandangan hidup yang berbeda. Ia berkata,

"Percaya tak percaya, parit-parit sawit itu adalah sungai-sungai kita yang hilang, bahkan selat dan laut yang pernah diarungi nenek moyang!"

Kalimat tersebut bukan sekadar metafora. Briting sedang mengajak masyarakat melihat bahwa perubahan bentang alam bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga hilangnya sejarah, identitas, dan ingatan kolektif. Parit yang dianggap saluran air biasa ternyata menyimpan kisah panjang tentang ruang hidup masyarakat Talang Mamak.

Melalui teori penokohan Burhan Nurgiyantoro, ucapan Briting menjadi bentuk penegasan karakter. Ia digambarkan sebagai sosok yang kritis, memiliki kesadaran sejarah, sekaligus mencintai tanah kelahirannya. Ia memahami bahwa kehilangan hutan bukan hanya berarti kehilangan pepohonan, tetapi juga kehilangan hubungan manusia dengan leluhur.

Pergulatan batin Briting semakin terasa ketika masyarakat mulai mempertanyakan jalan keluar. Salah seorang tokoh bertanya,

"Tapi mengapa parit-parit itu malah menghisap habis hidup kita, Briting?"

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pusat konflik cerita. Di satu sisi, Briting sadar bahwa masyarakat sedang menderita akibat hilangnya lahan. Di sisi lain, ia juga mengetahui bahwa kemarahan yang tidak diarahkan dengan baik dapat melahirkan kekerasan baru. Karena itu, Briting tidak pernah mengajak masyarakat membalas dengan kebencian.

Sebaliknya, ia menawarkan harapan melalui tindakan kecil.

"Kita masih punya Rimba Payokumbuh, bukan? Banyak bibit pohon langka di sana. Bawa dan tanamlah sepanjang parit."

Bagi sebagian orang, usulan itu terdengar terlalu sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatan karakter Briting. Ia percaya bahwa menjaga kehidupan dapat dimulai dari menanam pohon, bukan menanam dendam. Pengarang memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus dilakukan melalui kekerasan. Ada bentuk perlawanan yang lahir dari kepedulian terhadap alam.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, tokoh yang baik mampu menampilkan konflik kejiwaan yang logis sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik setiap tindakannya. Briting memenuhi karakter tersebut. Ia tidak pernah benar-benar menyerah, tetapi juga tidak membiarkan emosinya menguasai dirinya. Ia memilih menjaga harapan meskipun keadaan terus menekan.

Konflik batin Briting mencapai puncaknya ketika tanpa sengaja ia bertemu Marjinal dan kelompok "ninja sawit" yang sedang mencuri buah sawit dari lahan perusahaan. Adegan ini menjadi bagian paling menarik dalam cerpen karena memperlihatkan benturan dua bentuk perjuangan. Marjinal memilih mengambil kembali apa yang menurutnya merupakan haknya. Sementara Briting masih percaya bahwa perjuangan tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaan.

Marjinal berkata,

"Ah, baiklah, Briting, sebutlah kami perompak, atau perampok pun tak apa, tapi ini semua demi hak!"

Dialog tersebut menunjukkan bahwa masyarakat yang kehilangan tanah akhirnya terdorong melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Namun pengarang tidak serta-merta menghakimi mereka. Pembaca justru diajak memahami alasan mengapa tindakan itu terjadi. Kehilangan ruang hidup telah mengubah korban menjadi orang yang dianggap pelaku.

Di sinilah tokoh Briting mengalami pergulatan batin paling besar. Cerita-cerita yang selama ini ia sampaikan ternyata ditafsirkan berbeda oleh masyarakat. Ia ingin membangkitkan kesadaran, tetapi sebagian orang memilih jalan perlawanan melalui pencurian sawit. Briting tidak pernah menghendaki hal itu. Konflik tersebut memperlihatkan bahwa sebuah gagasan bisa berkembang di luar kehendak penciptanya.

Klimaks cerita hadir ketika aparat keamanan menangkap Briting. Ironisnya, ia justru dituduh menjadi penghasut.

"Bapak juga suka menghasut warga dengan cerita-cerita provokatif!"

Adegan tersebut memperlihatkan bagaimana cerita dapat dianggap lebih berbahaya daripada senjata. Briting tidak memegang parang ataupun senapan. Ia hanya membawa cerita, tetapi cerita itulah yang dianggap mengancam kepentingan perusahaan. Pengarang seolah ingin mengatakan bahwa kekuatan kata-kata sering kali lebih ditakuti daripada kekuatan fisik.

Sikap Briting ketika ditangkap memperlihatkan wataknya yang tetap teguh. Ia tidak menyangkal identitasnya sebagai orang Talang Mamak.

"Iya, bahkan jauh sebelum kebun ini ada."

Jawaban singkat itu menyimpan makna yang sangat dalam. Briting sedang menegaskan bahwa masyarakat adat telah hidup di wilayah tersebut jauh sebelum perusahaan datang. Dengan kata lain, sejarah masyarakat tidak bisa dihapus hanya karena perubahan status kepemilikan lahan.

Pada bagian akhir, Briting ditemukan terdampar di Rimba Payokumbuh dalam keadaan hampir tak bernyawa. Pengarang menulis,

"Tangannya mengeras bagai sepasang dayung. Tapi dadanya masih berdenyut bagai tembolok seekor burung."

Penggambaran tersebut sangat simbolis. Dayung melambangkan perjuangan yang belum selesai, sedangkan denyut dada menjadi tanda bahwa harapan masih hidup. Briting memang hampir kehilangan segalanya, tetapi semangatnya tidak ikut tenggelam bersama derasnya banjir.

Cerpen ini menunjukkan bahwa tokoh utama tidak selalu menang secara fisik. Briting tidak berhasil mengembalikan tanah leluhur, tidak menghentikan perusahaan, bahkan nyaris kehilangan nyawanya. Akan tetapi, ia berhasil menjaga sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu ingatan. Selama masyarakat masih mengingat bahwa parit dahulu adalah sungai, maka sejarah mereka belum benar-benar hilang.

Menurut pandangan saya, kekuatan terbesar cerpen ini justru terletak pada keberanian pengarang menjadikan seorang pencerita sebagai tokoh utama. Biasanya tokoh perlawanan digambarkan sebagai aktivis atau pemimpin gerakan. Namun Raudal Tanjung Banua memilih sosok sederhana yang melawan dengan cerita. Pilihan ini membuat cerpen terasa lebih menyentuh karena memperlihatkan bahwa menjaga ingatan adalah bentuk perjuangan yang sama pentingnya dengan mempertahankan tanah.

Cerpen ini juga sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Konflik antara pembangunan, investasi, dan masyarakat adat masih sering terjadi di berbagai daerah. Banyak hutan berubah menjadi kawasan industri atau perkebunan, sementara masyarakat yang telah lama tinggal di sana justru kehilangan hak atas tanahnya sendiri. Dalam situasi seperti itu, kisah Briting menjadi pengingat bahwa pembangunan seharusnya tidak menghapus sejarah dan identitas masyarakat yang lebih dahulu hidup di suatu wilayah.

Lebih jauh lagi, Berlayar di Parit Sawit mengajak pembaca memahami bahwa alam bukan sekadar sumber ekonomi. Hutan, sungai, dan tanah merupakan bagian dari identitas suatu komunitas. Ketika alam dirusak, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga cerita, tradisi, dan hubungan manusia dengan leluhurnya. Karena itu, menjaga lingkungan berarti sekaligus menjaga sejarah.

Pada akhirnya, Briting mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang tidak berhenti mengingat. Selama masih ada orang yang menanam pohon, menjaga cerita, dan mewariskan sejarah kepada generasi berikutnya, harapan akan selalu menemukan jalannya. Cerpen ini bukan hanya kisah tentang masyarakat Talang Mamak, melainkan cermin bagi kita semua agar tidak membiarkan kemajuan menghapus akar yang membentuk jati diri bangsa.

Daftar Pustaka

Banua, Raudal Tanjung. 2026. "Berlayar di Parit Sawit." Harian Kompas, 4 April 2026, hlm. 10.

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.