Konten dari Pengguna

Jadi Atlet, Prestasi atau Ekspektasi?

Derliana Octavia

Derliana Octavia

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Derliana Octavia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
sumber: dokumen pribadi.

Apakah kamu senang ketika atlet favoritmu menang? Akan tetapi, bagaimana jika atlet favoritmu mengalami kekalahan? Apakah kamu tetap mendukung atau justru merundung?

Menjadi seorang atlet tentu tidak mudah. Banyak pengorbanan yang harus dilakukan, seperti intensitas latihan yang tinggi, tuntutan untuk memiliki tubuh yang proporsional, serta waktu bermain yang harus direlakan. Tidak sedikit yang gugur karena cedera, tidak lolos seleksi berkali-kali, dan banyak faktor yang membuat para atlet gagal dalam melanjutkan mimpinya.

Ketika seorang atlet berhasil menjuarai suatu pertandingan, tentu melahirkan kesenangan dan kepuasan pada diri atlet tersebut. Akan tetapi, saat berhadapan dengan kekalahan, seorang atlet pasti mengalami kekecewaan yang mendalam.

Nahasnya, saat seorang atlet kalah banyak ucapan ataupun desas-desus yang menyatakan, “Dih, gitu aja kalah.” “Kan udah latihan tiap hari, kok masih aja kalah, sih?” “Ah, padahal lawannya biasa-biasa aja.” Dan masih banyak yang lainnya.

Belum lagi yang dilontarkan lewat media sosial. Banyak sekali komentar-komentar jahat yang membuat atlet tersebut merasa bersalah terhadap kegagalan yang ia alami padahal sebuah kegagalan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam suatu pertandingan.

Bagaimana Dampak Komentar-Komentar Itu terhadap Atlet?

sumber: dokumen pribadi

Sebagai suporter, kita pasti merasa sedih dan kecewa melihat atlet favorit kita mengalami kekalahan. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa para atlet pasti jauh lebih kecewa dibanding dengan apa yang kita rasakan? Banyak komentar-komentar jahat yang dilontarkan begitu saja dengan dalih mengkritik kinerja atlet.

Faktanya, komentar-komentar tersebut disampaikan dengan cara yang kasar dan mencemooh yang membuat para atlet mendapat tekanan yang besar untuk bisa memenangkan pertandingan selanjutnya. Berikut merupakan dampak dari komentar-komentar jahat terhadap pribadi seorang atlet:

  1. Merasa down, murung, dan stres.

  2. Malu karena tidak memenuhi ekspektasi khalayak ramai.

  3. Dihantui kecemasan yang besar untuk bisa berhasil pada pertandingan selanjutnya.

  4. Menjadi mudah tersinggung dan tidak percaya diri.

Dilansir dari Indonesian Journal for Physical Education and Sport, komentar-komentar jahat yang diberikan tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis atlet saja. Namun, berdampak pada kesehatan fisik atlet tersebut, seperti selera makan yang hilang, sulit tidur, kondisi pencernaan dan jantung yang berdebar. Hal-hal itu dapat berpengaruh terhadap metabolisme dalam tubuh si atlet.

Menurut Jurnal Pendidikan Mandala, kecemasan dapat memengaruhi performa atau konsentrasi atlet. Semakin tinggi kecemasan pada diri seorang atlet maka semakin rendah tingkat konsentrasi atlet tersebut. Kegairahan dan keadaan gelisah (state anxiety) yang tinggi dapat menyebabkan tekanan otot dan kelelahan yang tinggi juga sehingga memengaruhi koordinasi pada tubuh seorang atlet. Secara sederhana, anxiety memberi dampak yang sangat besar bagi atlet apabila atlet tersebut tidak mengetahui cara menanganinya.

Terus, Bagaimana, Sih, Cara yang Dapat Dilakukan Atlet agar Tetap Fokus dan Berprestasi?

Seorang atlet yang punya mental juara itu harus tau tips and trick dalam menangani keadaan sekitarnya, loh! Terutama kondisi psikologisnya dalam menyikapi hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Yuk, simak tips and trick berikut ini!

Jadikan komentar-komentar jahat sebagai motivasi

Daripada memandang komentar-komentar jahat sebagai hal yang negatif, lebih baik jadikan komentar tersebut sebagai motivasi untuk menampilkan yang terbaik di pertandingan selanjutnya. Dengan demikian, atlet mampu mengeluarkan kemampuan maksimalnya dengan taktik dan strategi yang sudah dilatih.

Fokus pada pertandingan bukan kemenangan

Saat bertanding, usahakan untuk fokus pada pertandingan. Jika yang terus dipikirkan adalah kemenangan maka akan berdampak pada atlet sebagai beban dan ekspektasi yang harus dipenuhi. Hal tersebut dapat memengaruhi performance atlet secara keseluruhan.

Terus bergerak

Bergerak dengan aktif bisa bermanfaat untuk mengurangi kecemasan, loh! Saat seorang atlet banyak bergerak, hal itu dapat mengalihkan perhatian dari rasa nervous-nya. Dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu, seorang atlet dapat menyiapkan otot dan juga menyiapkan mental agar tidak nervous. Walaupun begitu, saat menggerakkan otot dapat membatu mengurangi rasa cemas.

Lakukan law of attraction

Law of attraction adalah sugesti positif yang diyakini mampu mewujudkan hal-hal yang kita inginkan. Law of attraction bisa dilakukan dengan berbicara pada diri sendiri, seperti “Saya pasti bisa melawan dia!” “Saya pasti memenangkan pertandingan ini.” Dan lain-lain.

sumber: dokumen pribadi

Menjadi atlet memang tidak mudah. Saat memenangkan pertandingan, atlet akan dianggap sebagai seorang yang berprestasi. Akan tetapi, saat mengalami kekalahan, atlet akan banyak mendapat lontaran-lontaran kekecewaan dari ekspektasi pendukungnya.

Untuk itu, jadilah atlet yang bijak secara emosi karena dapat memengaruhi performa dalam pertandingan. Fokus terhadap apa yang sudah dilatih agar bisa tampil maksimal daripada fokus terhadap kemenangan yang dapat membuat atlet tidak menikmati jalannya pertandingan.