Indahnya Parenting VOC di Masa Kini: Benarkah Masih Relevan?

Sebagai Mahasiwa Universitas Muhammadiyah Surabaya, fakultas Hukum. Minat pada literatur dan membaca buku, perlawanan atas hak yang di rebut tidak harus turun langsung ke lapangan, mulailah dengan catatan-catatan atau bacaan kecil.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Derrel Terecio Orestes tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali kita mendengar bahwa langkah penting untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan tenang adalah memaafkan diri sendiri. Ibarat manusia terikat tali dengan pintu: Ketika tali itu diputus, maka engkau bisa lebih mudah berjalan ke depan. Gambaran sederhana ini menjelaskan bahwa kita sebagai manusia perlu memaafkan kejadian masa lampau yang sering muncul dalam pikiran sehari hari.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering muncul: Apakah ada “saudara dekat” dari memaafkan diri? Misalnya, memaafkan orang lain.
Penafsiran hal tersebut tentu berbeda-beda setiap orang. Bagi saya pribadi, seseorang harus memaafkan diri terlebih dahulu, baru kemudian memaafkan perlakuan orang di masa lampau. Tapi nyatanya, proses kedua hal tersebut tidaklah mudah. Seringkali orang-orang tertentu merasa memaafkan diri sendiri adalah mudah dibandingkan dengan memaafkan orang lain, begitu pula sebaliknya. Bagaimana jika memaafkan diri sendiri ternyata jauh lebih sulit? Padahal secara lubuk hati sudah berkata bahwa “Saya sudah memutar video TikTok tentang cara memaafkan diri”.
Jika melihat lingkungan sehari-hari, parenting atau keluarga merupakan salah satu faktor utamanya dalam hal memaafkan diri sendiri. Sering kali, seorang anak mendapat judgment terlebih dahulu ketika mereka menceritakan kesalahan atau keputusan yang mereka buat. Pada akhirnya judgment kerap menjadi santapan terlebih dahulu dan solusi menjadi pilihan terakhir dalam komunikasi.
Akibatnya, seorang anak tumbuh menjadi perfeksionis, ingin terlihat sempurna di hadapan semua orang, termasuk pada pasangan di masa depan. Anak menjadi sulit mencari tempat bercerita, kedamaian hati, teman yang setia dan sulit memiliki kontrol atas pikirannya sendiri.
Dalam hal memaafkan diri sendiri, anak seperti ini akan lebih sulit menerima fakta dan sulit berdamai dengan kesalahannya. Menjadi mudah tersinggung terutama dalam kegiatan bersosialisasi. Kebanyakan orang tua yang menerapkan tipe parenting ala VOC justru memperjelas atau pembenaran terhadap argumen dan pola asuh pilihan mereka, seperti:
“Dia pantas mendapatkan ini, karena kebiasaan dan perilaku di rumah sehari-hari”
“Dia patut mendapatkan ini karena berada di zaman yang penuh dengan kemanjaan, sehingga untuk menghindari dan agar berperilaku kuat, maka diterapkan pola asuh VOC”
“Anak saya patut mendapatkan ini, karena nantinya kami takut, masa lalu atas perbuatan kami akan menimpa lagi pada keturunan atau anak saya lagi”.
Pola asuh seperti ini tepat jika penerapannya diberikan pada usia tertentu. Pada masa awal kanak-kanak sampai transisi menuju masa remaja. Di usia remaja ini, sang anak seharusnya menjadi sahabat bagi orang tua, bukan tetap bersikukuh untuk menerapkan pola asuh VOC, di mana sang anak berhak untuk mendapatkan tempat hangat dan aspirasi serta dukungan emosional dari orang tua mereka. Benar parenting VOC membuat anak tangguh, kuat, dan tahan banting. Akan tetapi, akankah luka di masa lalu mereka akan sembuh? Apakah anggapan bahwa sang anak tidak akan mewariskan luka atau sifat buruk orang tuanya akan selesai di sini?.
Sumber foto: Pexels/Pixabay
Link: Grandmother and Grandfather Holding Child on Their Lap · Free Stock Photo
